Madiun, Kabupaten Madiun di Jawa Timur menjadi salah satu daerah sentra buah durian yang terkenal. Rasa buah yang legit dan manis serta harga yang terjangkau menjadikan durian khas Madiun diminati saat musim panen tiba. Tidak hanya itu, seorang guru asal Desa Segulung, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Ayuk Prayogi Rahayu (39) berhasil mengolah durian menjadi produk kuliner yang menarik perhatian masyarakat, yaitu bolen durian.
Ayuk, seorang guru Bahasa Indonesia di SMP PGRI 2 Dagangan, memulai ide pembuatan bolen isi durian setelah pulang kampung setelah merantau di Kota Semarang pada tahun 2021. Saat itu, ia melihat warga di desanya menghadapi kesulitan karena harga durian anjlok selama musim panen raya. Beberapa buah bahkan hanya dijual dengan harga Rp 5.000 per buah untuk yang tidak layak atau busuk.
Dari situasi tersebut, Ayuk berpikir bagaimana cara membuat durian menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi sekaligus memberdayakan warga sekitar. Ia pun mencoba membuat bolen isi durian dari durian yang diperoleh dari petani di kampung halamannya. Hasilnya cukup menjanjikan. Bolen durian yang dibuatnya banyak diminati dan terus berkembang hingga saat ini.
Proses pembuatan bolen durian tidak terlalu rumit. Buah durian dikupas dan dagingnya dihaluskan menggunakan blender hingga lembut. Selanjutnya, durian dicampur dengan tepung, gula, dan margarin hingga menjadi selai durian. Selai tersebut kemudian dibungkus dengan kulit bolen, dilumuri kocokan telur, dan ditaburi keju. Untuk proses pemanggangan, butuh waktu sekitar 40 menit dengan suhu 200 derajat Celsius.
Dalam sehari, Ayuk bersama lima karyawan mampu memproduksi antara 400 hingga 500 buah bolen. Selain bolen durian, ia juga membuat berbagai produk serba durian lain seperti bolu gulung durian, kemplang durian, stik durian, egg roll durian, dan bolen pisang. Namun, produk yang paling diminati adalah bolen durian dan kemplang durian.
Untuk memastikan produksi tidak tergantung pada musim panen, Ayuk menyimpan durian dalam freezer hingga enam hingga tujuh bulan ke depan. Dengan stok ini, ia bisa terus memproduksi bolen durian hingga musim panen berikutnya.
Dalam hal pemasaran, Ayuk menitipkan produknya ke pondok durian atau penjual durian serta melalui media sosial. Harga bolen durian yang ia jual cukup terjangkau. Satu kotak bolen durian berisi delapan buah dibanderol dengan harga Rp 25 ribu. Untuk produk lain seperti bolu gulung durian dijual Rp 10 ribu per mika dan kemplang durian seharga Rp 12 ribu per bungkus.
Area penjualan Ayuk mencakup wilayah Madiun dan sekitarnya. Namun, produknya sudah sampai ke Jakarta, Kalimantan, dan Bali. Dalam sehari, ia bisa menjual 30 hingga 40 dus. Omzet bulanan bisa mencapai jutaan rupiah, yang membantu tambahan penghasilan keluarganya.
Meski begitu, Ayuk masih kesulitan menjual produknya dalam jangka panjang karena tidak menggunakan pengawet. Bolen durian yang ia buat memiliki masa kadaluarsa maksimal empat hari. Meskipun demikian, usaha yang ia jalani tetap menunjukkan potensi besar dalam pengembangan produk olahan durian yang unik dan bernilai ekonomi tinggi.
