“Sampai Jakarta, Kamu Saya Cerai!” Kisah Menkeu Purbaya yang Nyaris Putus Sekolah S3 di Amerika

Perjalanan Purbaya Yudhi Sadewa dari Insinyur ke Menteri Keuangan

Seorang menteri keuangan yang kini memimpin kebijakan fiskal negara, Purbaya Yudhi Sadewa, ternyata memiliki kisah hidup yang penuh liku dan perjuangan. Dari latar belakang sebagai insinyur hingga menjadi ekonom ternama, kisahnya menginspirasi banyak orang.

Awal Kehidupan Sebagai Insinyur

Purbaya Yudhi Sadewa awalnya adalah seorang insinyur lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia bekerja selama lima tahun di Schlumberger Overseas, sebuah perusahaan migas internasional dengan gaji yang sangat menjanjikan. Namun, karier yang stabil ini ia tinggalkan demi cinta. Sang kekasih—yang kemudian menjadi istrinya—memberikan syarat mutlak jika ingin menikah: Purbaya harus berhenti bekerja dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktoral (S3).

Dengan keyakinan diri yang tinggi, Purbaya setuju. Ia memilih jurusan Ekonomi di Purdue University karena mengira bahwa ekonomi lebih mudah dibandingkan bidang lain. “Saya pikir gampang, mampuslah ternyata. Ternyata itu susah banget,” kenangnya dalam sebuah podcast.

Kesulitan di Amerika Serikat

Kesalahan persepsi ini membuat Purbaya menghadapi tantangan besar. Beralih dari S1 Teknik langsung ke S3 Ekonomi tanpa pendidikan S2 membuatnya kesulitan. Matematika ekonomi yang rumit menjadi tantangan besar baginya.

Setelah beberapa bulan berjuang, Purbaya merasa tidak sanggup lagi. Ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia pada bulan Juni. Di sinilah momen krusial terjadi. Istrinya memberikan ultimatum keras: “Oke Juni kita pulang. Sampai Indonesia, sampai Jakarta, kamu saya cerai.”

Ancaman tersebut membuat Purbaya merasa terjepit. Ia telah keluar dari pekerjaan dengan gaji besar, tabungan habis, dan jika pulang tanpa gelar, ia juga akan kehilangan istri.

Semangat yang Terbangun dari Ultimatum

Ultimatum tersebut justru menjadi bensin bagi semangat Purbaya. Ia memutuskan untuk bertarung habis-habisan di perpustakaan. Rutinitasnya berubah drastis; ia belajar dari pagi hingga malam hari.

Istrinya juga menjadi pendukung yang luar biasa. Setiap jam makan siang dan makan malam, ia datang membawa rantang makanan agar Purbaya tidak perlu keluar perpustakaan mencari makan. “Saya makan 15 menit, selesai, belajar lagi,” ujarnya.

Temannya di kampus memberikan julukan unik kepada Purbaya, yaitu “Bu Tani”, karena kebiasaan istri yang rutin mengantarkan makanan.

Kesuksesan yang Mengubah Hidup

Kerja keras dan dukungan sang istri terbayar lunas. Purbaya lulus paling cepat dibandingkan teman-temannya dengan hasil yang memuaskan. Bekal ilmu tersebut membawanya berkarier cemerlang di Danareksa, menjadi deputi menteri, petinggi LPS, hingga akhirnya dipercaya mengelola keuangan negara.

Dalam podcast tersebut, Purbaya mengakui bahwa keputusan istri untuk memaksakan pendidikan adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Kehidupannya yang kini sukses berawal dari titik balik yang dramatis.

Exit mobile version