Khofifah: Ekonomi Jatim Tumbuh Lebih Cepat dari Nasional



SURABAYA – Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada kuartal III-2025 mencapai angka 5,22%. Angka ini menjadi bukti bahwa wilayah tersebut mampu menjaga stabilitas ekonomi meskipun menghadapi berbagai tantangan global. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut dan menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat menjadi faktor utama dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

“Alhamdulillah, secara (q-to-q) ekonomi Jatim tumbuh sebesar 1,70%, angka ini adalah pertumbuhan tertinggi se-Pulau Jawa,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Khofifah menekankan bahwa capaian ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 1,43% secara (q-to-q) dan 5,04% secara YoY.

Dalam laporan BPS, Jawa Timur juga menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 25,65%, serta menjadi penyumbang perekonomian nasional sebesar 14,54%. Hal ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Sektor yang Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan data yang dirilis, beberapa sektor utama memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Industri Pengolahan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar, yaitu sebesar 1,87%. Sementara itu, sektor Pengadaan Listrik dan Gas mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 9,18%.

Dari sisi pengeluaran, Komponen PMTB (Pengeluaran Masyarakat dan Bisnis) mencatat pertumbuhan sebesar 5,25%. Sedangkan dari sisi produksi, Jasa Perusahaan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 9,89%. Dari segi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa juga mengalami pertumbuhan sebesar 7,19%.

Khofifah menambahkan bahwa salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi (q-to-q) adalah sektor pertanian. Karena masuknya musim panen tebu dan tembakau, sektor ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, peningkatan distribusi listrik dan gas untuk industri dan rumah tangga, progres proyek infrastruktur, serta realisasi investasi turut menjadi faktor pendorong utama. Dari sisi YoY, pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan realisasi investasi, jumlah wisatawan domestik, serta peningkatan ekspor luar negeri.

Peningkatan Ekspor dan Perdagangan

Ekspor barang dan jasa Jawa Timur mengalami peningkatan yang signifikan. Pertumbuhan komponen ekspor ini didorong oleh meningkatnya ekspor komoditas perhiasan/permata ke luar negeri. Selain itu, perdagangan ke luar provinsi juga mengalami peningkatan karena adanya program misi dagang antara Jawa Timur dengan beberapa provinsi seperti Kalimantan Selatan, Lampung, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Selatan.

Salah satu pencapaian terbesar dalam misi dagang ini adalah Nusa Tenggara Timur yang berhasil mencatatkan transaksi tertinggi sepanjang sejarah misi dagang, yaitu mencapai Rp 1,882 triliun.

Data BPS juga menunjukkan bahwa kinerja ekspor Jawa Timur selama periode Januari-September 2025 meningkat sebesar 20,23% (c-to-c), atau senilai US$3,86 miliar. Neraca perdagangan Jawa Timur tercatat surplus sebesar US$1,33 miliar.

Apresiasi kepada Semua Pihak

Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh komponen masyarakat, dunia usaha, dan industri atas capaian ini. Menurutnya, keberhasilan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja sama yang solid dari berbagai pihak.

“Ini bukti ketangguhan dan kolaborasi seluruh kekuatan ekonomi daerah. Semangat ini adalah wujud dari filosofi Jatim Bisa, bahwa dengan kerja keras, gotong royong, dan inovasi, kita mampu menjaga ketahanan sekaligus menciptakan pertumbuhan yang berkualitas,” pungkasnya.

Exit mobile version