Pengaduan Trauma dan Pelecehan yang Ditulis oleh Evia Maria Mangolo
Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswi berusia 21 tahun, meninggal dunia setelah mengalami dugaan pelecehan yang terjadi di dalam mobil. Kejadian tersebut menimbulkan perhatian luas karena keterlibatan seorang dosen Universitas Negeri Manado (UNIMA) bernama Danny. Dalam surat pengaduannya, Evia menceritakan kronologi kejadian yang membuatnya trauma dan takut.
Awal Peristiwa
Peristiwa bermula pada Jumat, 12 Desember 2025, saat dosen Danny menghubungi Evia melalui pesan singkat. Ia meminta Evia untuk memijatnya. Evia menolak karena merasa tidak pantas dan bukan bagian dari kewajibannya sebagai mahasiswa. Ia merasa tertekan dan dilecehkan secara verbal maupun fisik.
Evia mencoba keluar dari situasi tersebut dengan berpikir bahwa ada sesuatu yang akan diubah. Ia akhirnya pergi ke tempat parkiran kampus untuk menemui dosen Danny. Sebelum pergi, ia memberi tahu teman-temannya tentang rencananya dan mengaktifkan fitur live location di grup WhatsApp.
Di Dalam Mobil
Setelah sampai di tempat parkiran, dosen Danny meminta Evia naik ke mobilnya. Di dalam mobil, ia memaksa Evia untuk duduk di depan dan memintanya untuk memijat. Evia menolak, tetapi dosen Danny terus memaksa. Tangan dosen tersebut menyentuh paha Evia tanpa izin sambil berkata bahwa urut itu enak jika dilakukan sambil tidur.
Evia merasa semakin tidak nyaman dan takut. Ia mencoba menolak lagi, tetapi dosen Danny terus mengganggunya. Bahkan, ia mencoba mencium Evia, yang membuatnya menangis dan takut. Meskipun Evia menolak, dosen tersebut terus memaksa hingga akhirnya membiarkan mobil berjalan.

Kekerasan Fisik dan Verbal
Selama perjalanan, dosen Danny terus mengganggu Evia dengan perkataan dan tindakan yang tidak pantas. Ia bahkan menyuruh Evia untuk “menghayati” hubungan mereka dan mengajaknya ke kamar. Evia merasa jijik dan tidak tahan dengan perilaku dosen tersebut. Ia memutuskan untuk pulang dan menemui teman-temannya.
Setelah kejadian tersebut, Evia mengalami trauma mendalam dan rasa takut yang sangat besar. Ia tidak lagi merespons pesan dari dosen Danny setelah 16 Desember 2025. Ia juga merasa malu dan cemas jika ada mahasiswa lain yang melihatnya turun atau naik di mobil dosen tersebut.
Surat Pengaduan
Dalam surat pengaduannya, Evia memohon kepada pihak pimpinan kampus agar menindaklanjuti masalah ini dan memberikan sanksi tegas kepada dosen Danny. Ia berharap kejadian serupa tidak menimpa mahasiswa lain. Surat tersebut kini menjadi salah satu dokumen penting dalam penelusuran dugaan pelecehan yang dialaminya sebelum meninggal dunia.
Evia juga menuliskan bahwa tekanan mental dan rasa malu membuatnya sulit untuk bangkit dari trauma. Ia merasa tertekan dan tidak bisa lagi menghadapi dosen tersebut. Ia berharap pihak kampus dapat segera bertindak untuk mencegah hal serupa terjadi di masa depan.












