Perubahan di Plaza Simpang Lima Semarang
Plaza Simpang Lima Semarang, yang dulu menjadi pusat aktivitas anak muda dan mahasiswa di jantung Kota Semarang, kini terlihat cukup lengang. Saat mengunjungi plaza tersebut pada hari Sabtu (24/1/2026), terlihat lampu-lampu toko masih menyala dan etalase masih cukup penuh barang dagangan. Namun, suasana yang seharusnya ramai justru terasa lengang. Sebagian kios tampak tutup dengan tulisan “kios disewakan” di beberapa bagian.
Plaza Simpang Lima pernah dikenal sebagai tempat yang penuh dengan kehidupan, baik untuk berbelanja maupun sekadar berkumpul. Namun, seiring waktu, wajah pusat perbelanjaan ini mulai berubah. Kenangan akan masa lalu yang penuh kehidupan masih terasa dalam ingatan Siti Nur Haisyah (30), pengunjung yang pernah sering menghabiskan waktu di sana.
Haisyah pertama kali datang ke Semarang pada 2013 untuk menempuh pendidikan. Dari saat itu hingga 2018, Plaza Simpang Lima menjadi salah satu tempat yang sering ia kunjungi. Ia mengingat bahwa dulu plaza ini sangat ramai dan fasilitasnya lengkap. “Dulu ramai di sini. Fasilitasnya lengkap,” kenang Haisyah saat ditemui di plaza tersebut.
Ia menceritakan bahwa pada masa itu, Plaza Simpang Lima menjadi tujuan utama bagi dirinya dan teman-temannya sebagai mahasiswa. Mereka sering mencari laptop, printer, dan HP di sana. “Dulu banyak laptop, print, dan HP. Jadi mau nyari laptop, nyarinya di sini,” ujarnya.
Namun, ketika kembali berkunjung pada Juli 2025 lalu, Haisyah merasakan perubahan yang cukup signifikan. Suasana yang dulu hidup kini terasa jauh berbeda. “Dulu lengkap, sekarang kelihatannya hanya elektronik saja yang ada di sini,” tuturnya.
Selain jenis dagangan yang berkurang, Haisyah juga mengaku merasakan fasilitas yang berbeda dibandingkan dulu. “Nah, sukanya belanja di sini karena dulu di sini lengkap, fasilitasnya lengkap, terus bersih, oke, nyaman. Sekarang kan AC-nya enggak ada (kurang), terus aromanya beda dengan dulu,” ungkapnya.
Pengunjung Baru dan Tantangan
Selain pengunjung lama, Plaza Simpang Lima juga masih didatangi oleh pengunjung baru. Ria, mahasiswi asal Maluku yang baru sekitar sebulan tinggal di Semarang, mengaku datang ke plaza tersebut untuk sekadar berjalan-jalan sekaligus mengantarkan teman membeli gawai. Ia mengatakan, selama ini ia mengetahui Plaza Simpang Lima sebagai salah satu pusat penjualan ponsel dan perangkat elektronik di Kota Semarang. Meski belum lama berada di kota ini, ia mengaku sudah dua kali mengunjungi plaza tersebut.
“Baru dua kali ke sini, sekitar dua minggu yang lalu sama hari ini,” ujarnya. Berbeda dengan pengunjung lama yang merasakan perubahan signifikan, Ria menilai suasana Plaza Simpang Lima masih terbilang biasa.
Dari sisi pelayanan, Ria menilai para penjual masih melayani dengan baik. Namun, ia menyoroti aspek kenyamanan yang menurutnya masih bisa ditingkatkan. “Mungkin dari segi aroma ya. Kalau yang lain seperti pelayanannya, bagus sih,” ucapnya.
Kondisi Penyewa Kios
Di tengah lorong Plaza Simpang Lima yang kian lengang, sejumlah penyewa kios masih bertahan menjaga lapaknya. Salah satunya adalah Adi Miskol (35), penjual sekaligus penyedia jasa servis elektronik yang telah menempati kios sejak 2011. Ia menjadi saksi hidup naik-turunnya aktivitas perdagangan di pusat perbelanjaan tersebut.
