Budaya  

Jejak Kemanusiaan Muslim Ahmadiyah dalam Bencana Sumatera

Banjir di Sumatera: Dampak dan Peran Ahmadiyah dalam Bantuan Kemanusiaan

Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat pada 26 November 2025 menjadi bencana yang mengguncang masyarakat. Di Sumut, sebanyak 30 ribu rumah rusak atau hilang akibat banjir yang terjadi. Pada pertengahan Januari 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) mencatat jumlah korban meninggal dunia sebanyak 1.189 jiwa, dengan 231 jiwa di antaranya berada di Sumut.

Banjir menyebabkan kerusakan infrastruktur seperti jalan, listrik, dan jaringan internet. Wilayah-wilayah seperti Kabupaten Deliserdang, Langkat, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Sibolga, Tebingtinggi, dan Tapanuli Tengah terendam air. Data pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa ratusan ribu warga terdampak banjir.

Pengalaman Siti Mariana: Hancurnya Rumah dan Kehidupan

Siti Mariana (68), warga Medan Maimun, Sumut, mengalami dampak banjir yang sangat parah. Rumahnya yang berada di bantaran Sungai Deli terendam air hingga setinggi atap. Janda tujuh anak ini harus mengungsi selama lebih dari 14 hari di masjid tidak jauh dari rumahnya.

Siti mengungkapkan bahwa saat air mulai naik, ia memindahkan barang-barang ke loteng rumah. Namun, lengan yang terkilir membuatnya memilih bertahan di dalam rumah. Beberapa jam kemudian, air meluap hingga ke atap, sehingga hanya baju yang melekat di tubuhnya yang tersisa.

“Sejak tinggal tahun 1994 di sini, baru kali ini paling parah. Ya semua habis, perabotan, pakaian, tidak ada yang selamat,” keluh Siti. Ia mengatakan bahwa perabotan rumah tangga seperti kulkas dan televisi rusak, sedangkan dinding rumah juga hancur.

Selama mengungsi di masjid Al Husna Dian Al Mahri Mosque, Siti bersama ratusan pengungsi lainnya tidur beralas tikar. Warga saling membantu dengan memberikan makanan, pakaian, dan obat-obatan. Bahkan, pengurus Ahmadiyah memberikan bantuan yang sangat berarti bagi Siti.

Bantuan dari Ahmadiyah: Kepedulian yang Tak Terkira

Sebagai anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah (JAI), Siti merasa mendapatkan perhatian khusus dari pengurus Ahmadiyah. Mereka memberikan makanan siap saji, pakaian, selimut, obat-obatan, dan uang tunai. Bahkan, AMSA (Ahmadiyah Muslim Students Association) membantu membersihkan rumah Siti setelah air surut.

Siti bergabung dengan JAI sejak lima tahun lalu, awalnya suaminya, Warso, yang bergabung. Cerita Siti, suaminya sempat bertemu dengan mubaligh Ahmadiyah di Kalimantan, sehingga akhirnya memutuskan untuk bergabung. Setelah suaminya meninggal, Siti semakin aktif dalam kegiatan Ahmadiyah, termasuk mengaji dan silaturahmi dengan jamaah.

“Kemudian diberikan bantuan obat-obatan, makanan anak-anak. Dari Ahmadiyah diberikan tilam, karena barang-barang rusak. Kemudian tikar, pakaian, kemudian makanan, kemudian diberikan uang juga,” kata Siti. Ia merasa sangat diperhatikan oleh Ahmadiyah, terutama karena ia tinggal sendiri dan kondisi ekonomi yang sulit.

Pengalaman Zul Bahrain: Banjir yang Menghancurkan

Di Deliserdang, Zul Bahrain dan istri Apriza Reni juga mengalami banjir yang parah. Saat ditemui di rumahnya di jalan Bambu, Kecamatan Helvetia, sisa lumpur masih membekas di dinding rumah semi permanen mereka. Air banjir mencapai pinggang, sehingga mereka harus mengungsi selama tiga hari di masjid dan gedung pemerintah.

Zul mengatakan bahwa banjir kali ini di luar prediksi. “Banjir yang terjadi memang di luar prediksi, dan baru kali ini kami alami. Kami mengungsi, karena di dalam rumah sudah banjir, di luar rumah airnya mencapai leher, tidak bisa keluarin barang-barang,” katanya.

