Pengamat Bedah Kritik Pramono: Singgung Jokowi dan Jabarkan 3 Jenis Pemimpin

Guyonan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Tafsir Politik yang Muncul

Guyonan yang dilontarkan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terkait gorong-gorong kini mulai memicu berbagai tafsir politik. Pernyataan yang awalnya terdengar ringan dan santai kini dianggap sebagai simbol dari gaya kepemimpinan, bahkan dikaitkan dengan Presiden ke-7 RI yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Jakarta pada periode 2012 hingga 2014, yaitu Jokowi.

Sebelumnya, Jokowi pernah masuk ke dalam gorong-gorong saat menghadapi masalah banjir pada 26 Desember 2012. Aksinya tersebut dinilai ikonik dan menjadi ciri khas dari gaya kepemimpinan Jokowi yang sering turun langsung ke lapangan.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai bahwa publik cenderung membaca guyonan Pramono sebagai rujukan kepada pemimpin sebelumnya. Ia menyampaikan hal ini dalam program Sapa Indonesia Malam, Kompas TV, Selasa (10/2/2026).

“Misalnya bahwa sebenarnya Mas Pram itu secara tidak langsung ingin menyebut pemimpin terdahulunya Pak Jokowi. Kan itu yang diinginkan oleh publik,” ujar Adi.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa substansi pernyataan Pramono tidak berhenti pada simbol gorong-gorong. Menurutnya, pernyataan tersebut lebih berkaitan dengan orientasi output, yaitu pentingnya solusi yang terbaik dalam menghadapi situasi tertentu.

3 Tipologi Pemimpin

Dalam analisisnya, Adi kemudian menjelaskan tiga tipologi kepemimpinan yang relevan dengan polemik ini:

1. Pemimpin Teknokratis

Menurut Adi, pemimpin teknokratis adalah yang pertama, di mana ide dan gagasan besar hanya dimiliki oleh seorang pemimpin. Untuk mewujudkan apa yang ingin dicapai, biasanya diperlukan bantuan dari anak buah dan pasukan.

“Jadi pemimpin itu tidak harus lumpur-lumpur, tidak harus masuk gorong-gorong dan seterusnya. Dia cukup punya mental model dan mindset besar kira-kira apa yang akan dia set up terkait dengan sebuah kebijakan politik,” jelasnya.

2. Populisme

Dalam model populisme, simbol keberpihakan menjadi penting. Pemimpin tidak perlu fokus pada teknokratisme, tetapi lebih pada hadir langsung dan membaur dengan masyarakat.

“Nah, yang kedua ada tipologi yang disebut dengan populism. Jadi, tidak perlu berpikir tentang teknokratisme. Pikiran-pikiran besar itu tidak penting. Yang paling penting adalah hadir membaur secara langsung dengan masyarakat,” katanya.

3. Teknokratis-Populis

Adi menilai bahwa tipologi ketiga, yaitu kombinasi antara teknokratis dan populisme, merupakan model kepemimpinan yang ideal.

“Yang baik sebenarnya yang ketiga, tidak terlampau ingin membentur-benturkan dua tipologi pemimpin ini adalah teknokratis populism. Gagasannya besar, pikirannya besar, idealismenya besar, kemampuan dan kapasitasnya juga besar. Tapi at the same time dia juga melowongkan waktunya untuk terjun langsung ke masyarakat,” jelasnya.

Menurut Adi, publik Indonesia cenderung mengidamkan pemimpin yang tetap membumi. “Karena kita melihat kecenderungan rata-rata secara umum di kita itu pemimpin yang diidamkan itu adalah kakinya nyentuh ke tanah. Selama ini kita melihat pemimpin itu adalah sesuatu yang berjarak, berada di menara gading,” tambahnya.

PDIP: Tidak Ada Nama yang Disinggung

Di sisi lain, Juru Bicara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ansy Lema, menegaskan bahwa pernyataan Pramono tidak dimaksudkan untuk menyindir siapa pun. Ia menjelaskan bahwa pernyataan tersebut dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman Pramono.

“Ini dipengaruhi oleh latar belakang, latar belakang pendidikan, latar belakang pengalaman. Dan tentu Mas Pram itu punya keunikan dan kekhasan tersendiri jika disandingkan dengan para pendahulunya,” ujar Ansy.

Menurutnya, wajar jika pernyataan tokoh politik memunculkan beragam tafsir. “Dalam ruang politik itu kan pasti ada teks, ada konteks, ada pesan, ada kesan yang ditangkap, dan juga ada tafsir dan interpretasi,” katanya.

Meski begitu, Ansy menegaskan bahwa tafsir publik adalah hak masing-masing pihak. “Kalau bicara soal tafsir masing-masing orang atau masing-masing kelompok ya itu terserah masing-masing pihak dengan berbagai motivasi dan intensinya,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pesan utama Pramono adalah pendekatan teknokrasi. “Beliau ingin bekerja dengan fokus pada pendekatan teknokrasi yang kuat, bukan pada aksi sensasi ataupun selebrasi politik,” kata Ansy.

PSI: Identik dengan Jokowi

Sementara itu, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ali Muthohirin, mengakui bahwa istilah gorong-gorong memang sulit dilepaskan dari figur Jokowi. “Penting juga mengatakan itu bagi Mas Pram karena gorong-gorong pasti identik dengan Pak Jokowi,” ujar Ali.

Ia menilai klarifikasi sejak awal justru penting agar tidak muncul perbandingan yang tak perlu. “Mas Pram sudah mengklarifikasi biar tidak disamakan atau mungkin ada pertanyaan kenapa enggak seperti Pak Jokowi dan itu sah-sah saja,” katanya.

Guyonan Gorong-Gorong

Sebelumnya, guyonan Pramono Anung membuat Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) yang juga Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) tertawa. Pramono Anung saat itu melontarkan candaan soal gorong-gorong saat keduanya meninjau kerja bakti bertajuk Jaga Jakarta Bersih di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Minggu (8/2/2026).

“Tadi saya sambil bercanda sama Pak JK, Pak JK kita ini dibesarkan dalam teknokrasi. Pasti Pak JK sama saya enggak mau masuk gorong-gorong, tapi yang bekerja adalah pikiran dan otak. Pak JK ketawa,” kata Pramono dikutip dari dari Kompas.com.

“Sekali-sekali bekerja masuk gorong-gorong, kalau saya mau saja Pak, tapi nanti wartawan malah kaget kalau saya masuk gorong-gorong,” lanjutnya.

Exit mobile version