Wilayah Jawa Barat Rentan Bencana Alam
Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat rentan terhadap bencana alam. Topografi yang beragam, mulai dari pegunungan, dataran rendah, hingga garis pantai, ditambah dengan perubahan iklim global dan curah hujan ekstrem, membuat provinsi ini menghadapi berbagai jenis bencana sepanjang tahun 2025.
Bencana-bencana yang terjadi di Jawa Barat meliputi banjir, tanah longsor, puting beliung, abrasi pantai, hingga gempa bumi berskala kecil hingga sedang. Beberapa di antaranya berskala besar dan berdampak luas bagi masyarakat, infrastruktur, dan perekonomian.
Kabupaten Bogor termasuk salah satu daerah yang rawan bencana di Jawa Barat. Pada 2025, dari rentang Januari hingga November, tercatat ada 1.652 kejadian bencana alam terjadi di Kabupaten Bogor. Menurut Ketua Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Ade Hasrat, angin kencang mendominasi kejadian bencana alam di Kabupaten Bogor sepanjang tahun 2025, dengan total 817 kejadian, yang tersebar di 40 kecamatan. Sementara itu, bencana tanah longsor terjadi 536 kejadian, tersebar di beberapa wilayah. Disusul dengan bencana banjir dengan total 152 kejadian.
Di Kabupaten Karawang, bencana banjir, baik itu akibat luapan sungai atau air laut pasang (rob), menjadi bencana yang kerap terjadi di wilayah Kabupaten Karawang sepanjang 2025. Upaya penanganan dari pemerintah daerah (pemda) setempat belum mampu mengatasi bencana yang menjadi momok ribuan masyarakat tersebut. Kendati belum ada data resmi dari pihak BPBD, bencana banjir pada umumnya sering terjadi di wilayah Karawang bagian tengah dan bagian utara.
”Yang pasti, bencana banjir akibat luapan sungai kerap melanda Kecamatan Telukjambe Barat, tepatnya Desa Karangligar dan Sukamakmur. Kemudian Kecamatan Karawang Timur dan Karawang Barat, yang memang dilintasi sungai besar, yakni Citarum dan Cibeet,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Karawang Usep Supriatna.
Dia menjelaskan, setiap Sungai Citarum dan Sungai Cibeet meluap, ada ribuan warga Karangligar yang terdampak banjir. Mereka terpaksa harus mengungsi ke tempat yang aman. Bencana tersebut nyaris terjadi setiap musim penghujan tiba, yakni mulai Agustus hingga Februari tahun berikutnya. Artinya, warga menikmati ketenangan tinggal di rumah hanya beberapa bulan saja, dari Maret hingga Juli.
Banjir akibat luapan sungai pada 2025 juga menerjang Kecamatan Cikampek dan Kecamatan Purwasari. Banjir yang terjadi merupakan kiriman dari wilayah Purwakarta yang sebelumnya diguyur hujan lebat.
Sementara itu, banjir akibat rob kerap melanda Kecamatan Cibuaya, Kecamatan Cilebar, Kecamatan Tirtajaya, dan Kecamatan Cilamaya Wetan. Ada beberapa desa di Karawang yang menjadi langganan banjir rob, di antaranya Desa Tambaksari, Kecamatan Tirtajaya; Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya; Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar; Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran; Desa Tengkolak Barat dan Desa Tengkolak Timur, Kecamatan Cilamaya Wetan.
Dia menyebutkan, banjir rob mulai melanda pesisir Karawang sejak 16 Agustus 2025. Hingga kini, banjir rob masih menghantui warga pesisir karena bisa datang secara tiba-tiba.
Kabupaten Cianjur Juga Rawan Bencana
Sementara itu, BPBD Kabupaten Cianjur melaporkan catatan kritis mengenai kondisi kebencanaan di wilayahnya sepanjang periode Januari hingga November 2025. Dalam kurun waktu sebelas bulan tersebut, tercatat terjadi 228 kali kejadian alam yang melanda berbagai titik di Kabupaten Cianjur.
Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur Asep Sudrajat mengatakan, secara risiko, Cianjur menempati posisi yang sangat rawan di tingkat provinsi. ”Cianjur itu nomor dua di Jawa Barat untuk risiko bencana, setelah Sukabumi,” ujarnya, dikonfirmasi di Kantor BPBD Kabupaten Cianjur, Selasa 30 Desember 2025.
Asep mengatakan, berdasarkan data rekapitulasi dari Januari hingga 30 November 2025, tanah longsor atau pergerakan tanah menjadi jenis kejadian yang paling sering terjadi dengan total 120 kejadian. Posisi kedua ditempati oleh cuaca ekstrem sebanyak 65 kejadian, diikuti oleh bencana banjir sebanyak 43 kejadian.
Bencana Terburuk di Kabupaten Cirebon
Sementara itu, Kabupaten Cirebon mengalami bencana yang dinilai terburuk di pekan-pekan terakhir tahun 2025 ini. Kecamatan Sumber, ibu kota atau pusat pemerintahan daerah tersebut, tiba-tiba diterjang banjir bandang. ”Ini banjir yang di luar perkiraan sama sekali,” ujar Bupati Cirebon Imron Rosyadi, Selasa 30 Desember 2025.
