Kisah Taufik Rahman, Mahasiswa S3 UIN Antasari yang Meninggal Sebelum Wisuda, Ijazah Diterima Istri

Kisah Taufik Rahman: Dari Keberhasilan Akademis Hingga Penghormatan Terakhir di Wisuda

Taufik Rahman, seorang mahasiswa program doktoral di Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, meninggal dunia sebelum sempat merayakan momen kelulusannya. Kepergiannya terjadi saat ia berada di tahap akhir studi doktoral, yang membuatnya tidak bisa menghadiri prosesi wisuda. Namun, perjuangannya dalam menempuh pendidikan tetap dihormati oleh kampus dan keluarga.

Ketika hari wisuda tiba, suasana yang biasanya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi penuh haru. Para hadirin terlihat sedih ketika nama Taufik Rahman dipanggil sebagai salah satu wisudawan Program Doktor Pendidikan Agama Islam. Kehadirannya yang seharusnya membanggakan kampus tidak terlihat, karena ia telah lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Sebagai gantinya, sang istri melangkah menuju panggung untuk menerima ijazah yang telah diperjuangkannya selama ini. Langkah yang tenang namun penuh kesedihan itu menjadi simbol penghormatan terakhir bagi seorang pendidik yang telah berjuang hingga akhir. Istri Taufik menerima ijazah tersebut atas nama almarhum suaminya, yang wafat pada 3 Juli 2025, hanya beberapa saat sebelum perjuangan akademiknya mencapai garis akhir.

Ijazah Diterima Istri: Simbol Penghormatan Terakhir

Prosesi penyerahan ijazah menjadi momen yang sangat emosional bagi para hadirin. Momen tersebut tidak hanya menjadi pengingat akan perjuangan Taufik Rahman dalam menempuh pendidikan, tetapi juga menjadi simbol kuatnya cinta, pengorbanan, dan ketulusan dalam sebuah perjalanan akademis.

Di hadapan Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd., ijazah tersebut akhirnya diserahkan kepada keluarga. Prosesi ini menjadi puncak penghormatan bagi Taufik Rahman, yang wafat sebelum sempat merasakan momen kelulusannya sendiri. Meski tidak lagi hadir secara fisik, pihak universitas tetap menganugerahkan gelar doktor melalui mekanisme Ujian Terbuka Kehormatan (Posthumous) yang dilaksanakan pada 26 Agustus lalu.

Penganugerahan gelar ini diberikan karena disertasi almarhum telah diselesaikan sepenuhnya sebelum ia berpulang. Disertasi dengan judul “Integrasi Dimensi Fikih dan Tasawuf dalam Pendidikan Salat pada Pondok Pesantren di Kalimantan Selatan” menjadi warisan intelektual terakhirnya, buah dari perjalanan panjang menempuh studi doktoral sejak tahun 2018 melalui dukungan beasiswa Yayasan 69 H. Maming.

Jejak Pendidikan Taufik Rahman

Semasa hidupnya, almarhum Taufik dikenal sebagai sosok pendidik dengan rekam jejak prestasi yang membanggakan. Ketika menempuh pendidikan magister (S-2), ia pernah ditetapkan sebagai Wisudawan Terbaik Pascasarjana UIN Antasari pada tahun 2015. Prestasinya tidak berhenti di sana. Ia juga berhasil meraih gelar Juara Guru Berprestasi tingkat kota dan provinsi, serta aktif berkontribusi sebagai Dewan Hakim MTQ Kota Banjarmasin.

Sebelum wafat, Taufik mengemban amanah sebagai Kepala MTs Siti Maryam Banjarmasin untuk periode 2022–2025. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan pendidikan yang mengenalnya sebagai sosok tekun dan berdedikasi.

Wisuda yang Penuh Haru

Tidak hanya Taufik Rahman, wisuda kali ini juga diliputi rasa haru atas kepergian Khairun Nisa, mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, yang juga telah berpulang sebelum berkesempatan mengikuti prosesi kelulusannya. Kepergian dua insan akademik tersebut menjadi pengingat mendalam bagi seluruh civitas academica yang hadir.

Pada prosesi wisuda tersebut, sebanyak 576 lulusan dikukuhkan. Jumlah itu mencakup 42 wisudawan program Magister serta ratusan sarjana dari berbagai fakultas. Di tengah sukacita kelulusan, kisah Taufik Rahman dan Khairun Nisa menguatkan makna bahwa perjalanan ilmu tidak pernah benar-benar berakhir, sekalipun pemiliknya telah tiada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *