Penyebab Banjir di Kota Kotabaru
Beberapa titik ruas jalan di kawasan kota, Kabupaten Kotabaru kembali terendam banjir pada Rabu (18/2/2026). Akhirnya penyebab banjir ini terungkap setelah BPBD Kotabaru melakukan investigasi. Menurut laporan mereka, curah hujan yang cukup tinggi menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, genangan air juga dipengaruhi oleh kurang optimalnya peran drainase dan pasang air laut.
Debit air yang turun agak lambat membuat genangan air bertahan lebih lama. Beberapa lokasi yang terdampak antara lain Jalan Raya Stagen Km 5, Sungai Paring, Desa Sungai Taib, serta Jalan Brigjen Hasan Basri di Desa Semayap. Kondisi serupa juga terjadi di Jalan Veteran km 1 dan Jalan Agus Salim, Kecamatan Pulaulaut Sigam.
Genangan air di Jalan Veteran km 1 cukup dalam, bahkan mencapai lutut orang dewasa. Hal ini menyebabkan lalu lintas kendaraan melambat karena arus lalu lintas yang padat di sore hari. Warga setempat, seperti Syamsudin dari Desa Sungai Taib, mengeluhkan bahwa penanganan banjir belum optimal. Ia menyatakan bahwa meskipun intensitas hujan tinggi menjadi pemicu banjir, penanganan yang dilakukan dinilai tidak efektif.
Menurut Kalak BPBD Kotabaru, Hendra Indrayana, penyebab banjir adalah kombinasi dari curah hujan tinggi, drainase yang tidak berfungsi maksimal, dan pasang air laut. Untuk menangani situasi ini, tim BPBD bersama relawan telah diterjunkan ke sejumlah titik lokasi untuk memastikan keamanan dan membantu pengaturan lalu lintas.
Penyebab Utama Banjir di Tengah Kota
Banjir di tengah kota umumnya disebabkan oleh beberapa faktor:
- Intensitas Hujan Tinggi dan Ekstrem: Curah hujan tinggi yang terjadi dalam waktu singkat melampaui kapasitas tampung sungai atau saluran air.
- Drainase Tersumbat dan Kecil: Saluran air yang dangkal akibat sedimen lumpur atau sampah rumah tangga membuat aliran air tidak lancar.
- Minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH): Permukaan kota yang tertutup aspal dan beton mencegah air meresap ke dalam tanah, sehingga langsung menjadi aliran permukaan (limpasan) yang membebani saluran.
- Penurunan Muka Tanah: Di beberapa kota, penurunan permukaan tanah meningkatkan risiko banjir, terutama saat terjadi air pasang laut (rob).
- Aliran Air dari Hulu/Kiriman: Volume air yang besar dari wilayah dataran lebih tinggi yang mengalir ke pusat kota yang lebih rendah.
- Penyempitan Sungai: Pembangunan di bantaran sungai mengurangi daya tampung sungai.
- Kurangnya Sarana Mitigasi: Banjir sering kali diperparah dengan tidak berfungsinya pompa penyedot air atau kurangnya sarana mitigasi di pusat kota.
Tips Aman Melewati Banjir di Tengah Kota
Untuk menghindari risiko saat melewati banjir, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:
- Pahami Batas Aman: Pastikan kedalaman air tidak melebihi setengah ban atau rata dengan lantai dasar mobil untuk mencegah water hammer (kerusakan mesin).
- Matikan AC: Mematikan AC saat melintasi banjir membantu meringankan beban mesin dan mengurangi risiko air masuk ke ruang mesin.
- Gunakan Gigi Rendah (Mobil/Motor): Gunakan gigi 1 atau L agar kecepatan stabil dan tidak perlu mengubah-ubah gas, yang dapat berisiko menghisap air ke knalpot.
- Ikuti Kendaraan Depan: Ikuti gelombang air yang dihasilkan kendaraan di depan untuk mendapatkan jalur yang lebih dangkal.
- Jangan Berhenti: Jaga momentum agar kendaraan tetap bergerak dan tidak berhenti di tengah genangan, karena berisiko mogok.
- Periksa Rem Setelah Banjir: Setelah berhasil melewati banjir, keringkan rem dengan cara menginjak rem ringan berkali-kali saat melaju pelan.
- Hindari Risiko: Jika banjir terlihat sangat dalam atau arus deras, lebih baik memutar balik atau menepi di tempat aman daripada memaksakan diri.












