Penataan Jalan HR Rasuna Said: Fokus pada Keselamatan dan Aksesibilitas
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, menegaskan komitmennya untuk mengawal penataan Jalan HR Rasuna Said agar berjalan terintegrasi, berorientasi pada keselamatan, serta ramah bagi seluruh pengguna jalan, termasuk penyandang disabilitas. Menurut Yuke, pembongkaran tiang monorel tersebut bukan sekadar merapikan wajah Kota Jakarta, melainkan juga menjadi momentum penting untuk membenahi infrastruktur jalan secara menyeluruh.
Yuke menekankan bahwa trotoar harus menjadi elemen utama dalam penataan kawasan tersebut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta memastikan pembangunan trotoar yang layak, nyaman, dan aman, terutama bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas. Ia menilai aksesibilitas merupakan indikator penting dalam menilai keberhasilan pembangunan infrastruktur perkotaan. “Jadi kita berharap trotoar yang mumpuni dan ideal, ini yang harus ada di setiap wilayah di Jakarta,” kata Yuke.
Lebih lanjut, Yuke menjelaskan penataan kawasan HR Rasuna Said juga mencakup evaluasi terhadap kondisi geometrik jalan yang dinilai masih kurang optimal. Ia menyebut, terdapat sejumlah titik jalan dengan kontur naik dan turun yang perlu ditata ulang agar lebih aman dan efisien bagi seluruh pengguna jalan.
Dalam rencana penataan tersebut, kawasan HR Rasuna Said akan dibagi ke dalam beberapa fungsi jalur. Pemerintah akan menyediakan satu jalur khusus Busway, tiga jalur utama untuk kendaraan umum, serta satu jalur sepeda sebagai upaya mendorong penggunaan transportasi berkelanjutan. Yuke menegaskan, Komisi D DPRD DKI Jakarta akan terus mengawasi pelaksanaan penataan kawasan tersebut dengan mengedepankan prinsip keselamatan, kenyamanan, dan aksesibilitas. Ia berharap integrasi antara jalur kendaraan, transportasi umum, pesepeda, dan pejalan kaki dapat berjalan seimbang dan saling mendukung.
Dengan adanya kajian perencanaan sebelumnya, Yuke optimistis penataan Jalan HR Rasuna Said tidak akan menimbulkan persoalan baru, khususnya terkait kemacetan lalu lintas. Sebaliknya, ia meyakini penataan kawasan justru akan meningkatkan kualitas lalu lintas serta kenyamanan aktivitas masyarakat di kawasan tersebut. “Mudah-mudahan nanti ke depan Jalan Rasuna Said ini akan lebih bagus lagi dan tidak membuat macet, justru malah semakin bagus,” pungkas Yuke.
Proses Pembongkaran Tiang Monorel
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mulai melakukan pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). Pembongkaran tersebut menjadi bagian dari penataan kawasan Rasuna Said yang selama ini dipenuhi tiang-tiang monorel mangkrak. Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jakarta, Heru Suwondo, mengatakan, proses pembongkaran hingga penataan kawasan Rasuna Said ditargetkan rampung dalam waktu delapan bulan atau sekitar September 2026.
“Memang saat ini kita sedang purchase untuk pengadaan, untuk penyediaannya siapa yang mengerjakan nantinya, dan ini sedang berprogress. Kami juga belum tahu siapa nanti yang akan menjadi pemenang,” kata Heru saat rapat bersama Komisi D DPRD Provinsi Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Heru menjelaskan, saat ini pekerjaan pembongkaran masih dilakukan oleh Satgas Dinas Bina Marga Provinsi Jakarta. Namun ke depan, pekerjaan tersebut akan dilanjutkan oleh pihak ketiga setelah proses pengadaan rampung. Ia berharap pemenang proyek dapat ditetapkan pada pekan depan agar pekerjaan dapat berjalan optimal sesuai target waktu yang telah ditentukan. “Kalau sampai minggu depan belum dapat pemenang ya mungkin agak lama sedikit lah, tapi memang sudah kita ikat waktunya di delapan bulan,” katanya.
Meski demikian, Heru menegaskan pihaknya akan berupaya agar penataan kawasan Rasuna Said bisa selesai lebih cepat. Hal itu dilakukan agar aktivitas pembongkaran tidak terlalu lama mengganggu pengguna jalan. Adapun total terdapat 109 tiang monorel yang akan dibongkar di kawasan tersebut. Sebagian tiang masih berupa besi, sementara beberapa lainnya telah terikat beton.
“Nah yang kami lakukan saat ini adalah kami lakukan pemotongan untuk besi-besinya terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru dilanjutkan dengan pembongkaran untuk betonnya,” jelas Heru. Ia memastikan proses pembongkaran tidak akan menutup seluruh badan jalan Rasuna Said. Penutupan hanya dilakukan di jalur lambat di sekitar lokasi tiang yang sedang dibongkar, sementara jalur cepat tetap bisa dilalui kendaraan.
Untuk meminimalisir kemacetan, pekerjaan pembongkaran juga dilakukan pada malam hari, yakni pukul 23.00 hingga 05.00 WIB. “Dengan begitu diharapkan tidak terlalu berdampak terhadap kemacetan lalu lintas,” ujarnya.
Selain pembongkaran tiang monorel, Pemprov Jakarta juga akan melakukan penataan jalan. Heru menyebut, pemisah antara jalur cepat dan jalur lambat akan dihilangkan serta ketinggian jalan akan disamakan. “Karena ini jalan antara jalur cepat dengan jalur lambat ini ada beda tinggi, beda tinggi ini sampai yang tertinggi sekitar 30-an cm. Jadi memang kami harus menata jalan jalur cepat, jalur lambat kita samakan,” kata Heru.
Tak hanya itu, penataan juga dilakukan pada trotoar di sepanjang Jalan Rasuna Said. Trotoar nantinya akan disesuaikan dengan kontur jalan demi kenyamanan pejalan kaki.
