Ribuan Kasus TBC Baru di Sumenep, Stigma Negatif Masih Menghantui



SUMENEP – Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mencatat ada 2.294 kasus baru tuberkulosis (TBC) hingga Oktober 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Meski begitu, data ini juga menjadi indikasi bahwa upaya deteksi dini dan pengobatan semakin efektif.

Menurut dr Eko Mulyadi, pengamat kesehatan, masalah utama dalam penanganan TBC tidak hanya terletak pada penularan penyakit, tetapi juga pada stigma negatif yang masih melekat di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa banyak orang masih menganggap TBC sebagai penyakit yang memalukan atau bahkan dikaitkan dengan hal-hal gaib seperti sihir. Hal ini membuat sebagian penderita lebih memilih mencari pengobatan ke orang-orang yang dianggap memiliki kekuatan supernatural daripada ke puskesmas.

“Stigma tentang TBC itu masih kuat. Kadang diperberat oleh keluarga, bahkan petugas kesehatan tanpa sadar ikut menumbuhkan stigma itu,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa TBC bisa disembuhkan jika dilakukan pengobatan secara medis. Namun, prosesnya memang membutuhkan waktu lama dan kesabaran.

Selain itu, Eko menyebut bahwa lingkungan sosial berperan besar dalam memperkuat stigma tersebut. Banyak penderita TBC dijauhi karena dianggap menular, sehingga mereka merasa stres dan enggan untuk berobat. Hal ini berdampak pada penyebaran penyakit yang justru semakin sulit dikendalikan.

Pengamatan lain juga menunjukkan bahwa perilaku masyarakat mulai longgar dalam menjaga kebersihan diri. Kebiasaan seperti menggunakan masker, mencuci tangan, dan mencegah infeksi mulai renggang lagi. Perilaku ini ikut berkontribusi pada penyebaran TBC yang semakin meningkat.

Eko menekankan pentingnya penyuluhan dan edukasi yang dilakukan secara terus-menerus. Menurutnya, edukasi tidak bisa langsung mengubah perilaku masyarakat, tetapi harus dilakukan secara berkala agar masyarakat sadar akan risiko TBC dan tidak takut untuk berobat.

“Kalau sering disosialisasikan, masyarakat akan sadar. Misalnya batuk dua minggu, mereka langsung periksa, tanpa takut dan tanpa malu,” katanya. Ia berharap, selain mengejar target eliminasi TBC pada 2030, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep juga fokus menghapus stigma negatif di masyarakat agar penderita tidak lagi takut berobat.

Hingga Oktober 2025, Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep mencatat 2.294 kasus TBC yang ditemukan sepanjang tahun ini. Sejak Januari hingga pertengahan November 2025, sebanyak 53 warga dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, Ellya Fardasyah, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah temuan kasus bukan pertanda buruk, melainkan bukti program deteksi dini berjalan dengan baik. “Semakin banyak ditemukan, semakin baik. Artinya, upaya pengobatan bisa dilakukan lebih masif,” ujarnya.

Untuk menekan penularan, lanjut Ellya, pihaknya terus menggencarkan gerakan Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOS TB) yang dilaksanakan serentak di berbagai daerah di Indonesia. “Harapannya, deteksi dini dimulai dari diri sendiri. Kalau sudah batuk tiga minggu dan malam hari meriang, itu tanda-tanda TBC. Segera periksakan,” ungkapnya.

Exit mobile version