Untuk pertama kalinya, banjir bandang menerjang Sumber yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat perekonomian Kabupaten Cirebon. Banjir bandang ini berasal dari sejumlah sungai di wilayah hulu di perbukitan lereng Gunung Ciremai di Kuningan yang meluap dalam waktu bersamaan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Ikin Asikin mengatakan, dalam sepekan, terjadi rentetan bencana hidrometerologi di berbagai wilayah di Kabupaten Cirebon. ”Peristiwa bencana sepekan ini, sebagian besar berupa banjir dan banjir bandang akibat luapan sungai. Ribuan rumah terendam. Namun sifatnya tak lama,” ujarnya.
Persiapan Siaga Bencana
Sementara itu, 382 bencana terjadi di wilayah Kabupaten Purwakarta hingga menjelang akhir 2025. Tanah longsor masih mendominasi bencana alam yang dilaporkan dan ditangani BPBD Purwakarta sepanjang tahun ini.
”Purwakarta merupakan salah satu daerah dengan kondisi geografis yang memiliki potensi tinggi terhadap bencana tanah longsor, terutama di wilayah perbukitan dengan curah hujan yang tinggi,” kata Kepala Pelaksana BPBD Purwakarta Heryadi Erlan, Selasa 30 Desember 2025.
Ratusan bencana alam sepanjang tahun ini diakui menyebabkan kerusakan bangunan dan kerugian lainnya, bahkan memakan korban jiwa. Namun, Erlan belum bisa menyebutkan nilai kerugian secara keseluruhan akibat bencana alam yang melanda selama ini.
Selain itu, dia menyebutkan bahwa tujuh kecamatan di Kabupaten Purwakarta paling berisiko mengalami bencana alam akibat cuaca ekstrem. Ketujuh kecamatan itu antara lain Sukatani, Tegalwaru, Wanayasa, Kiarapedes, Pondoksalam, Darangdan, dan Bojong.
Dampak Bencana di Kota Tasikmalaya
Sementara itu, BPBD Kota Tasikmalaya mencatat sebanyak 248 kejadian bencana alam sepanjang periode 1 Januari hingga 30 Desember 2025. Dari ratusan kejadian tersebut, tercatat 1.017 titik bencana dengan total 1.181 kerusakan yang tersebar di berbagai wilayah Kota Tasikmalaya.
Bencana alam tersebut berdampak pada 898 rumah warga, serta menimbulkan kerusakan pada fasilitas ibadah, pendidikan, kesehatan, akses jalan, tempat pemakaman umum (TPU), tempat pembuangan akhir (TPA), dan fasilitas publik lainnya. Kerusakan rumah didominasi kategori rusak ringan sebanyak 561 unit, rusak sedang 153 unit, dan rusak berat 17 unit.
Dari sisi sosial, bencana menyebabkan 880 keluarga atau 2.896 jiwa terdampak. Sebanyak 62 keluarga atau 187 jiwa terpaksa mengungsi. BPBD juga mencatat 9 orang luka-luka, 1 orang meninggal dunia, serta 237 jiwa masuk dalam kategori kelompok rentan.
Waspadai Potensi Bencana Saat Libur Tahun Baru
Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada menghadapi potensi bencana hidrometeorologi saat libur pergantian tahun baru 2026. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir kerap terjadi di awal tahun. Potensi itu sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan hujan akan mengguyur sejumlah wilayah di awal tahun 2026. Tidak hanya banjir, angin kencang hingga puting beliung patut diwaspadai.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi Muchlis mengatakan, masyarakat harus tetap mewaspadai potensi bencana di tengah momentum liburan, terutama yang tinggal di lokasi rawan. Penting untuk tetap aktif mencari informasi terbaru terkait perkiraan cuaca hingga potensi bencana.
”Jadi meski sedang berlibur, harap dipastikan kondisi rumah serta tetap aktif mengakses informasi. Karena juga kami memastikan informasi teknis hingga ke tingkat desa/kelurahan terkait potensi banjir dan gerakan tanah (longsor), di seluruh saluran informasi yang tersedia,” kata dia.
Berdasarkan catatan “PR”, banjir kerap menghiasi awal tahun di Bekasi. Bahkan pada 2020 lalu, masyarakat batal merayakan malam pergantian tahun akibat rumah mereka terendam banjir. Banjir awal tahun pun terjadi pada Januari 2025. Banjir merendam puluhan titik di enam kecamatan yang membuat sedikitnya 2.400 warga terdampak.
Muchlis mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh camat hingga tingkat desa untuk memperketat kesiapsiagaan di wilayah masing-masing. Mereka diminta melakukan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Seluruh posko siaga bencana telah disiapkan di sejumlah lokasi dengan memanfaatkan kantor desa, gedung sekolah, dan fasilitas umum.