Bantuan dari Ahmadiyah sangat berarti bagi Zul dan keluarganya. Mereka menerima makanan siap saji, pakaian, selimut, dan bahkan uang tunai. Zul dan istri bekerja sebagai buruh, tetapi kehilangan penghasilan akibat banjir. “Alhamdulillah di hari kedua banjir, bantuan dari Ahmadiyah berupa makanan siap saji, pakaian dan selimut diberikan. Kemudian bantuan dari pihak-pihak lain juga berdatangan kepada kami,” kata Zul.

Aksi Kemanusiaan Ahmadiyah di Aceh Tamiang

Selain di Medan dan Deliserdang, Ahmadiyah juga melakukan aksi kemanusiaan di Aceh Tamiang. Zul Bahrain, yang merupakan mubaligh Ahmadiyah, bersama rombongan pengurus Ahmadiyah dan lembaga kemanusiaan Humanity First, menembus jalan Medan menuju Aceh Tamiang yang sempat terputus akibat banjir.

Kondisi di Aceh Tamiang sangat mencekam, dengan lumpur tebal di jalan, bangunan porak poranda, dan warga yang kekurangan makanan dan air bersih. Zul membantu menghidupkan listrik dari genset untuk menerangi dapur umum. “Saya menangis, karena melihat begitu besar banjir yang terjadi. Tidak sebanding dengan yang saya rasakan. Dan saya bersyukur bisa ikut membantu saat itu,” kata Zul.

Distribusi Bantuan Kemanusiaan oleh Ahmadiyah

Fahim Ahmad, ketua Ahmadiyah Medan, menjelaskan bahwa bantuan banjir dilakukan secara bertahap. Awalnya, kebutuhan mendesak warga adalah makanan cepat saji, seperti nasi bungkus, air mineral, dan susu bayi. Bantuan ini diberikan kepada jamaah Ahmadiyah dan warga di Medan, Deliserdang, dan Belawan.

Pasca banjir, Ahmadiyah kembali menyalurkan barang-barang rumah tangga kepada jemaat dan warga, seperti tilam, alat penanak nasi, hingga seragam sekolah. Kelompok mahasiswa, seperti AMSA dan Ahmadiyah Muslim Association for Women, juga melakukan pembersihan rumah-rumah warga pasca banjir.

Ahmadiyah juga menyediakan layanan kesehatan kepada warga di posko pengungsian, pemberian obat-obatan, dan makanan bayi. “Secara bertahap bantuan kami serahkan kepada warga dan jamaah Ahmadiyah. Hingga ada program trauma healing bagi anak-anak korban banjir, kemudian pembersihan rumah. Ini merupakan program Ahmadiyah yang telah lama kami lakukan,” kata Fahim.

Program Kemanusiaan Ahmadiyah: Ummur Ammar dan Khidmat Khalq

Ahmadiyah memiliki dua konsep utama dalam melakukan aksi kemanusiaan, yaitu Ummur Ammar dan Khidmat Khalq. Ummur Ammar berarti kemaslahatan manusia, sementara Khidmat Khalq berfokus pada pengabdian kepada manusia tanpa melihat agama, suku, atau latar belakang.

Ahmadiyah mewajibkan jemaatnya menyisihkan pendapat atau gaji untuk disalurkan kepada korban yang tertimpa bencana. Misalnya, saat banjir Sumatera, urunan anggota mencapai Rp 300 juta. Di Sumut terkumpul sekitar Rp 20 juta, semuanya disumbangkan kepada korban banjir.

Saleh Ahmadi, mubaligh Daerah Jamaah Ahmadiyah Sumatera Utara, menjelaskan bahwa pengorbanan adalah bentuk kecintaan pada agama dan ajaran agama. “Berkorban ini adalah bentuk kecintaan kita,” ujarnya.

Ajarkan Kemanusiaan Lewat Pengetahuan

Ahmadiyah juga fokus pada pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak. Di Sumut, terdapat dua rumah belajar yang didirikan oleh Humanity First Indonesia dan didukung oleh Lajnah Imaillah Indonesia. Rumah belajar ini memberikan pendidikan bagi anak-anak usia 4 hingga 12 tahun dari berbagai latar belakang agama dan suku.

Irgie Attaurrazaq, anggota AMSA wilayah Sumatera Utara, menjelaskan bahwa pendampingan terhadap anak-anak rentan sudah lama dilakukan oleh Ahmadiyah. “Yang paling penting rumah belajar ini anak-anak diajarkan membentuk karakter anak-anak. Pembentukan karakter ini yang sangat penting bagi anak agar mereka punya kemampuan bersosial, sopan santun,” kata Irgie.




Exit mobile version