Daerah  

Menerobos Hutan Tilu yang Rindang

Keindahan yang Membuat Kita Terpikat

Ada suatu tempat yang begitu indah, tapi untuk menikmati keindahan itu kita tidak mau berlama-lama. Seharusnya, jika kita sudah berkunjung ke tempat indah itu, pastilah kita ingin diam dalam waktu yang lama untuk meresapi keindahan tersebut. Tempat yang indah itu adalah hutan Gunung Tilu. Selain indah, hutan ini bakal membius kita dengan kesunyian.

Profil Hutan Gunung Tilu

Hutan Gunung Tilu adalah sebuah hutan alam primer bertipe hutan hujan tropis pegunungan. Hutan ini berstatus Cagar Alam yang ditetapkan Menteri Kehutanan sejak tahun 1978 dengan luas mencapai 8000 hektar. Namun ketika diukur ulang pada tahun 2012, luas kawasan hutannya menjadi 7.478 hektar.

Cagar Alam Gunung Tilu ini mempunyai ekosistem hutan yang masih utuh dan terjaga baik. Letak cagar alam ini berada di ketinggian antara 1000 hingga 2434 meter di atas permukaan laut (mdpl). Hutan ini menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati baik itu flora dan fauna, yang sebagian terancam punah keberadaannya. Posisi cagar alam ini berada di Kabupaten Bandung, tepatnya mencakup wilayah Kecamatan Pasirjambu dan Pangalengan.

Dari rumah saya yang berlokasi di dekat pintu tol Kopo (jalur tol Cileunyi – Padalarang) di Kota Bandung, jarak ke cagar alam tersebut sekitar 23 kilometer. Waktu tempuh saat itu dengan menggunakan sepeda motor adalah 1,5 jam.

Pengalaman Menelusuri Hutan Gunung Tilu

Secara kebetulan, di minggu lalu saya berkesempaatan bisa merasakan keindahan hutan Gunung Tilu. Sebetulnya, tujuan awal adalah sarapan pagi di warung nongkrong para pesepeda di daerah pesawahan di Soreang (ibukota Kabupaten Bandung). Warung tersebut terletak dekat dengan Stadion si Jalak Harupat, salah satu stadion yang dipakai Persib Bandung beberapa tahun ke belakang.

Seusai makan, saya melontarkan ide pada istri, “Bagaimana kalau kita terusin aja momotorannya hingga ke Ciwidey?” Dan istri saya pun mengangguk setuju sambil tersenyum manis. Jadi, akhirnya saya dan istri melanjutkan perjalanan. Kita berdua sering meluangkan waktu untuk bepergian dengan naik motor. Tempat yang dituju, yang dekat-dekat saja. Di sekitar wilayah Bandung saja.

Ketika sudah memasuki jalan raya Soreang – Ciwidey, kondisi lalu lintas sudah semakin padat. Maklum karena sudah musim liburan anak sekolah. Dan Ciwidey menjadi salah satu tujuan wisata para turis jika berkunjung ke Bandung. Selain Lembang yang sering macet jika musim liburan tiba, maka Ciwidey pun mengalami juga hal yang sama.

Saat motor diisi bensin pertalite di SPBU, saya pun berkata ke istri, “Kondisi macet ini bisa membuat kita lama di jalan. Kalau diajak ke hutan mau nggak? Itu tuh hutan yang dulu kita lewati.” “Ayo, gassssskeuuunn…..” kata istri saya. Saat itu, jarum jam menunjukkan angka 9 pagi.

Akhirnya, setelah motor melaju lagi, sekitar 500 meter dari SPBU saya pun mengambil jalan belok kiri masuk ke jalan pedesaan. Jalan itu adalah jalan Pasirjambu – Pangalengan. Jalan ini melewati dua desa yaitu Desa Cisondari dan Desa Mekarsari. Dua desa tersebut terkenal dengan produksi tanaman sayur mayurnya seperti tomat, cabe merah dan kol.

