Kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis Berujung pada Teror yang Melibatkan Keluarga dan Pengurus BEM UGM
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengungkap pengalaman teror yang dialaminya sejak melakukan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran. Rangkaian ancaman ini tidak hanya menyasar dirinya sendiri, tetapi juga keluarganya dan puluhan pengurus BEM UGM, memicu kekhawatiran besar terhadap kebebasan akademik di kalangan mahasiswa.
Awal Teror: Dari Ancaman Telepon hingga Tuduhan Agen Asing
Teror ini dimulai setelah BEM UGM mengeluarkan pernyataan sikap yang mengkritik program MBG dan menggunakan istilah “Presiden Bodoh” dalam pernyataannya pada awal Februari 2026. Menurut Tiyo, ancaman pertama datang melalui nomor telepon asing dengan kode internasional +44 atau Inggris Raya. Pesan-pesan tersebut berisi ancaman, tuduhan sebagai agen asing, hingga ancaman penculikan.
“Sejak awal nadanya ancaman. Kami dituduh agen asing dan diancam penculikan,” ujar Tiyo dalam diskusi media yang digelar Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA).
Serangan di Media Sosial: Fitnah dan Rekayasa AI
Selain ancaman melalui pesan teks, serangan kemudian berkembang menjadi pembunuhan karakter di media sosial. Tiyo mengaku difitnah dengan berbagai tudingan, mulai dari isu asusila hingga dugaan penggelapan dana organisasi. Salah satu konten yang beredar menampilkan fotonya dengan tulisan “Awas LGBT di UGM”. Ia menyebut foto tersebut direkayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, muncul narasi yang menuduhnya memanipulasi penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dan menerima setoran dari mahasiswa penerima bantuan tersebut. Tiyo membantah semua tuduhan tersebut, menegaskan bahwa jika benar ia melakukan penggelapan dana, maka dirinya sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua BEM UGM.
Dugaan Operasi Pembunuhan dan Tekanan Psikologis
Eskalasi teror tidak berhenti di ruang digital. Tiyo mengaku mendapat informasi mengenai dugaan rencana operasi pembunuhan terhadap dirinya. Informasi tersebut datang dari seseorang yang mengaku dosen Universitas Padjadjaran dan menyebut menerima bocoran dari Badan Intelijen Negara (BIN). Orang tersebut mengklaim ada operasi pembunuhan yang disiapkan terhadap Ketua BEM UGM.
Meski belum terverifikasi, kabar tersebut menambah tekanan psikologis bagi Tiyo dan rekan-rekannya.
Keluarga Jadi Target: Ibu Tertekan oleh Pesan Bernada Ancaman
Bagian yang paling mengguncang bagi Tiyo adalah ketika ibunya turut menjadi sasaran. Ia menceritakan, pada tengah malam, ponsel ibunya menerima pesan yang menuduh dirinya menilap uang sebagai Ketua BEM UGM. Bahkan muncul narasi bahwa orang tua Ketua BEM kecewa karena anaknya melakukan penggelapan.
“Ibu saya perempuan desa yang sederhana. Tiba-tiba mendapat pesan seperti itu di tengah malam. Ibu bilang dia takut,” ungkap Tiyo.
Ia menilai pola intimidasi tersebut sengaja menyasar titik paling rentan, yakni keluarga.
Puluhan Pengurus BEM UGM Juga Terlibat dalam Teror
Tidak hanya Tiyo dan keluarganya, sekitar 20–30 pengurus BEM UGM juga menerima pesan bernada serupa dari nomor tak dikenal. Isinya tetap mengulang tuduhan penggelapan dana. Pendataan internal masih dilakukan untuk memastikan jumlah korban intimidasi secara pasti.
Namun Tiyo menilai pola serangan yang sistematis menunjukkan upaya membungkam kritik mahasiswa.
Kritik Tetap Dilanjutkan: Pertanyaan tentang Alokasi Anggaran
Meski diteror, Tiyo menegaskan BEM UGM tidak akan menghentikan kritik terhadap kebijakan publik. Ia kembali menyoroti besarnya anggaran program MBG yang disebut mencapai Rp 1,2 triliun per hari atau Rp 335 triliun per tahun.
Menurutnya, ketika persoalan mendasar bangsa adalah akses pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, alokasi anggaran harus lebih berpihak pada sektor pendidikan.
Terkait penggunaan istilah “Presiden Bodoh”, Tiyo menegaskan bahwa kritik tersebut tidak diarahkan pada personal, melainkan pada infrastruktur kekuasaan yang dinilai tidak menghargai ilmu pengetahuan.
BEM UGM Tak Gentar: Komitmen terhadap Ruang Kritik
Di akhir pernyataannya, Tiyo memastikan BEM UGM tidak akan mundur akibat intimidasi. Ia menyebut teror sebagai bentuk kepengecutan yang justru mempertegas pentingnya ruang kritik di negara demokratis.
“Tidak akan ada yang berbeda dari BEM UGM ke depan. Kami tidak akan berhenti mengawal persoalan publik hanya karena teror,” pungkasnya.
Kasus ini memunculkan kekhawatiran luas mengenai keamanan mahasiswa yang bersuara kritis di ruang publik, sekaligus menjadi ujian bagi komitmen negara dalam menjaga kebebasan akademik dan kebebasan berekspresi.
