Rupiah Terus Tertekan, Impak Pelemahan terhadap Kurs Mengkhawatirkan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan berkelanjutan sepanjang bulan Februari 2026. Pada pertengahan bulan ini, dolar AS menguat sebesar 0,69% terhadap rupiah, dengan kisaran harga antara Rp 16.722 hingga Rp 16.837 per dolar AS pada 17 Februari 2026. Tekanan tersebut memicu proyeksi bahwa rupiah berpotensi menembus level Rp 16.900 per dolar AS.
Pembukaan perdagangan pada Rabu (18/2/2026) menunjukkan pelemahan lebih lanjut dari rupiah. Sejak awal Februari, nilai tukar rupiah telah cenderung melemah dari posisi Rp 16.798 menjadi Rp 16.837 per dolar AS. Setelah libur panjang, tekanan semakin terasa. Pada hari yang sama, kurs rupiah spot melemah sebesar Rp 47 atau 0,28% ke level Rp 16.884 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya. Secara mingguan, rupiah juga turun sebesar 0,28% atau Rp 48 dari posisi Jumat (13/2) di Rp 16.836 per dolar AS.
Pelemahan serupa juga terjadi pada kurs Jisdor, yang turun sebesar Rp 40 atau 0,24% menjadi Rp 16.884 per dolar AS. Dengan pergerakan ini, pasar semakin waspada terhadap risiko pelemahan lebih lanjut menuju angka Rp 16.900 per dolar AS.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Menurut catatan Citigroup, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Hambatan utama datang dari meningkatnya gejolak politik, neraca perdagangan yang melemah, serta potensi repatriasi dividen emiten untuk tahun buku 2025. Hal ini menambah ketidakpastian dalam perekonomian Indonesia.
Bagi sektor energi, pelemahan kurs memiliki dampak langsung terhadap biaya impor minyak. Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, menyatakan bahwa perseroan terus memantau dinamika fluktuasi nilai tukar rupiah serta mengelola risiko yang timbul. Untuk memitigasi risiko, Pertamina melakukan penyeimbangan neraca akun moneter, mengelola likuiditas valas secara efektif dan optimal, meningkatkan efisiensi operasional, serta melakukan transaksi lindung nilai valuta asing.
Dampak Ekonomi yang Membentang
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin menilai bahwa pelemahan rupiah pada Februari 2026 memberi sinyal kuat bahwa stabilitas nilai tukar bukan hanya isu pasar keuangan, tetapi juga penentu biaya hidup, kesehatan fiskal, dan daya saing industri. Pergerakan USD/IDR di kisaran Rp 16.722–Rp 16.837 per 17 Februari sudah cukup memicu ekspektasi pasar bahwa rupiah dapat menguji Rp 16.900 per dolar AS.
Dalam situasi seperti ini, impor minyak menjadi kanal transmisi paling cepat dan mahal. Minyak dibayar dalam dolar, sehingga ketika kurs melemah, tagihan impor otomatis naik dalam rupiah, bahkan saat harga minyak dunia tidak berubah. Setiap pelemahan rupiah langsung meningkatkan biaya pengadaan crude oil dan BBM. Jika kurs bergerak dari Rp 16.300 ke Rp 16.900, rupiah melemah sekitar 3,68%. Dengan volume dan harga dolar yang sama, biaya impor energi dalam rupiah ikut naik sekitar 3,68%.
Tekanan ini kemudian berujung pada beban kas perusahaan energi, kenaikan subsidi dan kompensasi, serta dorongan inflasi. Tekanan kurs juga membuat pemerintah berada pada posisi dilematis. Menahan harga BBM berarti meningkatkan beban fiskal melalui subsidi, sementara menaikkan harga ritel berisiko mendorong inflasi lewat ongkos transportasi dan logistik.
Respons Otoritas Moneter
Pasar pun mencermati respons otoritas moneter. Mayoritas ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan menahan suku bunga acuan di level 4,75% pada 19 Februari 2026 guna menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk mencegah arus keluar modal dan menahan tekanan permintaan dolar di tengah sentimen global yang rapuh.
Syafruddin menambahkan, tantangan utama saat ini bukan hanya fluktuasi kurs harian, melainkan premi ketidakpastian yang melekat pada aset rupiah. Minimnya kepastian fiskal dan tekanan eksternal membuat aliran modal melemah, suplai valas menyempit, dan rupiah kembali tertekan. Dalam kondisi ini, impor minyak menjadi beban yang paling cepat terasa.
Sensitivitas Biaya Impor Minyak
Dari sisi fundamental, praktisi migas Hadi Ismoyo menjelaskan besarnya sensitivitas biaya impor minyak terhadap pelemahan kurs. Saat ini, kapasitas kilang nasional sekitar 1,28 juta barel per hari (bpd) produk. Dengan rendemen sekitar 70%, kebutuhan crude oil mencapai 1,83 juta bpd. Sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu bpd, sehingga impor crude oil diperlukan sekitar 1,23 juta bpd.
Dengan asumsi harga rata-rata Brent US$ 67 per barel, nilai pembelian crude impor mencapai sekitar US$ 82,41 juta per hari. Pada kurs Rp 16.700 per dolar AS, nilai impor setara Rp 1,376 triliun per hari. Jika kurs melemah ke Rp 16.800, nilainya naik menjadi Rp 1,384 triliun, dan pada Rp 16.900 mencapai Rp 1,392 triliun per hari.
Setiap pelemahan Rp 100 per dolar AS menambah biaya sekitar Rp 8 miliar per hari. Jika berlangsung setahun penuh, tambahan biaya bisa mendekati Rp 2,92 triliun.
