Perbedaan Pernyataan Trump dan Menteri Pertahanan AS tentang Serangan Israel ke Ladang Gas Iran

Perbedaan Pendapat Antara Trump dan Hegseth Terkait Serangan Israel ke Ladang Gas Iran

Perbedaan pendapat yang tajam terjadi antara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dengan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengenai serangan Israel terhadap ladang gas milik Iran, South Pars. Persoalan ini memicu ketegangan di Gedung Putih, karena masing-masing pihak memiliki pandangan yang berbeda terkait dampak dari aksi tersebut.

Trump sebelumnya meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menghentikan serangan tersebut guna mencegah krisis ekonomi global yang semakin memburuk. Langkah ini dilakukan setelah terjadinya aksi saling balas antara Israel dan Iran di sektor energi, yang menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas dunia secara drastis. Trump menegaskan bahwa ia sudah memberi peringatan kepada Netanyahu agar tidak melakukan hal itu lagi.

“Kami sudah bilang ke dia (Netanyahu), ‘Jangan lakukan itu lagi’, dan dia tidak akan melakukannya,” ujar Trump, seperti dikutip oleh beberapa sumber media.

Namun, di sisi lain, Hegseth menilai bahwa serangan Israel terhadap ladang gas South Pars merupakan pesan peringatan nyata bagi Iran agar berhenti menyabotase jalur energi di kawasan Teluk. Ia juga mengungkapkan bahwa AS tidak akan ragu-ragu meluncurkan “paket serangan terbesar” jika Iran terus melanjutkan aksi balas dendam yang menyebabkan harga minyak dunia meroket.

“Iran sudah terlalu lama menjadikan energi sebagai senjata untuk mengancam dunia. Presiden Trump sudah sangat jelas dalam hal ini: berhenti sekarang, atau hadapi konsekuensi yang lebih besar,” tegas Hegseth, mengutip laporan dari The Times of Israel.

Serangan Balasan Iran Memperparah Kekacauan

Serangan Israel ke fasilitas gas South Pars milik Iran ternyata tidak hanya membuat gejolak di Gedung Putih, tetapi juga memicu reaksi balasan dari Iran. Baru-baru ini, Iran membalas serangan Israel dengan menghantam pusat industri Ras Laffan di Qatar. Fasilitas tersebut merupakan urat nadi pasokan gas alam cair (LNG) dunia, dan kerusakannya diperkirakan sangat parah hingga butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Tidak hanya itu, pelabuhan utama Arab Saudi di Laut Merah juga ikut menjadi sasaran. Jalur ini menjadi alternatif utama sejak Iran menutup Selat Hormuz. Hal ini membuktikan bahwa sistem pertahanan udara secanggih apa pun masih kesulitan membendung serangan balasan Teheran terhadap aset-aset energi strategis.

Hubungan Trump dan Netanyahu Memanas

Kini, hubungan antara Trump dengan Netanyahu memanas setelah serangan Israel di South Pars membuat harga BBM naik tajam. Meski sebelumnya terlihat kompak dalam operasi militer melawan Iran, Trump tiba-tiba melontarkan pernyataan mengejutkan dengan membantah keterlibatan AS dalam serangan udara Israel ke fasilitas gas South Pars di Iran, Rabu (18/3/2026).

Padahal, hanya beberapa saat setelah serangan terjadi, Trump sempat sesumbar di media sosial Truth Social bahwa pihaknya akan “membuat Iran bangkrut”. Namun, sikap itu berubah drastis setelah Iran meluncurkan serangan balasan ke Qatar yang memicu lonjakan harga minyak global hingga menyentuh angka 118 dolar AS per barel.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan bahwa AS sama sekali tidak tahu-menahu soal serangan ke ladang gas terbesar di dunia tersebut. Ia bahkan memberikan “perintah” terbuka agar Israel tidak lagi menyasar fasilitas energi Iran demi menjaga stabilitas harga bahan bakar dan keamanan sekutu di Teluk, khususnya Qatar.

“Saya sudah bilang ke Bibi (Netanyahu) jangan lakukan itu, dan dia setuju,” cetus Trump kepada CNN.

Bantahan Trump Berbanding Terbalik dengan Pengakuan Israel

Sementara itu, bantahan Trump ini berbanding terbalik dengan pengakuan pejabat internal Israel. Sumber militer Israel menyebutkan bahwa setiap langkah dalam kampanye militer ini, termasuk serangan ke South Pars, selalu dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Washington.

Analisis menyebutkan bahwa “aksi cuci tangan” Trump ini dipicu oleh tekanan domestik di AS. Rakyat Amerika mulai gerah dengan melambungnya harga BBM di pompa-pompa bensin akibat perang yang sudah berlangsung selama 20 hari ini. Strategi Trump kini diduga bergeser: ia ingin segera mengakhiri perang secara mendadak demi mengamankan stabilitas ekonomi dalam negeri, meskipun Israel mungkin ingin melangkah lebih jauh.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *