Kondisi Penjual Online yang Semakin Berat
Di tengah tumbuhnya bisnis online, banyak penjual menghadapi tantangan yang tidak mudah. Aturan-aturan yang dibuat oleh penyedia platform sering kali memberatkan para penjual, membuat mereka merasa tidak sejajar dengan pembeli.
Pengalaman Olivia dalam Jualan Online
Olivia Monica, pemilik toko Oliviamo.id di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mengungkapkan bahwa jualan online kini semakin berat. Ia menjelaskan bahwa platform sering kali membuat aturan yang tidak adil, seperti kebijakan Cash on Delivery (COD) yang akan segera diberlakukan.
Menurut Olivia, banyak barang yang dikembalikan bukan karena kesalahan penjual, tetapi karena alasan yang tidak logis. Misalnya, ada pembeli yang menolak barang karena tidak ada respons dari customer atau karena barang tidak pernah diantar. Hal ini menyebabkan penjual terbebani dengan biaya tambahan per barang yang ditolak.
Masalah Sistem Return yang Tidak Logis
Selain itu, sistem pengembalian barang juga menjadi masalah. Dulu, pembeli harus melakukan verifikasi dengan penjual sebelum mengembalikan barang. Kini, proses return berjalan otomatis tanpa konfirmasi. Olivia mengatakan bahwa hal ini sering kali menyebabkan kerugian besar bagi penjual.
Ia mencontohkan kasus di mana pembeli mengirimkan barang yang tidak sesuai dengan pesanan. Bahkan, ada kasus di mana barang dikembalikan setelah dipakai selama seminggu. Menurutnya, sistem saat ini terlalu memihak pembeli dan tidak memberi ruang untuk dialog antara penjual dan pembeli.
Ketimpangan Antara Penjual dan Platform
Olivia menyatakan bahwa hubungan antara penjual dan platform kini terasa seperti “pekerja” daripada mitra. Ia menilai aturan-aturan yang dibuat oleh platform cenderung sepihak dan menekan penjual. Selain itu, penjual harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mendapatkan visibilitas di platform.
Pertimbangan Membuka Toko Offline
Karena tekanan tersebut, Olivia mulai mempertimbangkan untuk membuka toko offline. Ia mengatakan bahwa toko offline lebih jelas karena pembeli bisa langsung melihat dan memegang barang, serta tidak ada drama return yang aneh-aneh.
Pengalaman Ivan dalam Jualan Tanaman Hias
Berbeda dengan Olivia, Ivan, seorang pengusaha tanaman hias asal Kota Batu, merasa beruntung bisa menjual produknya di marketplace. Menurutnya, pembeli tanaman hias tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga sampai ke Eropa.
Ivan menjelaskan bahwa permintaan dari negara-negara tertentu berbeda-beda. Contohnya, pembeli dari Malaysia lebih suka tanaman anthurium, sedangkan pembeli dari Jepang biasanya membeli agave. Untuk tanaman Platycerium, permintaan datang dari Tiongkok.
Risiko dalam Pengiriman Tanaman Hias
Meski memiliki pelanggan internasional, Ivan mengakui bahwa usaha tanaman hias memiliki risiko besar ketika dikirim ke luar kota maupun luar negeri. Oleh karena itu, ia selalu memilih jasa pengiriman yang terpercaya. Pengiriman ke luar negeri membutuhkan waktu sekitar 7-10 hari.












