Harga Cabai Rawit Domba di Tasikmalaya Tembus Rp80.000 per Kg Jelang Nataru

Kenaikan Harga Cabai di Pasar Tradisional Kota Tasikmalaya

Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026, harga komoditas sayuran jenis cabai di beberapa pasar tradisional yang ada di Kota Tasikmalaya terus mengalami kenaikan. Hal ini menjadi perhatian masyarakat, terutama para pedagang dan konsumen yang membeli cabai untuk kebutuhan sehari-hari.

Harga Cabai Mengalami Peningkatan Signifikan

Berdasarkan pantauan di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Senin, 7 Desember 2025, harga cabai jenis cabai rawit domba mencapai Rp 80.000 per kilogram. Sebelumnya, harga cabai rawit jenis domba hanya dijual dengan kisaran Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram. Selain cabai rawit domba, komoditas sayuran jenis cabai yang juga mengalami kenaikan adalah cabai merah keriting. Harga cabai merah keriting kini dijual Rp 75.000 per kilogram, sedangkan cabai merah besar biasa dijual rata-rata Rp 65.000 per kilogram.

Salah satu pedagang di Pasar Cikurubuk, Hj Risma (49), mengatakan bahwa jenis cabai yang naik paling tinggi adalah cabai rawit domba. Ia menyebutkan bahwa cabai rawit domba yang biasanya dijual dengan kisaran harga Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram, saat ini mencapai Rp 80.000 per kilogram.

“Yang naiknya paling parah itu cabai rawit jenis domba dan cabai merah lokal biasa. Pembeli juga jadi banyak yang mengeluh dan tidak jadi beli,” kata Risma, saat ditemui di kiosnya.

Menurut Risma, selama ini jenis cabai rawit domba lebih banyak dibeli masyarakat untuk bahan pengolah makanan, seperti ayam geprek, seblak, dan yang lainnya. “Oleh karena itu, pembeli umumnya membeli dalam jumlah banyak untuk diolah menjadi makanan dan dijual kembali,” ujarnya.

“Harga cabai sekarang mah bukan naik lagi, Pak, tapi pindah harga, sehingga harganya lebih pedas dibanding rasanya,” ujarnya.

Ia menduga, kenaikan harga cabai terjadi karena permintaan banyak dan suplai berkurang karena faktor cuaca. Banyak petani cabai yang gagal panen akibat tanamannya terserang hama kering atau yang biasa disebut patek.

“Naiknya sekitar semingguan, atau mungkin juga karena sudah memasuki musim hujan di beberapa daerah, sehingga banyak cabai yang busuk,” kata dia.

Pengurangan Jumlah Pembelian oleh Pedagang

Sementara itu, pedagang lainnya di Pasar Cikurubuk, H Enung (52), mengatakan bahwa harga sayuran jenis cabai di kiosnya juga mengalami kenaikan. Akibatnya, jumlah pembeli cabai berkurang. Atas kondisi tersebut, Enung pun mengurangi jatah mengambil ke bandar cabai. Biasanya ia mengambil 30 kilogram. Namun, saat ini dikurangi hanya setengahnya saja atau hanya 55 kilogram.

Enung menambahkan, kenaikan harga cabai saat ini merupakan yang tertinggi setelah terakhir naik cukup tinggi pada momen lebaran lalu. Enung juga mengatakan, saat ini kenaikannya yang cukup tinggi hanya terjadi pada komoditas cabai. Sementara itu, harga komoditas sayuran lainnya walau ada kenaikan, relatif standar.

Dampak pada Konsumen dan Warung Makan

Tingginya harga cabai di pasaran saat ini tentu saja dampaknya sangat dirasakan oleh konsumen. Salah satunya, para pemilik rumah makan warungan. Menurut pemilik warung nasi, mereka terpaksa mengurangi kadar cabai untuk setiap makanan yang mereka jual.

“Ya sekarang mah untuk bumbu, cabainya kita kurangi. Termasuk untuk sambel juga cabainya kita kurangi, sehingga jangan heran kalau sambal sekarang tidak pedas,” ujar Dedeh (43), salah seorang penjual warung nasi di Jalan Tarumanagara, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Hal yang sama juga disampaikan Eli Hasanah (43), salah satu pemilik warung rencang (warcang) di Sukagalih, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya. Eli mengatakan, tingginya harga cabai, dampaknya sangat dirasakan oleh para pemilik rumah makan warungan, seperti dirinya.

“Ya, karena harga cabai pada naik, untuk bumbu, cabainya kita kurangi. Banyak juga yang komplain karena kurang pedas. Tapi setelah saya jelaskan, mereka juga mengerti, daripada harganya kita naikin,” ujar Eli.

Penyebab Kenaikan Harga Cabai

Ditemui terpisah, Kepala Dinas Koperasi UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Tasikmalaya Sofian Zaenal Mutaqien mengungkapkan, tingginya harga cabai di pasaran saat ini dipicu oleh pasokan yang kurang.

“Ya karena iklim, produktivitas di petani kurang sehingga pasokan ke pasar berkurang dan dipastikan berdampak pada kenaikan harga,” ucapnya.

Apalagi, kata Sofian, mayoritas pasokan cabai ke pasar-pasar yang ada di Kota Tasikmalaya selama ini didatangkan dari luar daerah, yaitu dari Kabupaten Garut dan Kabupaten Ciamis.

“Kita ini masih dipasok dari luar. Sementara saat ini produktivitas di petani kurang, dan permintaan tinggi,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Sofian, untuk mengurangi ketergantungan pemenuhan kebutuhan cabai dari luar, Pemkot Tasikmalaya sudah menggulirkan program setaman cinta.

“Program ini mengarahkan warga untuk bisa mememuhi kebutuhan pangan sendiri, yaitu melalui pemanfaatan lahan pekarangan dengan cara menanam tanaman yang dibutuhkan, seperti cabai. Jadi, tidak perlu bergantung kepada pasar,” ujar Sofian.

Exit mobile version