Bisnis  

Sentimen Timur Tengah dan Dividen Emiten Dongkrak Penguatan IHSG



Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan signifikan sebesar 2,02 persen pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (10/4). Kenaikan ini didorong oleh sentimen positif global yang terkait dengan meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

IHSG berhasil naik sebanyak 147,868 poin, mencapai level 7.455,458. Sementara itu, indeks LQ45 juga menguat sebesar 1,54 persen, berada di posisi 745,205. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 470 saham menguat, 177 saham melemah, dan 168 saham stagnan. Total nilai transaksi pasar mencapai Rp 9,456 triliun.

Menurut Maybank Global Market Economist, Myrdal Gunarto, kenaikan IHSG sejalan dengan perbaikan kondisi pasar keuangan global. Salah satu faktor utama adalah pengurangan kekhawatiran terkait konflik di Timur Tengah.

“Penguatan IHSG mengikuti perkembangan pasar keuangan global yang juga menguat. Rupiah juga terkena dampaknya, karena AS tidak ingin Selat Hormuz ditutup dalam jangka panjang,” ujar Gunarto.

Ia menjelaskan bahwa investor merespons positif sinyal bahwa konflik tidak akan berkepanjangan, terutama terkait potensi penutupan Selat Hormuz yang dikhawatirkan bisa memicu lonjakan harga minyak.

“AS khawatir penutupan Selat Hormuz bisa memberikan dampak negatif bagi ekonomi mereka, terutama dari lonjakan harga minyak,” kata Gunarto.

“Sehingga saat ada sinyal bahwa Donald Trump ingin melakukan gencatan senjata, pasar melihat kemungkinan perang akan segera berakhir, termasuk penutupan Selat Hormuz yang tidak akan berlangsung lebih lama lagi,” tambahnya.

Dari sisi domestik, kondisi ekonomi yang stabil turut mendukung penguatan IHSG. Menurut Gunarto, fundamental fiskal Indonesia tetap terkendali meskipun sedang menghadapi situasi perang di Timur Tengah.

“Secara domestik, IHSG masih positif karena kondisi kita baik dari sisi aspek fiskal yang masih dapat dikelola,” ujarnya.

Gunarto menilai upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi dan impor menjadi faktor penting. Selain itu, momentum pembagian dividen juga turut mendorong aksi beli di pasar saham.

“Karena itu, IHSG saat ini memiliki momentum positif, dan banyak investor melakukan aksi buy on weakness terutama untuk emiten-emiten yang akan membayar dividen,” tutur Gunarto.

Berdasarkan data Stockbit, beberapa emiten yang akan membagikan dividen pada bulan April 2026 antara lain SIDO, BNLI, ROTI, CNMA, ADMF, MEGA, TEBE, WOMF, dan BDMN.



Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menambahkan bahwa deeskalasi konflik di Timur Tengah menjadi katalis utama penguatan pasar.

“IHSG mendapat sentimen positif dari deeskalasi geopolitik, khususnya antara AS-Israel vs Iran, serta antara Israel vs Lebanon,” kata Nafan.

Ia juga menyoroti faktor eksternal lain seperti inflasi AS yang mulai terkendali dan harapan pelonggaran kebijakan moneter.

“Kita juga menantikan sikap The Fed selanjutnya. Mudah-mudahan ada petunjuk tentang penurunan suku bunga, meski inflasi AS masih tinggi, di atas target The Fed,” ujarnya.

“Lalu, risk appetite juga meningkat. Di sisi domestik, rupiah masih stabil meskipun berada di kisaran Rp 17.000-an,” tambahnya.

Exit mobile version