Pengalaman Pribadi yang Mengubah Gaya Hidup
Saya masih ingat betul suatu kejadian yang tidak pernah bisa saya lupakan seumur hidup. Kejadian ini menjadi titik balik dalam hidup saya, dan juga menjadi alasan kuat untuk mengubah gaya hidup, terutama kebiasaan makan. Ternyata selama ini, kebiasaan makan saya jauh dari kata sehat.
Pada masa lalu, saya sangat gemar mengonsumsi gorengan seperti bakwan dan tempe krispy. Minuman yang sering saya konsumsi adalah minuman manis seperti teh atau kopi manis, soup buah, hingga minuman kekinian. Kebiasaan ini berlangsung selama bertahun-tahun, akhirnya membuat saya obesitas dan akhirnya jatuh sakit.
Di sebuah klinik di daerah Cilandak Jakarta Selatan, dokter menunjukkan foto rontgen tubuh saya. Awalnya saya tidak memahami apa yang dilihat, sampai dokter menjelaskan secara detail. Dari foto tersebut, saya melihat gambar organ vital di dalam tubuh. Di bagian hati, terlihat seperti diselimuti kabut tipis warna abu bercampur putih. Menurut dokter, penampakan ini menunjukkan bahwa hati saya mengalami pelemakan.
“Jangan khawatir, Pak. Ini disebut fatty liver,” ujar dokter.
Seketika, detik demi detik berjalan lambat, dan saya merasa sangat bersalah pada diri sendiri. Kilasan kebiasaan makan saya mulai muncul, kebiasaan yang sebenarnya membawa saya ke arah yang tidak sehat. Saya merasa malu karena bisa menyebabkan masalah kesehatan bagi keluarga, terutama istri dan anak-anak. Saya ingin sehat agar bisa melihat anak-anak dewasa dan mandiri. Masa depan mereka tidak boleh dipertaruhkan, dan saya harus memulai dari sepiring makanan.
Dari situ, saya merasakan energi bertumbuh, berupa tekad yang sangat kuat. Setiap kata-kata dokter dan ahli nutrisi terus terngiang di kepala, dan saya ingin segera menerapkannya. Dan suatu saat nanti, sepiring makanan berserat akan menjadi sepiring cerita.
Perbedaan Makanan di Berbagai Daerah Indonesia
Indonesia memiliki keunikan dalam hal makanan. Setiap daerah memiliki ciri khas makanan yang mirip, hanya saja dibedakan oleh bumbu atau jenisnya. Misalnya, gado-gado di Surabaya disiram dengan sambal kacang cair, sedangkan gado-gado Betawi menggunakan sambal kacang yang diuleg dan dicampur dengan sayuran. Di Jawa Barat, ada versi gado-gado dengan sayur mentah yang dinamakan karedok. Bumbu kacang di karedok biasanya dicampur dengan kencur.
Setelah pulang dari klinik, saya mulai mengganti makanan berminyak dengan makanan berserat. Ada warung langganan dekat rumah, dan si ibu sudah tahu menu yang saya pesan. Baik itu gado-gado atau karedok, sambal kacangnya selalu dibungkus terpisah sesuai saran ahli nutrisi. Keputusan ini dilakukan setelah mendengarkan saran dari ahli nutrisi.
Si ibu juga tahu jadwal saya datang, yaitu hari Senin atau Kamis setelah ashar. Gado-gado atau karedok menjadi menu buka puasa hari itu. Jika ingin makanan lain, saya membeli salad sayur. Hal ini terus berlangsung berulang-ulang selama tiga bulan, dan saya merasakan perubahan nyata.
Perut buncit menghilang, wajah kusam berubah menjadi cerah. Teman lama yang tidak bertemu lama pun kaget dan mengomentari saya tampak lebih muda. Konsumsi makanan berserat terus diteruskan, dan saya melakukan modifikasi sesuai saran ahli nutrisi.
Perubahan Signifikan dalam Gaya Hidup
Saya mengganti nasi dengan ubi, singkong, dan kentang. Lauk utama saya adalah ikan pepes yang diungkep atau ikan yang dibakar. Camilan seperti somay dan buah menjadi kegemaran baru. Saya menyadari bahwa asupan gizi yang seimbang sangat penting untuk kebutuhan tubuh.
Satu tahun kemudian, berat badan awalnya satu kuintal turun sekitar 25 kilogram. Keluhan seperti pusing, mudah masuk angin, dan kelelahan teratasi. PR berikutnya adalah mempertahankan pencapaian ini.
Saya merasakan bahwa sepiring makanan berserat telah menjadi sepiring cerita. Bahwa sepiring makanan berserat bisa menyelamatkan saya dari pelemakan hati.
Proses Detoks dan Perubahan Awal
Kejadian malam yang menyedihkan rasanya terpatri dalam ingatan. Saat itu, saya tidak bisa bangkit dari ranjang, dua tangan ditarik oleh istri dan anak laki-laki. Tubuh saya sangat sakit digerakkan, pikiran saya diselimuti perasaan tak menentu.
Setelah pulang dari klinik, saya bertekad untuk mengikuti anjuran dokter dan ahli nutrisi. Tiga hari pertama, saya hanya makan sayur, buah, dan air putih. Meskipun terasa berat, tekad ini sangat kuat. Badan lemas dan mood berantakan, tetapi saya tidak peduli demi kesehatan.
Buah organik yang saya konsumsi adalah buah yang bisa dimakan dengan kulitnya, seperti jambu, belimbing, apel, dan sejenisnya. Konon, buah organik memiliki kandungan serat yang sangat baik. Untuk sayuran, saya membeli di warung dekat rumah. Penjualnya sudah tahu saya membeli sayuran saja tanpa lontong, dan bumbu kacang dipisahkan. Kadang gado-gado, kadang karedok, sesuai dengan keinginan hati.
Air putih diminum kapan saja, meskipun tidak haus. Saking tidak mau kelewatan, saya selalu membawa tumbler ke mana pun pergi.
Pada hari pertama hingga ketiga, saya merasakan proses detox. Buang air besar (BAB) bisa tiga hingga lima kali sehari. Kotoran yang keluar berwarna hitam legam, konon itu adalah racun dalam tubuh yang dibuang.
Hari keempat dan seterusnya, saya mengikuti daftar menu dari ahli nutrisi. Pastinya tidak ada gorengan, santan, gula, atau tepung. Sumber karbohidrat dari singkong, ubi, dan kentang yang direbus. Protein dari telur rebus, ikan bakar, pepes tahu, atau olahan yang diungkep. Pengganti manis dari gula diambil dari madu atau manisnya buah.
Seminggu kemudian, saya mulai terbiasa dan akhirnya menjadikan gaya hidup. Saya merasakan banyak perubahan, tubuh terasa lebih enteng dan segar.
Yes, saya berhasil menyelamatkan diri sendiri. Sehingga bersama istri, saya bisa mengantarkan anak-anak menuju masa depan gemilang. Dalam doa selalu kami panjatkan, semoga dianugerahi panjang umur dan badan yang sehat—aamiin.
Konsistensi dan Perjalanan Kembali ke Kebiasaan Sehat
Konsistensi itu memang susah, dan saya juga pernah mengalaminya. Kebiasaan sehat yang dimulai tahun 2016 sempat kembali ke kebiasaan lama. Setelah masa pandemi, berat badan kembali naik dan dikomentari teman-teman terlihat dempal.
Terhitung enam bulan berjalan, saya mencoba metode intermittent fasting. Memutar ulang ingatan lama, menerapkan kebiasaan makan seperti dulu. Alhamdulillah, saat ini berat badan berada di kisaran 76–77 kg dengan tinggi 177 cm.
Gado-gado, karedok, salad, aneka sayuran, serta makanan berserat menjadi kesukaan. Ubi, singkong, kentang, jagung, dan rebus-rebusan menjadi menu sarapan. Ketika melihat makanan berserat di meja, saya selalu teringat pada momen titik balik itu.
Kejadian saat badan sangat sakit, masa bangkit dengan pola makan baru, sekaligus mendapati diri yang lebih baik. Dan sepiring makanan berserat, menyelamatkanku dari pelemakan hati.
Semoga bermanfaat.
