Dunia di Ambang Perang Besar Antarnegara

Perubahan Situasi Geo Politik dan Geo Strategis yang Cepat

Situasi geo politik dan geo strategis di dunia saat ini berubah dengan sangat cepat, bahkan dari hari ke jam, dan dari jam ke menit. Perubahan-perubahan ini terjadi akibat berbagai keputusan yang diambil oleh negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat.

Salah satu contoh adalah keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengambil kebijakan kontroversial setelah menangkap Nicolas Maduro, Presiden Venezuela. Pemimpin Venezuela tersebut dibawa ke New York dan diadili. Selanjutnya, Amerika menguasai serta menjual minyak milik Venezuela sebanyak 30 hingga 50 juta barel di bawah kendali langsung Presiden Donald Trump.

Kini, Amerika sedang bersiap untuk menyerang Iran, yang dianggap membahayakan kepentingan dan keamanan Amerika. Belum lagi rencana mengambil alih Greenland, wilayah teritorial Denmark, yang diketahui memiliki kandungan uranium dan tanah jarang, serta mineral yang dapat menghidupi industri dan peralatan militer. Langkah Trump ini memicu perpecahan dalam kubu NATO (North Atlantic Treaty Organization).

Tindakan yang Mengancam Kedaulatan Negara-Negara NATO

Langkah-langkah yang diambil Trump sangat membahayakan perdamaian dunia. Jerman, Perancis, dan Norwegia telah mengirim pasukannya ke Greenland untuk penjagaan dan persiapan segala sesuatunya atas rencana Trump yang dalam hitungan jam bisa menggerakkan pasukan ke belahan dunia manapun.

Greenland adalah wilayah Denmark yang terletak di Atlantik Utara, dan strategis bagi keamanan global. Denmark, sebagai anggota NATO, memiliki komitmen untuk menjaga keamanan wilayahnya dan bekerja sama dengan sekutu lainnya. Tindakan negara-negara NATO ini kemungkinan terkait dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Atlantik Utara dan kepentingan strategis Greenland.

Ancaman Terhadap Indonesia

Di wilayah Timor Tengah, seperti Iran, mungkin akan terjadi peperangan frontal besar-besaran. Sementara itu, situasi di Greenland juga menjadi perhatian khusus. Bagi Indonesia, walaupun menganut Non Blok, langkah Amerika untuk menguasai Venezuela maupun Greenland harus dipandang bukan hanya menyangkut kepentingan politik, tetapi juga demi kepentingan ekonomi, yaitu menguasai sumber daya alam.

Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi Indonesia. Negara kita dikaruniai sumber daya alam yang begitu melimpah, termasuk nikel, tanah jarang, uranium, dan energi yang dibutuhkan industri modern saat ini.

Pangkalan Militer yang Mengelilingi Indonesia

Saat ini, Indonesia telah dikepung dan dikelilingi pangkalan militer negara adidaya. Beberapa pangkalan militer Amerika Serikat mengelilingi Indonesia dari arah barat Sumatera, utara Kalimantan, hingga selatan Nusa Tenggara:

  • Barat Sumatera
  • Pulau Christmas (terletak di Samudra Hindia, bagian dari Australia)
  • Pulau Cocos (terletak di Samudra Hindia, bagian dari Australia)

  • Utara Kalimantan

  • Guam (terletak di Pasifik, teritori AS)

  • Selatan Nusa Tenggara

  • Darwin (terletak di Australia Utara)
  • Pangkalan militer di Filipina (seperti Subic Bay, meskipun tidak langsung di selatan Nusa Tenggara, tapi masih dalam radius strategis)

Pangkalan-pangkalan ini mendukung operasi militer AS di Asia Pasifik dan merupakan bagian dari strategi militer AS di kawasan, terutama terkait dengan Laut Cina Selatan dan Taiwan.

Peran Singapura sebagai Basis “Bayangan” Amerika Serikat

Belum lagi, di tetangga terdekat kita, Singapura bisa disebut sebagai basis pangkalan “bayangan” Amerika Serikat karena:

  • Kerja Sama Pertahanan: Singapura dan AS memiliki kerja sama pertahanan yang erat, termasuk akses ke fasilitas militer Singapura.
  • Fasilitas Militer: Singapura memiliki fasilitas militer modern yang bisa digunakan AS untuk operasi strategis.
  • Lokasi Strategis: Singapura terletak di Selat Malaka, jalur laut penting untuk perdagangan global.

Namun, Singapura tetap menjaga kedaulatan dan tidak secara terbuka menjadi pangkalan AS. Kerja sama ini lebih pada basis “bayangan” atau akses strategis.

Persaingan Antara Amerika Serikat dan China

Saat ini, dalam pertarungan antar negara adidaya, terjadi persaingan sengit antara Amerika Serikat dengan China, demi ambisi sebagai penguasa dunia. Jika terjadi konflik di Laut China Selatan dan perang Taiwan, maka Amerika kemungkinan akan menggunakan pangkalan terdekatnya di Filipina, seperti:

  • Cagayan: Pangkalan Angkatan Laut Camilo Osias di Sta Ana dan Bandara Lal-lo, strategis untuk menghadap ke utara ke arah Taiwan.
  • Isabela: Camp Melchor Dela Cruz di Gamu, juga strategis untuk menghadap ke Taiwan.
  • Palawan: Pangkalan Udara Antonio Bautista dan Pulau Balabac, dekat dengan Kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut Cina Selatan.

Pangkalan-pangkalan ini dipilih karena lokasinya strategis dan sudah termasuk dalam Perjanjian kerja sama pertahanan yang ditingkatkan (EDCA) antara AS dan Filipina.

Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Ketidakstabilan Global

Mau tidak mau, karena berada di teras belakang wilayah Indonesia dengan Natuna Utara, hal ini tetap saja berimbas pada Indonesia. Maka tidak salah apabila dimasa Presiden Prabowo yang sudah dirintis sejak menjabat Menteri Pertahanan, meningkatkan belanja militer dan memperkuat kekuatan militer adalah langkah yang umum dilakukan oleh negara-negara untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.

Indonesia, sebagai negara dengan populasi besar dan posisi strategis di Asia Tenggara, memiliki kebutuhan untuk memperkuat pertahanan nasional. Masa pemerintahan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan dan kini sebagai presiden, fokus pada modernisasi dan penguatan militer merupakan prioritas untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas regional.

Peran PBB dalam Menjaga Ketenangan Dunia

PBB sendiri memiliki tujuan untuk memelihara perdamaian dan keamanan dunia, mengembangkan kerja sama internasional, dan memajukan hak asasi manusia. Namun, efektivitas PBB dalam menghadapi konflik antarnegara dan penegakan hukum internasional masih dipertanyakan.

Dalam kasus Venezuela, PBB telah menyatakan bahwa tindakan AS melanggar hukum internasional, tetapi belum ada tindakan konkret yang diambil untuk menghentikan atau mengadili AS. Hal ini membuat banyak negara dan pakar hukum internasional mempertanyakan peran PBB dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

Persiapan untuk Dunia Baru

Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak bisa berbuat apa-apa, tentu kondisi ini membuat setiap negara berjaga-jaga mengingat hukum yang berlaku seperti hukum rimba, siapa kuat dialah pemenang dan berkuasa. Dan kita harus berpikir logis untuk bersiap pada kemungkinan terburuk, sebagai persiapan kepada jaman dan pola baru menuju dunia baru.

Exit mobile version