Tindakan Kriminal yang Mengancam Keselamatan Publik
Kota Palu kembali dihebohkan oleh tindakan kriminal yang sangat disayangkan. Kali ini, sarana vital keselamatan publik, yaitu kabel sistem peringatan dini tsunami (EWS) di Kampung Lere, Kelurahan Lere, Palu Barat, menjadi sasaran pencurian. Insiden ini menimbulkan kecaman keras dari masyarakat karena berkaitan langsung dengan potensi bencana dan nyawa manusia.
Menurut keterangan Ir. Irfan Suebo, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Palu, masalah pada sirene ini baru terdeteksi pada Rabu, 26 November setelah uji coba rutin gagal membunyikan alarm. Padahal, diperkirakan aksi pencurian telah terjadi sejak Sabtu malam, 22 November 2025. Saat tim mengecek lokasi, ditemukan bahwa kabel utama penghubung dari bagian bawah menara (ground) menuju kotak kontrol telah dipotong dan hilang sepanjang kurang lebih 5 meter.
Kabel yang mengandung tembaga berharga tersebut merupakan jalur pengiriman sinyal penting dari sensor ke sirene peringatan, sehingga putusnya kabel ini menyebabkan seluruh sistem koneksi EWS lumpuh total.
Kecaman Warga dan Desakan Hukum
Seorang warga Lere sekaligus alumni Universitas Tadulako, Aqsal, dengan tegas mengutuk perbuatan tak bermoral ini. Ia menekankan bahwa EWS adalah sarana kemanusiaan yang krusial, terutama setelah tragedi tsunami dahsyat pada 28 September 2018 yang menewaskan ribuan orang.
Aqsal mendesak aparat kepolisian untuk tidak hanya menangkap pelaku pencurian, tetapi juga menelusuri hingga ke penadah barang curian, khususnya tukang besi tua, karena nilai ekonomi tembaga inilah yang memotivasi aksi kejahatan tersebut. Ia menegaskan, pelaku pantas dihukum berat karena mengabaikan keselamatan jiwa.
Kelemahan Pengamanan Fasilitas
Masalah keamanan fasilitas EWS ini menjadi sorotan utama. Aqsal mengemukakan, berdasarkan pantauan media dan video yang beredar luas di media sosial, menara sirene EWS yang merupakan bagian dari program Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) yang didukung dari Bank Dunia, BNPB, dan BMKG tersebut belum dilengkapi dengan pagar pengaman. Kondisi ini memudahkan oknum penjahat untuk masuk dan melakukan aksinya.
BPBD Kota Palu melalui Irfan Suebo membenarkan ketiadaan pagar pengaman tersebut. Pihak BPBD kini telah mengambil langkah proaktif dengan menyerahkan bukti rekaman CCTV kepada Polsek Palu Barat, Polresta Palu. Harapannya, rekaman ini dapat segera digunakan untuk mengidentifikasi, menangkap pelaku, dan mengungkap motif di balik kejahatan yang mengancam keselamatan publik ini.
BPBD juga mengimbau seluruh masyarakat untuk turut serta menjaga fasilitas vital ini sebagai tanggung jawab bersama demi keamanan kolektif. Bahkan Irfan sangat berharap, agar siapapun yang mengetahui peritiwa ini agar ikut membantu aparat berwajib untuk mempermudah pengungkapan.
Sejarah Kelam Tahun 2018
Dihimpun dari berbagai sumber, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengukir sejarahnya dengan tinta hitam pekat pada petang 28 September 2018. Momen itu bukan sekadar guncangan, melainkan koalisi tiga bencana geologis: gempa tektonik kuat, gelombang tsunami yang menerjang, dan fenomena likuifaksi yang menghancurkan, yang secara simultan menyebabkan kehancuran infrastruktur dan merenggut ribuan nyawa.
Seluruh rangkaian tragedi ini bermula dari aktivasi Sesar Palu-Koro, sebuah patahan mendatar yang melintasi jantung Teluk Palu. Area ini memang dikenal sebagai salah satu titik paling rawan aktivitas seismik di Nusantara.
Puncaknya terjadi pada pukul 17.02 WITA. Setelah beberapa kali getaran pembuka, guncangan utama meledak. Kekuatannya, yang mulanya diperkirakan M 7,7, kemudian disepakati oleh BMKG sebagai M 7,4. Episentrum gempa berada di kedalaman dangkal wilayah Donggala.
Meskipun gempa ini memiliki mekanisme pergerakan strike-slip, yang biasanya tidak menghasilkan tsunami besar, peringatan dini tetap dikeluarkan. Namun, hanya dalam rentang waktu sekitar 34 menit, peringatan itu dicabut. Keputusan tersebut bertepatan dengan detik-detik mengerikan gelombang laut mulai meninggi.
Beberapa saat setelah gempa mengguncang, Teluk Palu justru menjadi medan amukan tsunami. Gelombang laut, yang diperkirakan dipicu oleh longsoran sedimen di bawah air teluk, meluncur cepat. Kawasan pesisir, termasuk area padat aktivitas di Pantai Talise, disapu ombak dengan ketinggian sekitar 0,5 hingga 3,0 meter. Dampaknya sangat parah, di mana bangunan porak-poranda, dan kapal-kapal besar seperti KM Sabuk Nusantara terdampar puluhan meter ke darat.
Namun, momok geologis paling mematikan adalah likuifaksi. Tanah yang tadinya padat tiba-tiba kehilangan daya dukungnya akibat getaran, berubah menjadi massa lumpur yang bergerak. Dua permukiman menjadi saksi bisu fenomena ini, yakni Kelurahan Petobo dan Perumnas Balaroa. Di Petobo, ratusan rumah ditelan dan terkubur oleh aliran lumpur setinggi 3 hingga 5 meter. Sementara di Balaroa, tanah bergerak tak menentu, mengakibatkan pergeseran vertikal ekstrem, tanah naik 2 meter di beberapa tempat dan ambles hingga 5 meter di tempat lain, mengubur seluruh kawasan.
Akibat serangan tiga dimensi ini, Palu menanggung beban kerugian yang masif. Data resmi mencatat lebih dari 4.340 korban jiwa meninggal dunia, gabungan dari korban gempa, tsunami, dan likuifaksi. Selain ribuan korban luka, banyak pula yang dinyatakan hilang.
Jantung kota pun sempat berhenti berdetak. Infrastruktur penting, termasuk ikon kota Jembatan Palu IV (Jembatan Kuning), hancur lebur. Fasilitas vital seperti listrik, komunikasi, dan air bersih mati total. Akses darat utama, seperti jalur Palu-Donggala, terputus akibat tanah longsor dan kerusakan jembatan.
Tragedi 2018 adalah pengingat pahit, tetapi juga membangkitkan kesadaran kritis masyarakat Palu akan kerentanan geografis mereka. Peristiwa ini menjadi pendorong utama untuk memperkuat Sistem Peringatan Dini (EWS) dan mematri budaya siaga bencana secara permanen di seluruh wilayah. Dan, mengapa kesadaran masih tetap menipis dengan cara mencuri kabel yang sangat berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia.












