Ikan Sapu-sapu di Kali: Tanda Baik atau Buruk? Ini Penjelasan Ahli



JAKARTA,

Dominasi ikan sapu-sapu di kali atau sungai seperti Sungai Ciliwung bukanlah tanda baik bagi kualitas lingkungan. Justru sebaliknya, fenomena ini menjadi peringatan serius mengenai kondisi ekosistem yang terganggu akibat pencemaran berkelanjutan. Ikan sapu-sapu, yang umumnya berasal dari genus Pterygoplichthys (keluarga Loricariidae), asli dari Amerika Selatan dan masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias.

Menurut riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ledakan populasi ikan ini mencerminkan kerusakan ekosistem akibat pencemaran yang kompleks dan berlangsung lama. Sungai tidak lagi mampu menangani beban limbah, sehingga hanya organisme yang toleran terhadap kondisi ekstrem, seperti ikan sapu-sapu, yang bisa bertahan.

Kualitas Air Memburuk

Sungai Ciliwung menjadi salah satu contoh nyata penurunan kualitas air. Dyah Marganingrum, peneliti senior BRIN dari Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM), menjelaskan bahwa kualitas air sungai semakin memburuk karena beberapa faktor. Pencemaran tidak disebabkan oleh satu sumber tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai sumber, termasuk limbah domestik, industri, dan pertanian.

Limbah Domestik Jadi Penyumbang Terbesar

Dyah menyebutkan bahwa sekitar 80 persen air bersih yang digunakan rumah tangga berubah menjadi limbah cair. Sayangnya, sistem pengolahan air limbah belum tersedia secara menyeluruh. Akibatnya, air limbah langsung masuk ke badan sungai, baik melalui saluran drainase maupun secara langsung.

Kondisi ini diperparah oleh sampah yang terus meningkat. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah serta kurangnya kesadaran masyarakat membuat sampah terbuang ke sungai atau bantaran.

Perubahan Iklim dan Alih Fungsi Lahan Memperparah Tekanan

Selain pencemaran, perubahan penggunaan lahan di wilayah hulu DAS Ciliwung juga turut memperparah degradasi sungai. Fluktuasi debit air akibat perubahan iklim memperkuat tekanan pada sungai. Pada kondisi debit minimum, beban limbah tetap ada, sehingga kualitas air semakin buruk.

Debit air yang ekstrem melemahkan fungsi alami sungai sebagai pengencer limbah (self-purification).

Ikan Sapu-sapu Jadi Bioindikator Pencemaran

Dalam kondisi ekosistem yang tertekan, ikan sapu-sapu justru berkembang pesat. Menurut Dyah, hal ini menjadi sinyal penting. Ikan sapu-sapu dapat digunakan sebagai bio-indikator pencemaran. Dominasi ikan ini menandakan gangguan keseimbangan ekosistem dan penurunan keanekaragaman ikan lokal.

Ancaman Polutan Baru: Mikroplastik hingga Residu Farmasi

Sungai perkotaan seperti Ciliwung terpapar polutan yang lebih kompleks dibandingkan sungai pedesaan. Selain limbah organik dan nutrien berlebih, muncul pula kontaminan baru seperti mikroplastik dan residu farmasi. Jika kandungan polutan ini melampaui kemampuan self-purification, rantai makanan akan terganggu.

Yang paling mengkhawatirkan adalah potensi polutan berbahaya masuk ke tubuh organisme air, yang kemudian dikonsumsi manusia. Kondisi ini mengancam kesehatan manusia melalui mekanisme biomagnifikasi.

Riset BRIN: Logam Berat Timbal Lampaui Baku Mutu

Riset BRIN pada 2023 di DAS Ciliwung menunjukkan bahwa konsentrasi timbal (Pb) di seluruh segmen sungai melampaui baku mutu 0,03 mg/L. Di kolom air, konsentrasi Pb berkisar antara 0,045 mg/L hingga 0,11 mg/L, dengan nilai tertinggi di wilayah hilir. Sementara itu, di sedimen, konsentrasinya mencapai 0,66 mg/L.

Ikan sapu-sapu suka mengeruk sedimen, yang meningkatkan kekeruhan dan melepaskan logam berat kembali ke kolom air.

Ikan Sapu-sapu Bukan Solusi Atasi Pencemaran

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu bukan solusi untuk pencemaran. Meski tahan terhadap air tercemar, ikan ini tidak efektif sebagai bio-remediator.

Dominasi ikan ini menciptakan ekosistem dengan keanekaragaman rendah. Upaya pengendalian menghadapi banyak kendala, mulai dari reproduksi cepat hingga biaya tinggi.

Pemanfaatan Terbatas, Bukan Komoditas

KPKP DKI Jakarta saat ini memprioritaskan edukasi publik agar masyarakat tidak melepas ikan invasif ke perairan umum. Usulan restocking ikan endemik belum direkomendasikan karena kualitas air belum memenuhi standar hidup ikan.

Terkait pemanfaatan, ikan sapu-sapu hanya berpeluang dimanfaatkan secara terbatas sebagai pakan ternak, pupuk, atau tepung ikan non-pangan, dengan syarat uji logam berat dan patogen.

Bagi para peneliti, dominasi ikan sapu-sapu merupakan alarm keras bahwa Sungai Ciliwung berada di ambang krisis ekologis. Pemulihan sungai membutuhkan pendekatan terintegrasi lintas sektor, penegakan hukum yang kuat, serta peningkatan kesadaran publik.

Exit mobile version