Daerah  

Nasib Guru Aceh Terdampak Banjir, Harus Menyeberangi Sungai Naik Sling

Perjuangan Guru dan Siswa di SMPN 44 Takengon

Perjuangan para guru yang mengajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 44 Takengon patut diapresiasi. Mereka harus menempuh jalur ekstrem untuk bisa sampai ke sekolah. Salah satu akses utama yang digunakan adalah sling atau gondola, yang menjadi satu-satunya jalan menuju sekolah tersebut.

Sekolah yang dimaksud berada di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini disampaikan oleh guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Shapriana Dewi, kepada Kompas.com. Ia menceritakan pengalaman naik sling yang penuh tantangan. “Kaki dingin, ditambah kawan bawa durian pas pulang, ketusuk-tusuk kaki kita ya Allah, aku sendiri mengekspresikan rasa takut itu dengan ketawa,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Menurut Dewi, suasana mencekam saat naik sling bahkan kerap jadi bahan candaan rekan-rekannya yang menunggu di luar gondola. Meski dinilai tidak aman, sling tersebut menjadi satu-satunya alternatif untuk menuju sekolah. Dewi sendiri tinggal di wilayah Kabupaten Bener Meriah. Pengalaman menaiki tali baja dengan gondola tersebut merupakan kali pertama baginya. Ia mengaku tidak dipungut biaya untuk menaiki gondola tersebut. Biaya hanya dikenakan bagi warga yang mengangkut hasil pertanian naik sepeda motor dan dibayar secara sukarela untuk perawatan sling.

Para siswa, kata Dewi, hingga kini belum banyak yang masuk sekolah karena sebagian besar keluarga mereka terdampak bencana dan masih di posko pengungsian. “Kami belum pernah masuk sekolah (belajar), karena anak-anak tidak memungkinkan datang ke sekolah, siswa berasal dari Kampung Bah dan Serempah,” kata Dewi. “Sementara Serempah sudah ‘zona merah’, tidak layak huni lagi. Jadi anak-anak berada Pasar Simpang Empat,” ucapnya.

Jika harus ke sekolah, para murid juga terpaksa harus menaiki sling. Namun, banyak orang tua yang khawatir dan takut melepas anaknya melalui jalur ekstrem tersebut. Selain itu, akses jalan menuju sekolah dari Serempah masih terdapat longsoran. “Sementara kami memberikan treatmen trauma untuk anak-anak,” ucapnya. Meski demikian, Dewi memastikan aktivitas belajar mengajar akan kembali diaktifkan mulai 12 Januari 2026. “Apapun kondisinya, proses belajar mengajar akan kami lakukan pada hari Senin,” sebut Dewi.

Ia menambahkan, sebagian besar guru yang mengajar berasal dari luar Kampung Bah, termasuk dari wilayah Kota Takengon, yang sehari-hari menggunakan sepeda motor menuju SMA Negeri 44 Takengon. Jumlah siswa di sekolah tersebut tercatat sebanyak 45 orang, dengan total 20 guru. Sejak Senin lalu, para guru hanya melakukan kunjungan serta kegiatan pendampingan psikologis atau treatment trauma bagi siswa. “Kalau aktif, apapun kondisinya kami harus mengajar, tapi maunya jangan pakai sling lagi bang,” ungkap Dewi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Kompas.com, jembatan darurat menuju Kampung Burlah saat ini sedang dalam proses pengerjaan dan diperkirakan akan rampung pada pekan ini.

Pengalaman Lain dari Guru PAI

Kisah serupa juga dialami oleh Rahmi Sasmita Sari, yang mengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMPN 44 Takengon. Tahun ajaran baru sudah dimulai pada 5 Januari 2026. Bagi Mita (panggilan akrab Rahmi Sasmita Sari), dua hari terakhir ini menjadi pengalaman luar biasa. Sebab, ia harus menyeberang sungai dengan tali sling baja untuk menuju Desa Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.

Setiap pagi, dia bersama guru lainnya mengantre satu per satu untuk menaiki kotak besi di atas tali sling. Satu kotak diisi dua orang, lalu ada warga menarik tali di ujung agar kotak bergerak ke seberang sungai.

Selain sling dengan kotak, kawasan tersebut juga dipasang tali sling lainnya yang bisa dilewati dengan berjalan kaki. Caranya, kaki harus menginjak sling besi, kemudian tangan berpegangan lalu berjalan pelan-pelan. Namun, Mita memilih cara menaiki kotak dan ditarik. Dari atas, terlihat kondisi Sungai Ketol keruh berlumpur.

Pada 26 November 2026 lalu, sungai tersebut meluap hingga mengakibatkan banjir. Mita mengatakan, saat ini sungai menjadi lebih luas dan jalan amblas. “Jembatannya tidak putus, hanya saja, sungainya jadi lebih luas, jalan amblas. Jalan jadi sungai, itulah yang kami lewati sekarang ini dengan sling,” terang Mita, mengutip Kompas.com.

Proses pembangunan jembatan darurat sedang dikerjakan, namun belum rampung. Dia berharap, jembatan tersebut segera rampung, sehingga bisa ke sekolah dengan sepeda motor seperti sebelumnya. Saat ini, proses belajar mengajar belum dimulai dengan normal. Guru datang ke sekolah untuk mempersiapkan bahan ajar semester baru sembari menunggu pelajar datang.

Beruntung sekolah itu selamat dari longsor dan banjir. Sehingga para pelajar bisa datang ke sekolah. Namun, akses menuju sekolah menjadi kendala terparah. Bukan hanya harus menaiki sling, mereka juga harus melewati longsor di sepanjang jalan. “Kalau longsor kami bisa lewati pelan-pelan dan hati-hati. Kalau sungai ini, tidak ada cara lain, semoga bisa segera rampung jembatan daruratnya,” pungkas Mita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *