Penataan dan Pengembangan Situs Goa Jepang sebagai Destinasi Wisata Sejarah
Ratu Dewa, Walikota Palembang, telah mengeluarkan instruksi untuk pembersihan, perawatan, dan pengembangan situs Goa Jepang. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sektor wisata sejarah di kota Palembang pada tahun 2026. Tujuan utamanya adalah menjadikan lokasi ini sebagai destinasi yang layak dikunjungi oleh wisatawan.
Goa Jepang, yang dikenal sebagai peninggalan sejarah masa pendudukan Jepang di Palembang, membutuhkan pelestarian yang lebih baik. Ratu Dewa menekankan pentingnya menjaga nilai sejarah dari tempat tersebut. Selain itu, ia juga meminta dilakukan kajian lebih lanjut terkait cerita masyarakat mengenai adanya lubang dalam Goa Jepang yang disebut-sebut tembus ke kawasan Charitas.
“Saya minta dikaji lagi secara ilmiah, apakah benar ada lubang yang tembus ke goa di Charitas. Ini menarik dan bisa menjadi nilai sejarah tambahan, tapi harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya saat melakukan kegiatan anti mager di awal tahun 2026.
Kegiatan Anti Mager: Melawan Rasa Malas dengan Gerakan Sehat
Anti Mager, atau melawan rasa malas bergerak, merupakan inisiatif yang digagas oleh Ratu Dewa untuk menggalakkan aktivitas fisik seperti olahraga rutin, jalan kaki, atau kegiatan aktif lainnya. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk memastikan kesehatan masyarakat.
Kegiatan anti mager dilakukan oleh Ratu Dewa sambil mengecek beberapa fasilitas umum di kota Palembang. Ia mengawali kegiatan ini tepat pukul 06.00 WIB dari Titik Nol Kota Palembang, yaitu di Bundaran Air Mancur. Dengan mengenakan pakaian olahraga, ia berjalan santai namun penuh perhatian, menyusuri ruas jalan utama kota hingga finis di kawasan Goa Jepang, Kilometer 5 Palembang.
Penataan Kawasan Titik Nol dan Air Mancur
Selama perjalanan, Ratu Dewa menyempatkan diri untuk menyoroti kondisi bangunan air mancur serta penataan kawasan Titik Nol. Ia meminta OPD terkait untuk serius membenahi kawasan tersebut karena memiliki nilai sejarah tinggi.
“Bangunan air mancur dan titik nol ini harus dibangun dengan bagus dan berkelas. Tidak lama lagi kita akan memperingati peristiwa perjuangan Perang Lima Hari Lima Malam. Ini ikon sejarah Palembang,” tegasnya.
Menurut Dewa, kawasan Titik Nol bukan hanya simbol geografis, tetapi juga simbol sejarah perjuangan rakyat Palembang yang harus ditata layak sebagai ruang publik dan edukasi sejarah.
Perhatian pada Infrastruktur Jalan dan Trotoar
Selama perjalanan, Ratu Dewa aktif memantau kondisi infrastruktur jalan yang dilewati. Ia beberapa kali berhenti untuk berdiskusi dengan kepala OPD terkait kondisi aspal, drainase, hingga trotoar.
Di Jalan Kolonel Atmo, ia mengungkapkan rencana menjadikan kawasan tersebut sebagai jalur pedestrian baru setiap malam Minggu. “Jalan Kolonel Atmo akan kita jadikan kawasan pedestrian setiap malam Minggu. Ini sebagai alternatif, menggantikan pedestrian Sudirman yang saat ini fakum,” jelasnya.
Ia berharap kawasan tersebut dapat menjadi ruang interaksi masyarakat, mendorong UMKM, sekaligus menghidupkan ekonomi warga sekitar.
Penataan Pasar Cinde
Memasuki kawasan Pasar Cinde, Ratu Dewa kembali memberikan arahan. Ia meminta agar aktivitas jual beli ditata lebih tertib, khususnya posisi pedagang agar tidak terlalu ke depan.
“Penjualannya ditarik agak mundur supaya terlihat lebih rapi dan tertata. Pasar Cinde ini wajah kota juga, harus nyaman dan enak dilihat,” tuturnya.
Menurutnya, penataan pasar bukan untuk mematikan aktivitas pedagang, melainkan menciptakan kenyamanan bersama antara pedagang dan pengunjung.
Komitmen Ratu Dewa di Awal Tahun 2026
Kegiatan anti mager ini menjadi simbol komitmen Ratu Dewa di awal tahun 2026 untuk bekerja langsung di lapangan, tidak hanya dari balik meja. “Saya ingin budaya kerja kita berubah. Tidak mager, tidak hanya rutinitas. Kita harus bergerak, melihat langsung, dan bekerja nyata untuk masyarakat Palembang,” pungkasnya.
