Upie Guava Tanggapi Isu Pelangi di Mars dengan AI dan Tuduhan Buzzer

Pelangi di Mars: Dibalik Isu dan Klarifikasi Sutradara

Film Pelangi di Mars menjadi salah satu yang tayang di bioskop pada masa libur Lebaran 2026. Namun, penayangan film ini justru menimbulkan berbagai isu, mulai dari penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) hingga tuduhan pengerahan buzzer untuk mempromosikan film. Hal ini membuat publik ramai membicarakan film tersebut.

Setelah isu-isu tersebut muncul, sutradara Upie Guava memberikan klarifikasi melalui unggahan di Instagram. Berikut beberapa poin penting dari pernyataannya:

1. Pengakuan tentang Penggunaan AI dalam Pembuatan Film

Mengenai isu penggunaan AI, Upie tidak menampik bahwa teknologi canggih seperti AI kini hadir dalam berbagai bentuk di hampir semua perangkat teknologi yang digunakan oleh timnya dalam penggarapan film ini. Meskipun demikian, ia tetap menegaskan bahwa AI tidak akan bisa menggantikan manusia sepenuhnya dalam menciptakan sebuah film.

Proses produksi Pelangi di Mars tetap dikerjakan oleh kreator dengan mengombinasikan berbagai pendekatan produksi dan teknologi canggih. Proses penggarapannya diketahui telah dimulai sejak tahun 2020.

“Kami menggabungkan berbagai pendekatan produksi dan teknologi, termasuk virtual production dan XR (extended reality), motion capture (mocap), Unreal Engine, serta integrasi live-action dan animasi. Seluruh proses ini tetap digerakkan oleh manusia – oleh ide, rasa, dan dedikasi dari para kreator yang terlibat selama bertahun-tahun,” tulisnya.

Bagi Upie, teknologi yang digunakan dalam pembuatan film ini tidak bertujuan untuk menggantikan manusia atau membunuh kreativitas. Sebaliknya, ia menyebut teknologi itu dapat dimanfaatkan agar manusia dapat berkarya lebih jauh.

2. Kerja Sama dengan RANS di Tahap Post-Production

Selain soal AI, Upie juga menjelaskan keterlibatan perusahaan hiburan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, RANS, dalam film Pelangi di Mars. Ia bercerita bahwa proses kerja sama baru terjadi setelah film tersebut memasuki tahap post-production.

Menurutnya, hal ini merupakan hal yang lazim terjadi dalam industri perfilman. “Setelah film selesai lebih dari 80% dan memasuki tahap post-production, MBK Production, ANZ, PFN, dan RANS bergabung, dalam rentang waktu sejak Mei 2025 hingga Desember 2025. Kolaborasi seperti ini merupakan praktik yang lazim dalam industri film, di mana berbagai pihak dengan visi yang sama bersatu untuk mewujudkan sebuah karya,” terang Upie.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi adalah fondasi penting dalam membangun ekosistem industri film Indonesia yang lebih kuat.

3. Penjelasan Soal Buzzer

Mengenai tudingan buzzer, Upie menegaskan bahwa tidak ada strategi jangka pendek yang bisa menggantikan keputusan penonton. Apalagi, ia mengaku bahwa pihaknya percaya faktor utama keberhasilan sebuah film di bioskop ada di tangan para penonton organik.

“Bagi kami, hubungan terbaik antara sebuah film dan penontonnya adalah hubungan yang dibangun melalui pengalaman jujur, bukan karena dorongan sesaat,” imbuhnya.

Tanggapan dan Harapan Upie

Meski banyak isu yang menghampiri Pelangi di Mars, Upie menyebut bahwa film ini bukan sekadar film pertama yang penuh dengan kekurangan. Ia menilai kehadiran film ini sebagai langkah pertama dari sebuah perubahan agar pelaku industri kreatif dapat naik kelas.

“Buatlah isu sesukamu tentang kami. Artinya, langkah kami cukup penting bagimu. Karena kami berjuang untuk mereka-mereka yang selama ini hanya dimanfaatkan, dipaksa berkarya, lalu ditenggelamkan oleh cahaya gemerlapmu. Kami berjuang untuk para penerus kami. Untuk mereka yang selama ini tidak tahu harus melangkah ke mana,” ujarnya dalam unggahan berbeda.

Data dan Sinopsis Film

Berdasarkan data Cinepoint, film Pelangi di Mars telah mengumpulkan jumlah penonton sebanyak 85.587 setelah tayang perdana di bioskop secara resmi pada 18 Maret 2026. Kisahnya mengikuti Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars, memulai petualangan menegangkan bersama sahabatnya untuk menemukan Zeolit Omega untuk dibawa pulang ke Bumi.





Review dan Perkembangan Film

Film Pelangi di Mars juga mendapat review positif dari berbagai kalangan. Beberapa orang menyebut bahwa film ini berhasil menghidupkan nostalgia sci-fi milenial. Selain itu, sutradara juga mengungkapkan rencana untuk membuat universe Pelangi di Mars, termasuk sekuel hingga IP (Intellectual Property).

Tim Pelangi di Mars bahkan sampai belajar mandiri dari YouTube demi memastikan kualitas film yang maksimal. Ini menunjukkan komitmen dan dedikasi tinggi dari seluruh pihak terlibat.

Exit mobile version