Ringkasan Berita: Kasus Kekerasan Seksual di Universitas Negeri Manado
Universitas Negeri Manado (UNIMA) Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) membebastugaskan oknum dosen berinisial D.M. setelah muncul dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswinya, Evia Maria. DM dibebastugaskan sebagai dosen imbas dugaan kasus kekerasan seksual yang ditulis oleh Evia Maria melalui surat pernyataan.
Evia Maria adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Manado (Unima) Tondano Minahasa yang ditemukan meninggal tak wajar di kosnya, Selasa (30/12/2025). Mahasiswi asal Kepulauan Sitaro Sulut itu meninggal di sebuah indekost di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulut. Wafatnya Evia Maria membuat warga Sulut menyoroti UNIMA.
Menanggapi kasus ini, Unima langsung membebastugaskan DM. Kebijakan tersebut diambil menyusul pemeriksaan internal kampus terhadap dosen yang bersangkutan pada Rabu (31/12/2025). Kepala Humas Unima Titof Tulaka menyebut, setelah diperiksa di lingkungan kampus, oknum dosen tersebut langsung menuju kepolisian. “Setelah diperiksa, oknum tersebut langsung menuju ke polisi untuk pemeriksaan,” ujar Kepala Humas Unima saat diwawancara, Kamis (1/1/2026).
Namun, saat dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Tomohon Tengah, Iptu Stenly Tawalujan, mengatakan pihaknya tidak menerima laporan terkait kasus tersebut. “Laporan tidak masuk ke kami, dia diperiksa ke Polda Sulut,” ujar Iptu Stenly saat dihubungi via telepon, Jumat (2/1/2026). Hingga berita ini diturunkan, saat dihubungi, pihak Humas Polda Sulawesi Utara belum memberikan tanggapan.
Aliansi Mahasiswa UNIMA Gelar Aksi, Soroti Kasus Pelecehan Seksual di FIPP
Mahasiswa Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UNIMA Peduli Korban Pelecehan menggelar aksi unjuk rasa di halaman kampus, Rabu (31/12/2026) lalu. Aksi tersebut menyoroti dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA. Dugaan itu disebut telah menjerat sejumlah mahasiswa, bahkan berujung pada kasus tragis korban yang mengakhiri hidup akibat depresi.
Koordinator aksi, Jemris Jurebe, menyampaikan kekecewaan atas lambannya penanganan kasus tersebut. Ia menegaskan, aliansi mendesak pihak kampus dan kepolisian segera mengambil langkah tegas. “Kami berharap UNIMA dan Kepolisian segera menindaklanjuti kasus pelecehan seksual di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi,” ujar Jemris. Menurut Jemris, investigasi menyeluruh sangat dibutuhkan agar tidak muncul korban baru.
Ia menyebut, berdasarkan informasi yang diterima aliansi, jumlah korban tidak hanya satu orang. “Bukan hanya satu korban yang meninggal karena depresi dan stres. Ada beberapa mahasiswa, baik alumni maupun yang masih aktif kuliah di UNIMA, diduga mengalami kekerasan seksual dari oknum dosen yang sama,” ungkapnya. Ia menambahkan, banyak korban memilih diam karena trauma, meski sebagian mulai memberanikan diri untuk bersuara.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sejumlah spanduk bertuliskan “Tangkap Predator Kampus!” dan “UNIMA Lindungi Mahasiswamu!”.
5 Soal Kematian Evia Maria
-
Kronologi Awal Jasad Evia Ditemukan di Indekost Matani Satu Tomohon
Dari informasi dari pihak kepolisian, peristiwa tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita. Penemuan berawal saat pemilik kost berinisial YR, yang tinggal di Kelurahan Matani Satu, menerima panggilan dari salah satu penghuni kost. Dalam panggilan tersebut, YR diberitahu bahwa ada seorang penghuni yang ditemukan meninggal. Mendengar hal itu, YR langsung bergegas menuju lokasi indekost. Setibanya di tempat kejadian, YR melihat Evia Maria berada di depan pintu masuk kost dengan kondisi sudah meninggal. Selanjutnya, YR menghubungi pihak kelurahan untuk melaporkan kejadian tersebut. Tak berselang lama, personel Polsek Tomohon Tengah langsung mendatangi lokasi kejadian. Kapolsek Tomohon Tengah IPTU Stenly Tawalujan, bersama tim identifikasi dari Polres Tomohon kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). -
Disemayamkan di Minahasa Utara
Jenazah Evia Maria disemayamkan di rumah kerabat di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut. Jenazah Evia kini disemayamkan di kediaman Kel. Pdt Roos Merry Kabuhung. Pendeta Roos merupakan tante Evi Maria yang melayani sebagai Pendeta di Jemaat GMIM Eden Mapanget. Keluarga berencana membawa pulang jenazah Evi Maria ke Ulu Siau, Kepulauan Sitaro, Sulut Rabu (31/12/2025) pagi ini. Meskipun demikian, rencana ini batal menyusul keputusan jenazah Evi akan diotopsi. Pantauan di rumah duka, puluhan orang datang melayat. Beberapa di antaranya bagian dari Ikatan Kekeluargaan Indonesia Sangihe Sitaro Talaud (IKISST) Sulawesi dan Manado. Ayah Evia, Antonius Mangolo dan adiknya, Revan serta kerabat lainnya telah tiba di Manado sejak Rabu dinihari. -