“Kalau saya di sini dari 2011. Awalnya jual beli, lalu sejak 2019 mulai fokus ke servis sampai sekarang,” jelas Adi. Menurutnya, sejak awal Plaza Simpang Lima memang dirancang sebagai pusat jual beli dan servis perangkat elektronik. Namun, dalam lebih dari satu dekade terakhir, kondisi tersebut tak lagi sekuat dulu. Penurunan pengunjung berdampak langsung pada omzet para penyewa.
“Pasti turun. Sekitar 50 persen? Ada,” katanya. Meski masih diupayakan untuk menutup biaya sewa dan operasional, Adi mengakui keuntungan yang diperoleh semakin menipis. Ia menilai penurunan ini tak lepas dari perubahan citra plaza di mata masyarakat.
Harapan untuk Masa Depan
Adi mengenang masa-masa awal saat Plaza Simpang Lima masih berada di puncak kejayaannya. Pada 2011, berbagai pameran rutin digelar setiap akhir pekan, bahkan menarik kerumunan pengunjung. “Dulu ramai banget. Sehari bisa sampai 50 unit. Sekarang dapat tiga atau empat saja sudah syukur,” kenangnya.
Menurutnya, penurunan mulai terasa sejak sekitar 2018–2019, seiring tutupnya sejumlah tenant besar dan berkurangnya aktivitas di Plaza Simpang Lima. Meski begitu, ia masih menyimpan harapan akan masa depan tempat usahanya. Ia juga merespon adanya wacana Plaza Simpang Lima akan diisi UMKM. Ia berharap itu bisa menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.
“Yang penting lokasi untuk lapak-lapaknya itu jelas, enggak campur gitu. Khusus elektronik misal di sini, handphone di sini, laptop di sini, foodcourt di sini. Kemudian kalau fasilitas ada toilet, (harapannya itu dibuat) lebih layak lagi lah. Biasanya yang dikeluhkan pengunjung itu toilet,” imbuhnya.
Aset Pemkot Semarang
Di sisi lain, Plaza Simpang Lima Semarang menjadi salah satu aset milik Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang menjadi sorotan. DPRD Kota Semarang menyoroti keberadaan Plaza Simpang Lima, selain juga Eks Matahari Johar atau Shopping Center Johar (SCJ). Dewan meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengoptimalkan pemanfaatan aset tersebut agar tidak menjadi aset nganggur dan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Joko Widodo mengatakan, persoalan pemanfaatan Plaza Simpanglima cukup kompleks. Pasalnya, bangunan eks Matahari tersebut menyatu dengan Arkenzo Hotel dalam satu struktur bangunan atau satu pilar. “Kita menyadari kompleksnya persoalan di situ adalah karena antara mal eks Matahari ini dengan Arkenzo Hotel satu pilar, artinya satu bangunan. Nah, habisnya (masa kerja sama) tahun 2030. Sehingga kalau mau mengundang investor, mau tidak mau, kalau itu mau dirobohkan kan menunggu hotelnya itu selesai,” jelas Joko Widodo.
DPRD, lanjut dia, mendorong agar Dinas Perdagangan menyiapkan langkah teknis pemanfaatan gedung tersebut dalam jangka pendek, sembari menunggu masa kerja sama berakhir. Dia menyebutkan, biaya operasional Plaza Simpanglima kini ditekan hingga sekitar Rp14 juta per bulan. Menurutnya, dengan biaya tersebut, Dinas Perdagangan bisa mengelola dan memanfaatkan gedung itu bagi pelaku UMKM.
“Sebenarnya kemarin Dinas Perdagangan sudah ditawari, tapi dengan Rp70 juta biaya perawatan perbulannya itu mereka belum sanggup. Tapi kemudian, kita minta coba bagaimana caranya instalasinya dikurangi. Kan itu yang mahal listriknya. Sekarang sudah bisa hanya Rp14 juta per bulan. Dari situ nanti kita akan panggil Dinas Perdagangan untuk bisa membuat Plaza Simpanglima bekas Matahari ini bisa digunakan oleh para UMKM,” tuturnya.












