Kisah listrik padam anggota DPR bikin Menteri Bahlil tertawa, awalnya bahas banjir

Pemanggilan Kementerian ESDM untuk Perbaikan Infrastruktur Energi di Wilayah Terdampak Bencana

Dalam rapat kerja Komisi XII DPR dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, Cornelis, menyampaikan keluhan terkait pemadaman listrik yang dialaminya akibat banjir di Jakarta. Ia menekankan perlunya pemerintah segera memperbaiki infrastruktur energi di wilayah Sumatera yang terdampak bencana.

Cornelis mengungkapkan pengalaman pribadinya saat listrik rumahnya mati akibat banjir, yang kemudian disambut tawa oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Meskipun situasi tersebut sempat membuat suasana ruangan cair, ia tetap fokus pada isu penting lainnya, yaitu kebutuhan dasar masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Prioritas Pemulihan Energi di Wilayah Bencana

Cornelis menyoroti pentingnya perhatian serius dari Kementerian ESDM terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak bencana. Ia menegaskan bahwa aspek kemanusiaan seperti listrik, BBM, dan gas 3 kilo harus menjadi prioritas utama.

“Kami ingin pak menteri dan kawan-kawan di daerah bencana ini tolong perhatikan betul-betul aspek kemanusiaannya, yaitu listrik, BBM dan gas 3 kilo,” ujar Cornelis dalam rapat.

Ia juga menekankan bahwa gangguan energi di wilayah bencana tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Termasuk dalam hal distribusi BBM dan pemulihan jaringan listrik yang rusak.

Penyesuaian Anggaran untuk Respons Cepat

Cornelis menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh terhambat oleh masalah anggaran dalam melakukan perbaikan infrastruktur energi. Menurutnya, kerusakan akibat bencana membutuhkan respons cepat, termasuk melalui penyesuaian anggaran jika diperlukan.

“Kalau memang ada perbaikan-perbaikan. Kan tidak ada dalam anggaran nah, segera pak menteri ajukan dalam perbaikan supaya ada perubahan anggaran, supaya anggaran itu bermanfaat untuk rakyat karena Aceh rusak berat, Sumatera Utara Sumatera Barat,” katanya.

Pernyataan Cornelis menutup rangkaian intervensinya dalam rapat, yang kemudian diakhiri dengan kelakar soal pemadaman listrik di rumahnya, sebuah momen yang membuat suasana rapat mendadak cair.

Permintaan Maaf dari Istana Kepresidenan

Istana Kepresidenan RI melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan permintaan maaf atas banjir yang kembali merendam sejumlah wilayah ibu kota, Jakarta. Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah prihatin atas genangan yang melumpuhkan Ibu Kota.

“Tentunya kami menyampaikan rasa prihatin bahwa dalam dua hari ini, terutama hari ini, curah hujan cukup tinggi sehingga menyebabkan terjadi genangan air di beberapa ruas jalan di Ibu Kota,” kata Prasetyo di Istana Kepresidenan.

Ia menambahkan bahwa pemerintah telah berkoordinasi dengan Pemprov DKI, BPBD, dan BMKG untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca. Harapannya, intensitas hujan bisa ditekan di tengah puncak musim hujan Januari.

Situasi Genangan di Jakarta

BPBD DKI Jakarta mencatat hingga pukul 14.00 WIB, sebanyak 15 RT dan 20 ruas jalan tergenang dengan ketinggian air antara 10–90 cm. Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, memastikan personel sudah dikerahkan untuk memonitor kondisi genangan.

“BPBD mencatat saat ini terdapat 15 RT dan 20 ruas jalan tergenang,” ujarnya.

Dampak Genangan terhadap Warga dan Pengendara

Warga di Jakarta Barat menyebut air setinggi lutut hingga pinggang membuat aktivitas rumah tangga lumpuh dan anak-anak tidak bisa berangkat sekolah. Sejumlah pengendara motor di Jakarta Timur mengeluhkan kendaraan mogok di tengah genangan sehingga harus mendorong motor dan menimbulkan kemacetan panjang.

Sementara itu, penumpang KRL mengaku perjalanan terganggu karena rel tergenang, kereta berjalan lambat, dan banyak pekerja terlambat sampai kantor.

Penanganan Darurat oleh BPBD

Isnawa menegaskan pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan untuk melakukan penyedotan air. “Kami memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama lurah dan camat setempat serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas. Genangan ditargetkan surut dalam waktu cepat,” kata Isnawa.

Jakarta kembali diuji banjir di puncak musim hujan. Warga menanti solusi nyata pemerintah, bukan sekadar permintaan maaf.

Exit mobile version