Daerah  

Polisi: Kurang Perhitungan Kontraktor Picu Kemacetan di Jalan Tanjung Api-api

Penyebab Kemacetan di KM 8 Jalan Tanjung Api-api

Kemacetan yang terjadi di KM 8 Jalan Tanjung Api-api, Desa Gasing, Banyuasin, disebabkan oleh pengerjaan perbaikan jalan yang dilakukan oleh pihak kontraktor. Polisi menyatakan bahwa kesalahan dari pihak kontraktor dalam mengantisipasi penggalian jalan membuat akses jalan hanya tersisa satu lajur. Hal ini menyebabkan kendaraan harus bergantian saat melintas.

Rekayasa lalu lintas yang telah dilakukan oleh Satlantas Polres Banyuasin tidak berhasil mengurangi kemacetan yang terjadi hingga ke Simpang Bandara Palembang. Kasat Lantas Polres Banyuasin, AKP Suwandi, menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan rekayasa lalu lintas, tetapi tidak mampu mengurai kemacetan panjang tersebut.

Galian badan jalan yang mencapai sekitar 35 meter menyebabkan kendaraan harus bergantian saat melintas. Curah hujan yang turun juga menimbulkan genangan air, sehingga rekayasa lalu lintas yang dilakukan tidak bisa maksimal. Lubang yang ada di bahu jalan cukup dalam, sehingga berpotensi menyebabkan kendaraan terperosok atau tersangkut.

Karena tidak ada alternatif lain, Satlantas Polres Banyuasin melakukan penimbunan di bahu jalan. Dengan adanya penimbunan menggunakan batu di bahu jalan, jalan kini bisa dilalui dua lajur baik dari arah Palembang maupun dari Sungsang.

“Sebanyak 10 dump truck menumpahkan batu di bahu jalan agar bisa dilakukan pengerasan dan juga menutup lubang yang ada. Sehingga, kendaraan yang datang dari dua arah sama-sama bisa melintas. Mudah-mudahan ini bisa menjadi solusi agar tidak terjadi kemacetan selama perbaikan jalan,” ujar AKP Suwandi.

Arus Lalu Lintas Kembali Lancar

Pasca-kemacetan total yang terjadi di KM 8 Jalan Tanjung Api-api, pada Minggu (12/4/2026), arus lalu lintas terpantau ramai lancar. Kendaraan yang datang dari arah Palembang menuju ke Sungsang ataupun sebaliknya, dari Sungsang menuju ke Palembang, terpantau tidak mengalami hambatan.

Dari pantauan di KM 8 Jalan Tanjung Api-api, galian panjang perbaikan jalan masih menganga. Kendaraan yang akan melintas harus memperlambat laju kendaraan agar tidak terperosok ke galian yang ada di badan jalan. Meski terlihat landai, kendaraan yang melintas terkadang harus berhenti saat berpapasan dengan kendaraan tonase berat.

“Ini kan hari libur dan banyak pergudangan yang libur, kendaraan besar juga tidak banyak yang melintas, jadi tidak macet. Coba lihat besok, kondisi orang bekerja dan kendaraan besar kembali banyak melintas, bisa-bisa macet lagi,” kata Yusuf, seorang warga sekitar yang memberikan komentar.

Hujan yang mengguyur membuat kondisi Jalan Tanjung Api-api tergenang air. Lubang-lubang menganga di tengah badan jalan dan di bahu jalan sangat membahayakan pengguna jalan yang melintas, terlebih bagi pengendara sepeda motor.

Harapan Masyarakat Terhadap Perbaikan Jalan

Perbaikan yang belum maksimal dilakukan, bahkan saat ini perbaikan justru mandek dan malah membuat arus lalu lintas di Jalan Tanjung Api-api sempat mengalami kemacetan total.

Mashun, warga Palembang yang ditemui di lokasi, menuturkan bahwa dirinya setiap satu minggu sekali menuju ke Desa Gasing untuk mengecek kebun. Ia berangkat pagi dan memilih untuk pulang lebih cepat karena takut terjebak macet.

“Rusak jalannya makin parah dan ada galian di badan jalan, tambah menghambat perjalanan. Kalau pakai motor saat melintas harus ekstra hati-hati karena lubang di mana-mana,” ungkapnya.

Lanjut Mashun, seharusnya perbaikan jalan yang dilakukan tidak sampai menghambat lalu lintas yang ada di Jalan Tanjung Api-api. Namun, kenyataannya berbanding terbalik, adanya perbaikan jalan justru membuat perjalanan masyarakat menjadi terhambat.

“Pakai motor saja sulit untuk cepat, apalagi pakai mobil. Harusnya dipikirkan dahulu solusinya kalau mau melakukan perbaikan jalan. Jangan melakukan perbaikan jalan, akan tetapi malah membuat kemacetan dan menghambat aktivitas masyarakat,” ungkapnya.

Permintaan Masyarakat

Masyarakat berharap agar perbaikan jalan segera selesai dilakukan, termasuk penutupan lubang-lubang yang menganga di hampir setiap sudut badan jalan maupun di bahu jalan. Selain itu, masyarakat juga berharap pihak yang melakukan perbaikan jalan dapat memikirkan akses lalu lintas masyarakat sebelum melakukan penggalian badan jalan agar tidak menimbulkan kemacetan panjang.

Sebab, jika sudah terjadi kemacetan panjang, hal tersebut akan membawa dampak buruk bagi masyarakat yang melintas. Setidaknya, masyarakat akan kehilangan banyak waktu di jalan karena konsep perbaikan jalan yang dilakukan dianggap tidak memikirkan dampak kemacetan bagi para pengguna jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *