Pemimpin Tertinggi Iran Tewas, Ustaz Felix Siaw: Perang Dunia Ketiga Diumumkan

Peristiwa Kematian Pemimpin Tertinggi Iran dan Reaksi Dunia

Pada Sabtu (28/2/2026), berita mengenai kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebar luas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kabar tersebut melalui media sosialnya. Ia menyebut tindakan itu sebagai bentuk keadilan bagi rakyat Iran dan dunia. Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa Khamenei adalah salah satu orang paling jahat dalam sejarah dan bahwa pembunuhan ini menjadi kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.

Namun, tidak semua orang setuju dengan pendapat Trump. Ustaz Felix Siauw, tokoh yang populer di media sosial, menanggapi peristiwa tersebut sebagai awal dari Perang Dunia III. Ia mengkritik klaim “perdamaian” yang digunakan sebagai alasan agresi militer. Dalam video yang diunggahnya lewat Instagram, Ustaz Felix Siauw menyampaikan peringatan atas dampak dari peristiwa tersebut. Ia menyoroti bahwa serangan AS-Israel terhadap Iran bisa menjadi permulaan konflik global yang lebih besar.

Trump juga menulis bahwa operasi yang dilakukan oleh AS dan Israel bertujuan untuk menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah dan dunia. Namun, Ustaz Felix Siauw menganggap definisi perdamaian versi Trump tidak nyata. Menurutnya, perdamaian yang dimaksud oleh Trump adalah kesempatan bagi AS dan sekutunya untuk menyerang siapa pun dengan dalih menjaga perdamaian.

Klaim Trump tentang kematian Khamenei mendapatkan perhatian internasional. Laporan kematian Khamenei disampaikan oleh saluran berita TV pemerintah Iran, IRINN, dan dikutip oleh sejumlah media Barat. Pemerintah Iran mengumumkan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional atas kematian Khamenei. Saat ini, saluran berita TV pemerintah Iran menampilkan foto Khamenei dengan lantunan Al-Quran di latar belakang, dengan spanduk hitam di pojok kiri atas.

Meskipun begitu, Kementerian Luar Negeri Iran tetap bersikeras bahwa Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian dalam kondisi aman dan sehat. Khamenei, yang berusia 86 tahun, telah memimpin Iran sejak 1989. Ia dikenal sebagai sosok yang menciptakan dan memberikan kekuasaan besar kepada Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Serangan AS-Israel terhadap Iran

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, Khamenei masih hidup. Ia menyebut bahwa negara mungkin kehilangan ‘satu atau dua komandan, tapi itu bukan masalah besar’. Sementara itu, Trump dalam unggahannya di Truth Social menulis bahwa banyak dari IRGC, Militer, serta Pasukan Keamanan dan Polisi mereka, tidak lagi ingin berperang, dan mencari imunitas dari AS.

Operasi gabungan AS-Israel terhadap Iran disebut sebagai “Epic Fury” oleh Pentagon dan “Roaring Lion” oleh militer Israel. Ledakan di Teheran dilaporkan pada dini hari waktu Timur AS pada 28 Februari, yang berarti pertengahan pagi di Iran. Dalam hitungan jam, Iran mulai mengirimkan rudal ke arah Israel dan muncul laporan tentang upaya serangan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Beberapa negara menyatakan rudal-rudal tersebut berhasil dicegat.

Masa Depan Iran

Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi setelah kematian Ruhollah Khomeini pada Juni 1989. Ia menjadi penerus favorit setelah Khomeini mendepak Ayatollah Agung Hossein-Ali Montazeri, yang sempat kritis terhadap kebijakan Khomeini. Khamenei dikabarkan telah menunjuk tiga ulama senior sebagai kandidat untuk menggantikannya jika ia terbunuh pada Juni 2025. Saat itu, ia telah bersembunyi di sebuah bunker untuk mencari perlindungan dari serangan udara Israel.

Kematian Khamenei dalam memorandum itu disebutkan hanya akan menjadi perubahan kepemimpinan kedua di Iran sejak pendirian rezim tersebut hampir 50 tahun yang lalu, dan dampaknya akan bergema di seluruh Timur Tengah dan dunia.

Sosok Khamenei

Khamenei lahir dari keluarga ulama pada tahun 1939. Ia menemukan panggilannya sebagai pemimpin agama saat menjadi oposisi politik terhadap Pahlavi, seorang otokrat yang didukung AS. Menurut biografi resminya, Khamenei pernah disiksa pada usia 24 tahun saat menjalani masa penjara pertamanya karena aktivitas politik di bawah kekuasaan Shah. Setelah revolusi, posisi Khamenei naik dengan cepat hingga menjadi Wakil Menteri Pertahanan, yang membuatnya dekat dengan IRGC.

Di usia 50 tahun, Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Ia memegang otoritas penuh atas program nuklir Iran dan menafsirkan bagaimana hukum serta kode agama diterapkan. Sejak saat itu, ia menjadi jantung strategi Iran di Timur Tengah melalui jaringan kelompok militan yang membentang dari Gaza hingga Yaman.

Tujuan Trump di Iran

Gedung Putih telah meningkatkan tekanan terhadap Iran selama berbulan-bulan. Trump beberapa kali mengatakan ia tidak puas dengan cara otoritas Iran menindak keras para demonstran pada Desember tahun lalu. Ia juga menyatakan ingin Iran menyetujui kesepakatan baru terkait program nuklirnya. Pada 27 Februari, Trump mengatakan ia tidak senang dengan perkembangan upaya penyelesaian masalah secara diplomatik.

Namun aneh bagi Trump. Apalagi Trump juga mengklaim bahwa akibat serangan sebelumnya terhadap Iran, AS telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Belum diketahui apakah kematian Khamanei menjadi awal dari runtuhnya Republik Islam di Iran.

Exit mobile version