Jenazah Evia Maria Mangolo Akan Jalani Otopsi, Keluarga Temukan Lebam Biru di Tubuh
Jenazah Evia Maria Mangolo, mahasiswi Unima yang meninggal di tempat kos di Tomohon, akan menjalani otopsi di RS Kandou Manado, pada Rabu (31/12/2025). Otopsi diputuskan oleh keluarga setelah ditemukan sejumlah luka yang membiru di tubuh jenazah. Ketsia, tante dari Evia bercerita, pada Selasa (30/12/2025) malam di rumah duka di Perum CBA Gold, Mapanget, Minut, Sulut ia memperoleh sebuah dorongan untuk memeriksa kaki dari jenazah. “Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka,” katanya. Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihaknya membuka tubuh jenazah dan ditemukan tanda biru di pinggang kiri dan di paha atas. “Dari situ lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi,” katanya. Ia menuturkan, ayah dari almarhum sudah tiba sejak Rabu dini hari. Rabu pagi, ia bertolak ke Polda untuk persiapan otopsi. Dia menerangkan, sesungguhnya jenazah direncanakan pulang pada Kamis. Namun batal karena ada otopsi. Ketsia menuturkan, pihaknya menyerahkan penanganan kematian itu pada pihak berwajib. -
Unggah Story Menyentuh Sebelum Natal
Evia Maria, mahasiswi Unima yang ditemukan meninggal di Tomohon dikenal sebagai sosok yang baik, rajin, pintar dan agak pendiam. Hal ini diutarakan Ketsia, tante korban kepada Tribunmanado.com di rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut, Rabu (31/12/2025). “Ia memang pendiam, tapi rajin,” katanya. Ia bercerita, Evia sangat rajin membuat tugas kelompok. Kadang, kata dia, saat menginap di rumahnya, Evia sering lupa makan karena kerjakan tugas. “Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya,” katanya. Sebut dia, Evia juga pintar. Selain itu baik hati. Meski pendiam, Evia punya semangat tinggi untuk belajar. Dikatakannya, ia sempat menelepon Evia, apakah hendak pulang saat Natal. “Jawabnya tidak jadi, karena tidak dapat tiket,” katanya. Dirinya terakhir ketemu Evia pada beberapa bulan lalu. Kala itu Evia tengah KKN dan mencari tempat kos. “Ia dan dua temannya sempat menginap di rumah saya dan sewaktu hendak pulang saat itu hujan, ia katakan makaseh (terima kasih) Ma Abo (panggilan Ketsia),” katanya. Ia mengatakan, sang ponakan sempat mengunggah story tengah mandi di pantai bersama adiknya sebelum Natal. Lalu menyusul story lainnya. “Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado Natal untuk mama,” katanya. -
Oknum Dosen FIPP Unima Disorot Usai Ada Mahasiswi Meninggal di Kost, GMNI Minahasa: Kegagalan Serius
Salah satu oknum dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Manado (Unima) Tondano, Sulawesi Utara (Sulut) berinisial DM disorot publik. DM jadi sorotan setelah seorang mahasiswi bernama Evia Maria, ditemukan meninggal dengan kondisi tak wajar. Evia Maria ditemukan tak beryawa di sebuah indekost di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulut pada Selasa (30/12/2025). Meninggalnya Evia Maria, membuat warga Sulut heboh. Terlebih ditemukannya surat yang ditujukan kepada Dekan FIPP Unima. Dalam surat itu, ada penjelasan kronologi diduga Evia Maria, mendapat perlakuan tak menyenangkan dari oknum dosen DM itu. Kasus tersebut pun kini viral di media sosial. Para mahasiswa dan alumni ramai membagikan foto korban dan oknum dosen tersebut. Kebanyakan mereka prihatin dengan hal itu. Ada juga yang mengungkap sifat oknum dosen tersebut. N, alumni FIP Unima, mengatakan bahwa dia dan teman-temannya pernah disuruh oleh oknum dosen tersebut untuk mencuci baju. “Waktu itu saya pilih bagian menyetrika baju,” katanya, Rabu (31/12/2025). Dia juga mengungkap bahwa oknum dosen tersebut sering membahas hal tak wajar saat masuk ruang kuliah. “Dia selalu bahas soal hal intim saat masuk. Pernah juga suruh kumpul uang,” ungkapnya. Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Minahasa Rian Salu, mengatakan kasus tersebut harus diusut tuntas. “Kasus tersebut bukan peristiwa tunggal, oknum dosen tersebut telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun,” kata Riand Salu, Rabu (31/12/2025). Riand mengatakan tak ada sanksi tegas yang diberikan oleh pihak kampus selama ini. “Ini adalah kegagalan serius institusi. Ketika kekerasan seksual dibiarkan dan sanksi dijatuhkan setengah hati, korbanlah yang menanggung dampak paling tragis,” tegas Riand. GMNI Minahasa mendesak penanganan kasus secara transparan, penjatuhan sanksi tegas terhadap pelaku sesuai hukum, serta evaluasi menyeluruh sistem penanganan kekerasan seksual di UNIMA. “Kampus harus bertanggung jawab, memastikan ruang pendidikan yang aman dan manusiawi,” lanjutnya. Riand Salu berharap agar tragedi serupa tidak kembali terulang. “Tidak boleh ada lagi pembiaran. Kampus harus berpihak pada korban dan keadilan,” tutupnya.












