Tragedi yang menimpa seorang anak kelas IV SD Negeri di Flores, Yohanes Bastian Roja (YBR), yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku tulis dan pulpen, menjadi tamparan keras bagi seluruh bangsa. Anak berusia 10 tahun ini menggantung diri hanya karena kesedihan melihat ibunya, seorang janda yang bersusah payah mencari nafkah dengan berjualan kayu bakar, tak sanggup lagi memenuhi kebutuhan dasarnya. Ini adalah bukti bahwa masih ada penderitaan yang terlupakan dalam masyarakat kita.
Kita semua patut merasa bersalah atas kejadian ini. Di tengah kenyamanan kehidupan di kota-kota besar, YBR menegur kita dengan cara yang sangat menyedihkan. Ia tidak memiliki tempat untuk mengadu atau menyampaikan keluhannya. Kepedulian sosial kita terhadap rakyat kecil, terutama yang tinggal di daerah tertinggal, harus lebih diperhatikan. Tidak cukup hanya sekadar memberikan bantuan sementara, tetapi perlu adanya upaya nyata untuk memperbaiki kondisi mereka secara berkelanjutan.
YBR menjadi simbol dari penderitaan yang tersembunyi di balik kemewahan yang sering kali dianggap biasa. Ia seperti puncak gunung es yang menunjukkan betapa besar masalah kemiskinan yang masih ada di Indonesia. Tragedi ini juga menjadi pengingat bahwa kepedulian kita terhadap warga miskin tidak boleh hanya diucapkan, tapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Pemerintah telah menjalankan berbagai program pengentasan kemiskinan, namun jika masih ada kejadian seperti ini, maka kita perlu melakukan evaluasi dan perubahan total dalam cara pandang dan cara kerja. Rakyat miskin tidak butuh jargon politik, tetapi butuh aksi nyata. Mereka membutuhkan pemberdayaan yang berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sementara. Program kewirausahaan bisa menjadi solusi yang efektif, asalkan didesain dengan mempertimbangkan potensi lokal dan kebutuhan riil masyarakat.
Program Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) harus menjadi prioritas utama. Dengan data yang akurat dan implementasi yang konsisten, BP Taskin dapat menjadi garda terdepan dalam mengentaskan kemiskinan. Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa program ini benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.
Ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya terletak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada peningkatan taraf hidup masyarakat di lapisan terbawah. Jika masih ada keluarga seperti YBR yang hidup di bawah garis kemiskinan absolut, maka artinya pemerintah belum berhasil menjalankan amanat konstitusi.
Konstitusi kita menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Oleh karena itu, pemerintah perlu memenuhi tanggung jawabnya dengan memperkuat jaring pengamanan sosial dan meningkatkan akses pendidikan serta layanan kesehatan bagi masyarakat miskin.
Gagasan Amartya Sen tentang Ekonomi Kesejahteraan menekankan pentingnya perluasan kapasitas manusia, bukan hanya pertumbuhan PDB. Kemiskinan bukan hanya soal pendapatan rendah, tetapi juga hilangnya kemampuan dan kebebasan dasar untuk menjalani kehidupan yang bermartabat. Untuk mengentaskan kemiskinan, perlu adanya kebebasan dan pilihan yang luas bagi masyarakat.
Tragedi YBR juga menjadi pengingat bahwa kemiskinan adalah bentuk kekerasan terburuk. Seperti kata Mahatma Gandhi, “Kemiskinan adalah bentuk kekerasan terburuk.” Kita harus sadar bahwa sistem yang menghasilkan ketimpangan adalah bentuk kejahatan yang lebih buruk daripada kekerasan fisik.
Kematian YBR bukan hanya kehilangan seorang anak, tetapi juga kehilangan kepekaan kita terhadap sesama. Selama mata hati kita masih buta, maka warga bangsa yang hidup dalam kondisi seperti keluarga YBR akan terus terlupakan. Kita harus belajar dari kejadian ini dan berkomitmen untuk memperbaiki kondisi masyarakat miskin, agar tidak ada lagi tragedi serupa terjadi.