Selama kurang lebih 15 menit, motor menyusuri jalanan perkampungan penduduk di dua desa tersebut. Kiri kanan jalan sudah padat oleh rumah-rumah penduduk. Selain itu, ada juga sekolah dasar, mesjid hingga warung, toko, bengkel dan sebagainya. Ada juga beberapa vila milik pribadi.

Selepas pemukiman, motor melaju melewati kebun-kebun sayur penduduk kemudian akhirnya memasuki kawasan perkebunan teh. Perkebunan teh di dekat cagar alam ini adalah perkebunan teh Dewata dan Gambung. Di perkebunan teh Gambung, terdapat Pusat Penelitian Teh dan Kina. Selain itu, terdapat juga wisma yang bisa disewakan serta cafe yang berada dalam lingkungan pabrik teh.

Kesunyian dan Keindahan Hutan

Walaupun sinar matahari sudah mulai terik, namun udara terasa dingin. Dan semakin dingin karena naik sepeda motor. Terpaaan angin dingin terasa menusuk hingga tulang. Kulit pipi terasa dingin sekali. Pemandangan kiri kanan jalan alangkah indahnya dengan hamparan kebun teh yang sangat luas. Sejauh mata memandang hanya kehijauan. Hingga batas ufuk terjauh, terlihat pertemuan warna hijau perkebunan teh dengan ujung langit yang saat itu membiru. Tapi di ufuk cakrawala itu lebih sering tertutup kabut dan juga awan putih.

Jalur jalan raya nya sendiri sangat sepi. Jalur ini lebih sering dilewati oleh penduduk setempat. Kendaraan yang lewat lebih banyak sepeda motor. Tapi belakangan ini, jalur tersebut mulai ramai oleh para wisatawan yang membawa mobil untuk menuju ke Pangalengan, sebagai salah satu daerah tujuan wisata berbasis alam di sekitar Bandung. Jalur ini menjadi jalan alternatif menuju Pangalengan dari Kota Bandung.

Kondisi jalur jalannya bagus karena sudah dibeton. Sehingga perjalanan menjadi lebih cepat karena jalannya mulus. Sebelum memasuki kawasan hutan Gunung Tilu, pemandangan yang dominan adalah perkebunan teh. Tapi ada juga pemandangan pohon-pohon pinus di beberapa titik.

Selepas perkebunan teh dan hutan pinus, motor mulai memasuki kawasan hutan Cagar Alam Gunung Tilu. Sebuah papan nama di sebelaah kanan jalan memperlihatkan bahwa daerah tersebut sudah masuk dalam kawasan cagar alam. Suasana pun sudah terasa berbeda.

Pohon-pohon di kiri kanan sangat rapat. Banyak pohon besar. Jalan pun terasa gelap karena rapatnya kanopi pohon besar yang ada di setiap pinggir jalan. Kombinasi perjalanan di kiri kanan jalan adalah jurang dan lereng bukit serta sungai kecil yang airnya jernih.

Pengalaman di Dalam Hutan

Sepanjang jalan yang menembus kelebatan hutan Cagar Alam Gunung Tilu itu, tidak dijumpai pemukiman penduduk. Tidak ada rumah-rumah. Dan tidak ada juga kebun dan ladang. Karena dengan status cagar alam ini, maka fungsi konservasi lebih diutamakan untuk melindungi kenakeargaman tumbuhan dan satwa. Selain itu melestarikan ekosistem hutan dengan fungsi untuk perlindungan alam.

Hanya ada dua warung kecil yang kami jumpai sepanjang perjalanan. Warung pertama, masih terletak tak jauh dari mulut utama kawasan cagar alam. Warung sederhana yang hanya menawarkan kopi sachet dan mie rebus serta air mineral. Warungnya terletak di belokan sebuah jembatan kecil di atas sungai. Dan di atas jembatan tersebut, ada sebuah gua Belanda.

Di warung kedua, letaknya mungkin sudah tepat di tengah-tengah kawasan hutan. Saat kami berhenti untuk istirahat sejenak, di warung tersebut banyak terdapat tentara berseragam loreng hijau. Rupanya saat itu, sedang ada pelatihan survival (ketahanan hidup di alam bebas) dari kesatuan pasukan khas elit Angkatan Udara yang dikenal sebagai Paskhas AU.

Pemilik warung bercerita kalau kawasan hutan ini sering digunakan latihan survival para tentara tersebut. Saking lebatnya hutan, dulu sempat ada tentara yang tersesat sehingga harus dicari. Si bapak warung ini cerita juga kalau pohon-pohon di hutan ini adalah pohon-pohon yang sudah mulai langka, seperti pohon Saninten, Rasamala, Kiputri, Kihiang dan sebagainya. Yang membuat saya bergidik, si bapak sambil terkekeh mengatakan: “Jangan kaget yah kalau nanti ada sepasang mata melotot tajam dari sebuah pohon. Itu mah macan tutul. Masih banyak di hutan ini mah.”

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Pemandangan masih didominasi oleh pohon-pohon besar dan kerapatan aneka tumbuhan hutan. Entah mengapa, setelah mendengar cerita bapak warung itu, motor dipacu kencang. Di pikiran saya saat itu, pokoknya harus segera sampai ke Pangalengan.

Dan ternyata, lima belas menit kemudian akhirnya ujung jalan mulai memasuki kembali kawasan hutan pinus yang dibawahnya banyak ditumbuhi pohon-pohon kopi. Kawasan hutan pinus tersebut dikenal dengan Hutan Pinus Rahong, yang dikelola oleh Perhutani. Dan kini ramai menjadi obyek wisata camping di pinggir sungai, lengkap dengan wisata arung jeram dan wisata off-road dengan Land-Rover Series.

Selepas hutan pinus, akhirnya kami memasuki kawasan perkebunan teh yang sudah masuk Kecamatan Pangalengan. Di perkebunan teh tersebut, sudah banyak berdiri juga tempat wisata berupa glamping (glamor camping) berbentuk tenda dan kabin-kabin.

Akhirnya, kami sampai di Situ Cileunca di Pangalengan. Karena musim libur, tempat tersebut ramai sekali. Banyak wisatawan yang liburan di tempat tersebut. Kami sampai di Cileunca sekitar jam 11 siang. Jadi perjalanan naik motor dari Soreang hingga Situ Cileunca melewati hutan Gunung Tilu itu, efektif cuma 1 jam dengan naik motor.

Perjalanan kami teruskan hingga ke Cukul, dimana tempat tersebut adalah nama perkebunan teh. Di Cukul terdapat dua tempat menarik yaitu Villa Jerman dan bukit untuk melihat matahari terbit. Kami hanya sebentar di Cukul, lalu kembali lagi ke Situ Cileunca untuk beristrihat dan makan siang.

Entah mengapa, saat mau pulang, kami putuskan untuk kembali lagi menembus kelebatan hutan Gunung Tilu. Rencana awal, kami akan pulang momotoran dengan melewati jalan besar yaitu jalan utama Pangalengan menuju Kota Bandung. Namun terasa enggan untuk melewati jalan utama yang pasti ramai dengan banyak kendaraan dan mungkin saja macet karena musim liburan.

Dan akhirnya, kembali lah kami menembus hutan. Kami masih ingin menikmati kelebatan hutan Gunung Tilu. Saaat perjalanan pulang, hujan deras mengguyur. Tapi keindahan hutan tetap kami rasakan, semakin lengkap dengan sensasi turunnya air hujan. Dan keindahan hutan ini kita nikmati tidak lama-lama. Kenapa sebentar? Karena takut ada sepasang mata yang melotot.

Nah, jika ada yang ingin Hemat Biaya Liburan, cobalah ajak istri Anda momotoran melewati dan menembus kelebatan hutan Gunung Tilu ini. Bensin 3 liter dan makan siang berdua di warung hanya Rp 25.000, itu lah biaya yang dikeluarkan selama perjalanan momotoran ini. Catatannya, keindahannya hanya bisa dinikmati sebentar saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *