Bisnis  

Dari Koin di Kompasianival, RSKO Peduli Berjuang 13 Tahun

Awal Mula Gerakan yang Dimulai dari Koin

Tidak pernah terbayang bahwa sebuah gerakan bisa bertahan selama 13 tahun, lahir dari sesuatu yang begitu kecil, yaitu koin. Tidak ada perintah dari pihak manajemen, tidak ada proposal panjang, tidak ada rapat formal, dan bukan juga dengan cara menyodorkan map sumbangan. Hanya koin dan uang receh yang dikumpulkan secara tenang oleh jiwa-jiwa yang percaya bahwa kebaikan, sekecil apa pun nilainya, tetap memiliki kemampuan untuk membantu hidup seseorang.

Perjalanan Awal: Kompasianival 2012

Pada tahun 2012, di Skeeno Hall, Gandaria City, Jakarta Selatan, suasana Kompasianival sangat riuh dan ramai. Di tengah kerumunan para penulis, aktivis sosial, volunteer, dan komunitas, ada sebuah booth yang memperkenalkan ide tentang “koin memberi kesempatan” atau Coin A Chance, gerakan sosial berbasis koin yang menjadi pelopor pengumpulan koin. Hal yang paling membekas adalah bagaimana uang receh sering diremehkan, namun ternyata bisa diubah menjadi biaya sekolah, harapan baru bagi anak-anak yang hampir kehilangan semangatnya.

Kami bertiga (Agan, Dayat, Hani) menyalin ide Coin A Chance dan menyelinap ke relung hati para pegawai RSKO Jakarta yang saat itu belum ada gerakan bersama dalam membantu biaya pendidikan anak kurang mampu. Pertanyaan sederhana ini membuka relung hati dan menjadi akar yang tumbuh diam-diam.

Rekam Jejak 13 Tahun Gerakan RSKO Peduli

Saat ini, Gerakan RSKO peduli telah memasuki tahun ke-13, dan telah menggandeng 14 penggerak. Mereka adalah Dayat (Hukormas), Agan-Robby-Hari (Penunjang & PKRS), Puput dan Kelli (Farmasi), Mardiono (laboratorium), Aeb dan Febri (Rekam medik), Rusdianto (Keuangan), Arif & Lisa (Kepegawaian), Hery (Perawat) dan Henry (Marketing).

Receh yang Menggerakkan

Pada 23 November 2012, di sebuah sudut ruangan Program Anggaran RSKO Jakarta, diletakkan sebuah celengan bergambar siswi sekolah dasar. Tidak ada corak berlebih, tidak ada tulisan motivasi dan pemberi semangat. Hanya toples celengan koin yang perlahan terisi oleh suara jatuhnya koin dan uang kertas. Cring… Cring… Cring… Suara kecil itu menjadi ritme harian. Ada yang menyelipkan koin seratus rupiah, ada yang lima ratus rupiah, ada yang seribu rupiah. Tidak ada yang dipaksa. Tidak ada yang ditarget. Semua berjalan pelan, tapi pasti.

Celengan kaleng itu kemudian diberi nama tidak resmi: “Gerakan Koin Pendidikan RSKO Jakarta” kemudian berubah menjadi “Gerakan RSKO Peduli”. Dan dari situlah sejarah dimulai, pengumpulan pertama Desember 2012 berjumlah Rp.285.000 dari satu celengan. Kebaikan pun Menular, kemudian berubah menjadi:

  • Bantuan alat tulis untuk anak-anak binaan Coin A Chance (2012-2023)
  • Dana dukungan untuk pengobatan untuk rekan kerja yang sedang sakit
  • Sembako untuk keluarga pasien yang sedang kesulitan
  • Hingga bantuan pendidikan bagi anak yatim di sekitar RSKO

Dari Koin ke Budaya

Tanpa disadari, gerakan kecil itu tumbuh menjadi budaya. Budaya untuk saling peduli-berbagi tanpa pamrih (ikhlas)-gotong-royong yang lahir dari batin. Dari 1 celengan, kini ada 30 lokasi celengan. Kisah-kisah volunteer dan refleksi harian pegawai RSKO dalam Gerakan RSKO peduli, kemudian meneguhkan langkah Kami (penggerak). Banyak kisah uluran tangan menjadi dokumentasi sejarah Gerakan RSKO Peduli.

Tak Sekadar Wacana, Konsisten dari Hal yang Kecil

Dalam perjalanannya selama 13 tahun, gerakan ini tidak hanya menjadi “inisiatif sesaat mengikuti tren”. Gerakan yang memanggil dan menyentuh jiwa-jiwa. Gerakan ini mengikat rasa persaudaraan di tengah padatnya tugas pelayanan di rumah sakit. Aksi baik ini mengingatkan bahwa manusia bisa sembuh bukan hanya karena obat, tetapi juga karena empati.

Gerakan RSKO Peduli kemudian mulai dicatat, dihitung, dipublikasikan. Setiap Jumat per-sebulan/2 bulan, setiap kegiatan, setiap penyerahan amanah donasi menjadi bukti nyata bahwa gerakan ini konsisten. Koin-dan uang kertas itu tetap ada, gerakannya berkembang jauh melampaui nilai rupiahnya. Dari yang awalnya hanya receh, kini menjadi gerakan kepedulian yang terstruktur, dipercaya, dan terus berjalan konsisten selama 13 tahun.

13 Tahun: Bukan tentang Jumlahnya, tetapi tentang Nilainya

Hari ini di tanggal yang sama disaat gerakan ini berawal, ketika Kami menengok perjalanan 13 tahun Gerakan RSKO Peduli, Kami tidak hanya melihat angka-angka donasi yang terkumpul. Kami melihat wajah-wajah anak yang bisa menempuh pendidikan. Kami melihat rekan kerja yang tersenyum kembali karena mendapatkan dukungan moral dan pengobatan. Kita melihat keluarga rekan kerja yang sakit merasa tidak sendirian. Dan semuanya itu…bermula dari suara criing koin yang dijatuhkan.

Mengapa Kok Koin?

Karena dengan koin mengajarkan bahwa:
* Kebaikan tidak harus menunggu punya banyak uang
* Kepedulian tidak harus menunggu dipanggil
* Gerakan membantu sesama dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bergotong royong
* Gerakan RSKO Peduli menjadi bukti bahwa koin bukan hanya alat transaksi. Ia bagaikan simbol dari niat berbagi yang ketulusan.

Melanjutkan Langkah Kebaikan

Kini, celengan-celengan itu masih disana, semangatnya masih sama: kebaikan yang dijalankan bersama-sama. Menjadi bukti gerakan sosial di tempat kerja bisa dilakukan. Sudah 13 tahun terus berjalan, dan kami belajar satu hal: tidak ada kebaikan yang dibilang terlalu kecil dan tidak ada koin dan uang receh yang terlalu sedikit untuk membantu sesama.

Gerakan RSKO Peduli lahir dari koin, tumbuh menjadi gerakan kebaikan, dan kini menjadi warisan moral yang akan terus diupayakan tetap hidup, sepanjang masih ada hati yang ingin berbagi.

Bro Agan aka Andri Mastiyanto

Shopee Bro Agan I Threads @andrie_gan I Tiktok @andriegan I Twitter @andriegan I Instagram @agan_reborn & @andrie_gan I Blog – /rakyatjelata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *