Program Hapus Tato Gratis di Jakarta Timur Bantu Warga Berubah
Program penghapusan tato gratis yang digelar oleh Baznas Bazis Jakarta Timur kembali menjadi perhatian masyarakat. Acara ini diselenggarakan di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Blok C, pada Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi warga untuk menghilangkan tato yang mereka anggap mengganggu dalam menjalankan ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Pengalaman Bida: Dari Penyesalan Hingga Keinginan untuk Bertobat
Bida (61 tahun) adalah salah satu peserta yang sangat antusias mengikuti program ini. Ia mengaku sudah empat kali ikut dalam kegiatan penghapusan tato. Baginya, tato yang ia buat di masa lalu menjadi sumber penyesalan. Ia mengakui bahwa tato pertama yang ia buat yaitu daun ganja di tangan kanannya, sementara di tangan kirinya ia tidak tahu gambar apa yang dibuat saat itu oleh temannya.
“Saya penyesalan banget itu sampai saya salat itu nangis, sujud berkali-kali. Saya minta diampuni dosa-dosa saya,” ujarnya dengan penuh rasa penyesalan. Ia merasa khawatir bahwa salatnya tidak diterima karena adanya tato tersebut.
Bida mengungkapkan bahwa 25 tahun lalu, saat usianya masih 30-an, ia sering terlibat pergaulan yang tidak sehat. Ia mengaku pernah liar dan sering mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Namun, seiring bertambahnya usia, ia memutuskan untuk hijrah dan bertaubat.
Ia mulai belajar ilmu agama melalui berbagai kegiatan seperti mengaji ke ustazah, ceramah Maulid Nabi, maupun Isra Miraj. Keputusannya untuk meninggalkan dunia kelam juga dipengaruhi oleh tontonan tentang siksa kubur. Ia merasa bahwa hidup yang jauh dari tuhan akan berdampak buruk di akhirat.
“[Saya] tinggal beberapa kali lagi ikut program hapus tato agar tubuhnya bersih dari gambar-gambar tak jelas,” ujarnya. Ia juga mengajak semua wanita yang pernah membuat tato untuk segera menghapusnya agar bisa menjalankan ibadah salat dengan sempurna dan diterima.
Biaya Mahal Jadi Alasan Banyak Peserta Ikut Program Gratis
Bida menyatakan bahwa biaya penghapusan tato secara mandiri sangat mahal. Satu kali tindakan bisa mencapai jutaan rupiah. Ia mengaku tidak sanggup membayar sendiri jika harus melakukan proses penghapusan tato.
“Walaupun hapus tato, bukan untuk malu, justru malu (kalau) masih ada di badan kita. Kita salat enggak sah air wudhunya,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa banyak orang yang awalnya mengejeknya, tetapi akhirnya tertarik untuk ikut karena melihat hasilnya.
Bida mencontohkan alat laser yang digunakan dalam proses penghapusan tato. Meskipun prosesnya terasa sakit, ia mengatakan bahwa efeknya akan hilang seiring waktu.
Sari: Ingin Mulai Hidup Baru di Bulan Ramadan
Selain Bida, Sari juga menjadi peserta lain yang ikut dalam program penghapusan tato. Ia mengaku ingin kembali ke nol lagi dan menjalani hidup baru. Ia memilih mengikuti program ini karena dilakukan di bulan suci Ramadan, yang diyakininya menjadi momen yang tepat untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan.
“Ingin dari nol lagi jalani hidup. Banyak sebenarnya di badan aku tatonya, kalau sekarang ini mau hapus di lengan,” kata Sari sambil menunjukkan lengan yang ia miliki. Ia mengakui bahwa biaya penghapusan tato secara mandiri sangat mahal. Untuk satu tato besar, harga bisa mencapai Rp 3 jutaan.
“Kita bisa tiga sampai empat kali kalau mau hilang, Rp 3 juta kali empat kali saja kan sudah mahal,” tambahnya. Ia memilih mencari program gratis sebagai alternatif untuk menghemat biaya.
Kesimpulan
Program penghapusan tato gratis yang digelar oleh Baznas Bazis Jakarta Timur tidak hanya membantu warga dalam menghilangkan tato, tetapi juga menjadi langkah penting dalam proses perubahan diri dan taubat. Banyak peserta merasa terbantu karena biaya yang dikeluarkan lebih murah dan dapat diakses secara gratis. Dengan adanya program ini, diharapkan semakin banyak warga yang memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan menjalankan ibadah dengan sempurna.
