Pembicaraan Trilateral di Abu Dhabi
Pembicaraan antara delegasi Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat (AS) akan digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pertemuan ini menjadi pertemuan pertama ketiga pihak sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yury Ushakov, mengungkapkan bahwa pembicaraan tersebut akan berlangsung sebagai bagian dari kelompok kerja trilateral untuk membahas isu keamanan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan bahwa pertemuan ini akan berlangsung selama dua hari, meskipun belum jelas apakah delegasi Rusia dan Ukraina akan bertemu langsung. Agenda pertemuan tersebut belum diungkap, namun Zelenskyy menekankan pentingnya mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang.
Komentar Zelenskyy terhadap Eropa
Zelenskyy mengkritik para pemimpin negara Eropa karena dinilai lambat dalam membantu menyelesaikan konflik. Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, ia menuduh Eropa gagal mengambil tindakan tegas terhadap Rusia. Ia mengatakan, “Eropa bisa dan harus menjadi kekuatan global, tetapi tetap menjadi kaleidoskop yang terfragmentasi dari kekuatan-kecil dan menengah.”
Ia juga menggambarkan perjuangan Ukraina kini sangat sulit karena perundingan yang alot. “Ini seperti mil terakhir yang sulit,” kata Zelenskyy tentang upaya AS dan Ukraina untuk merumuskan kerangka perdamaian, seraya menambahkan, “Rusia harus siap untuk berkompromi.”
Pertemuan Trump dan Zelenskyy
Zelenskyy bertemu dengan mantan Presiden AS Donald Trump secara tertutup selama sekitar satu jam di Forum Ekonomi Dunia di Davos. Ia menggambarkan pertemuan itu sebagai “produktif dan bermakna.” Trump mengatakan pertemuannya dengan Zelenskyy berjalan dengan baik dan menegaskan bahwa baik Putin maupun Zelenskyy ingin mencapai kesepakatan.
Trump mengungkapkan bahwa isu teritorial tetap menjadi hambatan utama dalam menyelesaikan kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri perang. “Hambatan utama adalah hal-hal yang sama yang telah menghambatnya selama setahun terakhir,” katanya.
Perang Rusia-Ukraina Memasuki Hari Ke-1430
Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1430 pada Jumat (23/1/2026). Perang ini pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina. Invasi ini menandai puncak dari ketegangan panjang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara kedua negara.
Konflik berakar dari runtuhnya Uni Soviet, yang menjadikan Rusia dan Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan arah politik serta kepentingan keamanan yang berbeda. Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat, baik secara politik, ekonomi, maupun keamanan.
Langkah Ukraina untuk menjalin hubungan lebih erat dengan NATO dan Uni Eropa dipandang Rusia sebagai ancaman serius terhadap stabilitas keamanannya. Ketegangan semakin meningkat pada 2014, menyusul Revolusi Maidan yang menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap berpihak pada Moskow.
Situasi Militer dan Ekonomi
Tentara Rusia yang lebih besar telah berhasil merebut sekitar 20 persen wilayah Ukraina sejak permusuhan dimulai pada tahun 2014 dan invasi skala penuhnya pada tahun 2022. Namun, keberhasilan di medan perang di sepanjang garis depan yang panjangnya sekitar 1.000 kilometer telah menelan biaya besar bagi Moskow, dan ekonomi Rusia merasakan konsekuensi dari perang dan sanksi internasional.
Ukraina kekurangan uang dan, meskipun telah meningkatkan produksi senjatanya sendiri secara signifikan, masih membutuhkan persenjataan Barat. Negara ini juga kekurangan personel di garis depan. Menteri pertahanannya pekan lalu melaporkan sekitar 200.000 pembelotan pasukan, dan sekitar 2 juta warga Ukraina menghindari wajib militer.
Pembicaraan di Kremlin
Putin berbicara selama empat jam dengan Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner di Kremlin kemarin. Ajudan Putin, Yury Ushakov, mengatakan bahwa Rusia ingin menyelesaikan perang dengan Ukraina, namun menegaskan bahwa masalah teritorial adalah kuncinya.
“Kami tetap tertarik untuk menyelesaikan krisis Ukraina melalui cara politik dan diplomatik. Namun, jika itu tidak terjadi, Rusia akan terus mencapai tujuannya di medan perang di mana pasukan Rusia memiliki inisiatif,” kata Yury Ushakov, Kamis (22/1/2026).
“Kami menegaskan kembali bahwa mencapai penyelesaian jangka panjang tidak dapat diharapkan tanpa menyelesaikan masalah teritorial,” ujarnya, merujuk pada tuntutan Moskow agar Kyiv menarik pasukannya dari wilayah Ukraina timur.
Penutup
Perang Rusia-Ukraina masih berlanjut di tengah terhambatnya perundingan karena isu teritorial dan lainnya, yang mana Amerika Serikat mengambil peran sebagai penengah. Pemanggilan pertemuan trilateral di Abu Dhabi menjadi langkah penting dalam upaya mencapai perdamaian. Meski begitu, tantangan besar tetap ada, terutama terkait wilayah dan ambisi politik masing-masing pihak.
