JAKARTA — Laporan indeks risiko iklim atau Climate Risk Index yang dirilis oleh organisasi lingkungan dan pembangunan Germanwatch menunjukkan bahwa 40% populasi dunia, yaitu lebih dari 3 miliar orang, tinggal di 11 negara yang paling terdampak peristiwa cuaca ekstrem dalam 30 tahun terakhir. Bencana seperti gelombang panas, badai, dan banjir telah merenggut ratusan ribu nyawa dan menyebabkan kerugian ekonomi triliunan dolar antara tahun 1995 hingga 2024. Beberapa negara yang termasuk dalam daftar ini adalah India di peringkat ke-9, Tiongkok di peringkat ke-11, Libya di peringkat ke-4, Haiti di peringkat ke-5, dan Filipina di peringkat ke-7.
Di sisi lain, negara-negara Uni Eropa dan negara industri maju seperti Prancis berada di peringkat ke-12, Italia di peringkat ke-16, dan Amerika Serikat di peringkat ke-18. Temuan ini merupakan hasil utama dari Climate Risk Index (CRI) 2026 yang dipresentasikan oleh Germanwatch pada Selasa (11/11/2025) di sela-sela pertemuan COP30 di Belém, Brasil.
Indeks tersebut mencatat bahwa selama periode 1995–2024, terjadi lebih dari 9.700 peristiwa cuaca ekstrem yang menewaskan lebih dari 830.000 orang. Nilai kerugian ekonomi langsung akibat bencana-bencana ini diperkirakan melampaui US$4,8 triliun setelah disesuaikan dengan inflasi. Laura Schäfer, salah satu penulis CRI, mengatakan bahwa gelombang panas dan badai merupakan ancaman terbesar terhadap kehidupan manusia dalam konteks peristiwa cuaca ekstrem. Badai menyebabkan kerugian ekonomi terbesar, sementara banjir menjadi peristiwa yang paling banyak berdampak pada penduduk.
Beberapa negara yang menempati posisi tinggi dalam indeks ini mengalami satu atau dua peristiwa bencana tunggal yang sangat menghancurkan, sedangkan negara lainnya sering kali diterpa peristiwa ekstrem setiap tahun. Vera Künzel, salah satu penulis laporan, menjelaskan bahwa negara seperti Haiti, Filipina, dan India yang termasuk sepuluh negara paling terdampak dalam CRI, menghadapi tantangan besar karena sering dilanda banjir, gelombang panas, atau badai secara berkala. Akibatnya, banyak wilayah yang belum sepenuhnya pulih ketika bencana berikutnya datang.
“Ketika pembiayaan untuk mengatasi kerugian dan kerusakan [loss and damage] dibahas di COP30, fokus harus diberikan pada negara-negara seperti ini. Tanpa dukungan jangka panjang, termasuk untuk adaptasi terhadap krisis iklim, mereka akan menghadapi tantangan yang mustahil diatasi,” kata Künzel.
Peringkat pertama dalam indeks untuk periode 1995–2024 ditempati oleh Dominika, negara pulau kecil di Karibia yang berulang kali dilanda badai tropis dahsyat. Pada 2017, Badai Maria saja menyebabkan kerugian senilai US$1,8 miliar. Nilai ini hampir tiga kali lipat dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. Peristiwa tersebut merupakan badai paling merusak dari tujuh siklon tropis besar yang tercatat dalam tiga dekade terakhir. Lina Adil, salah satu penulis laporan, menjelaskan bahwa Dominika berada di puncak indeks jangka panjang kami terutama karena besarnya kerugian ekonomi dibandingkan dengan ukuran PDB-nya. Ini menegaskan tren ilmiah bahwa di dunia yang makin hangat, badai tropis menjadi lebih kuat dan lebih destruktif.
Myanmar menempati peringkat kedua dalam daftar. Pada 2008, Topan Nargis menewaskan hampir 140.000 orang dan menimbulkan kerugian senilai US$5,8 miliar akibat curah hujan ekstrem dan banjir besar yang menyertainya.
Laporan CRI menegaskan bahwa negara-negara di kawasan Selatan Global (Global South) merupakan yang paling rentan terhadap krisis iklim dan membutuhkan dukungan dari negara-negara kaya. Namun, dampak perubahan iklim kini juga makin dirasakan di negara-negara maju. David Eckstein, penulis lain laporan CRI, menekankan bahwa hasil CRI 2026 menunjukkan kebutuhan mendesak bagi COP30 untuk menutup kesenjangan ambisi global dalam penanganan perubahan iklim. Dia menggarisbawahi bahwa emisi global harus dikurangi segera, atau dunia akan menghadapi lonjukan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang makin besar.
“Pada saat yang sama, upaya adaptasi harus dipercepat. Solusi yang efektif untuk loss and damage harus segera diterapkan, dan pendanaan iklim yang memadai wajib disediakan,” tutup Eckstein.
Sebagai catatan, indeks retrospektif ini menilai dampak absolut dan relatif dari peristiwa cuaca ekstrem terkait iklim untuk menyusun peringkat negara. Penilaian didasarkan pada enam indikator utama, yaitu jumlah korban jiwa, jumlah penduduk terdampak (terluka atau menderita akibat lainnya), serta kerugian ekonomi, yang disajikan dalam ukuran absolut dan relatif.
Daftar Negara yang Paling Terdampak pada 1995–2024:
- Dominika
- Myanmar
- Honduras
- Libya
- Haiti
- Grenada
- Filipina
- Nikaragua
- India
- Bahama
Daftar Negara yang Paling Terdampak pada 2024:
- St. Vincent dan Grenadines
- Grenada
- Chad
- Papua Nugini
- Niger
- Nepal
- Filipina
- Malawi
- Myanmar
- Vietnam
