Penyuluhan Kesehatan Berbasis Booklet Efektif Tingkatkan Kesadaran Ibu dalam Mencegah Kecacingan
Di tengah tantangan kesehatan masyarakat yang terus berkembang, penyuluhan kesehatan berbasis media booklet menjadi solusi inovatif yang efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu dalam mencegah penyakit kecacingan. Program ini telah diuji coba oleh tim pengabdian Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) dan menunjukkan hasil yang signifikan.
Pemilihan Lokasi dan Target Peserta
Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan di Kelurahan Karya Jaya RW 07 RT 12, Kecamatan Kertapati, Kota Palembang. Wilayah ini dipilih karena memiliki kerentanan tinggi terhadap penyebaran penyakit berbasis lingkungan. Letaknya yang berada di dataran rendah dan dekat dengan Sungai Musi menyebabkan wilayah ini sering mengalami genangan air dan banjir, terutama saat musim hujan. Kondisi tanah yang lembap serta sanitasi yang belum optimal menjadi faktor pendukung berkembangnya telur cacing.
Program ini melibatkan sebanyak 95 ibu sebagai responden. Kegiatan dimulai dengan pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu terkait pencegahan kecacingan. Setelah itu, tim memberikan penyuluhan menggunakan booklet yang berisi materi ringkas dan ilustratif tentang pengertian STH, siklus hidup cacing, jalur penularan, dampak kesehatan, serta langkah pencegahan berbasis rumah tangga.
Dampak Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar
Di Sumatera Selatan, prevalensi kecacingan pada anak sekolah dasar dilaporkan berada pada kisaran 38–41 persen. Infeksi kronis dapat memicu anemia, gangguan pertumbuhan, penurunan konsentrasi belajar, hingga risiko stunting. Oleh karena itu, peran ibu sangat menentukan dalam memutus rantai penularan penyakit ini.
Indri Ramayanti, ketua program, menjelaskan bahwa anak usia sekolah memiliki intensitas tinggi kontak dengan tanah dan lingkungan luar. Jika kebiasaan cuci tangan, potong kuku, pakai alas kaki, dan memilih jajanan bersih tidak dibentuk di rumah, risikonya tetap tinggi.
Kelebihan Media Booklet dalam Penyuluhan
Booklet dipilih bukan tanpa alasan. Media ini dinilai praktis, mudah dipahami, dan dapat dibaca ulang di rumah. Berbeda dengan ceramah lisan semata, materi tertulis memungkinkan penguatan informasi secara mandiri oleh peserta.
Sebelum intervensi, mayoritas responden berada pada kategori pengetahuan, sikap, dan perilaku yang kurang baik. Sebanyak 76,8 persen ibu memiliki pengetahuan rendah tentang kecacingan, 82,1 persen menunjukkan sikap kurang mendukung upaya pencegahan, dan 76,8 persen belum menerapkan perilaku preventif secara konsisten.
Setelah penyuluhan berbasis booklet, terjadi lonjakan signifikan. Seluruh responden (100 persen) masuk kategori baik pada aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku. Secara statistik, peningkatan nilai rata-rata pengetahuan naik dari 65,83 menjadi 99,42. Nilai sikap meningkat dari 63,95 menjadi 99,50. Sementara perilaku melonjak dari 65,37 menjadi 100. Uji Wilcoxon menunjukkan seluruh perubahan bermakna dengan nilai p < 0.
Karakteristik Responden dan Dukungan Komunitas
Karakteristik responden turut mendukung efektivitas program. Sebagian besar ibu berada pada kelompok usia dewasa awal dan berpendidikan SMA. Mayoritas berstatus ibu rumah tangga, sehingga memiliki waktu dan intensitas interaksi lebih tinggi dengan anak. Kondisi ini membuat pesan kesehatan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain sesi penyuluhan, kegiatan juga melibatkan perangkat RT/RW dan kader setempat untuk memperkuat dukungan keberlanjutan program. Pendekatan komunitas ini dinilai penting agar edukasi tidak berhenti pada satu kali intervensi.
Rekomendasi dan Tindak Lanjut
Dr Indri Ramayanti SSi MSc, dan tim pengabdian merekomendasikan agar program lanjutan dilakukan dalam bentuk skrining berkala, edukasi berkelanjutan, serta pemantauan perubahan perilaku jangka panjang. Booklet dapat dijadikan media rutin dalam program promotif dan preventif di tingkat kelurahan, didampingi kader dan tenaga kesehatan.
Program ini menunjukkan bahwa pencegahan kecacingan tidak selalu membutuhkan intervensi mahal. Edukasi yang tepat sasaran, berbasis keluarga, dan menggunakan media sederhana dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas kesehatan anak. Di wilayah dengan risiko lingkungan tinggi seperti Kecamatan Kertapati, penguatan literasi kesehatan ibu menjadi langkah strategis untuk melindungi generasi muda dari dampak infeksi cacing yang sering dianggap sepele, tetapi berkonsekuensi panjang terhadap tumbuh kembang anak.
