Konflik Israel-Iran Dorong Pencarian Aset Aman

Pergerakan Mata Uang Safe Haven Akibat Konflik Timur Tengah

Konflik yang terjadi antara Israel dan Iran di kawasan Timur Tengah memicu ketidakpastian geopolitik yang berdampak signifikan pada pasar keuangan global. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah pergerakan mata uang safe haven, yaitu aset yang sering dicari investor dalam situasi ketidakpastian.

Menurut data dari Trading Economics, indeks dolar AS (DXY) mencatat peningkatan sebesar 2,22% dalam sebulan terakhir, dengan level saat ini berada di angka 98,9. Sementara itu, pasangan valuta asing USD/JPY menguat sebesar 1,03% menjadi 157,4. Pasangan USD/CHF juga mengalami penguatan sebesar 1,81% menjadi 0,78.

Taufan Dimas Hareva, Research and Development ICDX, menjelaskan bahwa pada tahap awal ketidakpastian geopolitik, aliran dana besar dari investor institusi biasanya beralih ke aset yang likuid, terutama dolar Amerika Serikat. Hal ini dapat mendorong penguatan DXY.

Namun, Taufan menekankan bahwa penguatan ini biasanya bersifat respons cepat terhadap sentimen risiko, bukan tren jangka panjang. “Penguatan ini hanya akan menjadi tren struktural jika konflik meluas dan mengganggu stabilitas ekonomi global, khususnya pasokan energi,” katanya.

Dinamika Pasangan Valuta Asing

Respons dari pasangan mata uang seperti USD/JPY dan USD/CHF bisa lebih kompleks karena yen Jepang dan franc Swiss juga dikenal sebagai aset safe haven. Dalam kondisi kepanikan tinggi, yen dan franc justru bisa menguat terhadap USD. Artinya, tren bullish tidak selalu terjadi di semua pasangan berbasis USD karena arus lindung nilai bisa terbagi antara USD, yen, dan franc.

Selain faktor geopolitik, pasar valas juga sedang memantau arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia. Data inflasi Amerika Serikat yang masih relatif tinggi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini mendukung daya tarik dolar AS.

Di sisi lain, Bank of Japan mulai memberi sinyal normalisasi kebijakan moneter secara bertahap. Dalam jangka menengah, langkah ini berpotensi mendukung penguatan yen Jepang. Sementara itu, Swiss National Bank dinilai tetap responsif terhadap volatilitas global sehingga franc Swiss tetap menarik saat ketidakpastian meningkat.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Pasar Valas

Selain faktor-faktor di atas, pergerakan harga minyak dunia, kondisi pasar obligasi AS, serta perkembangan ekonomi di China dan Eropa turut memengaruhi selera risiko global.

Dalam kondisi saat ini, dolar AS masih menjadi safe haven paling likuid dan paling banyak diakses investor institusi. Namun, jika konflik semakin meluas dan volatilitas meningkat tajam, yen Jepang berpotensi menjadi mata uang yang mencatatkan kinerja terbaik karena historisnya sangat sensitif terhadap lonjakan risk aversion global.

Franc Swiss juga dinilai menarik sebagai alternatif defensif dengan volatilitas yang relatif lebih terkendali. Bagi investor ritel, Taufan menyarankan untuk tidak mengejar euforia jangka pendek dan tetap disiplin dalam manajemen risiko.

“Pendekatan yang lebih bijak adalah memanfaatkan momentum secara bertahap karena pergerakan aset safe haven dapat berbalik cepat jika tensi geopolitik mereda,” katanya.

Proyeksi Pasar Valas untuk Semester I 2026

Untuk proyeksi Semester I 2026, Taufan memperkirakan DXY berpotensi bergerak di kisaran 96 hingga 101, sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed serta stabilitas geopolitik global.

Sementara pasangan USD/JPY diperkirakan berada pada rentang 150 hingga 158, dengan risiko penurunan jika normalisasi kebijakan Bank of Japan berjalan lebih agresif. Adapun pasangan USD/CHF diproyeksikan bergerak di kisaran 0,74 hingga 0,80 dengan kecenderungan stabil hingga melemah apabila arus dana global lebih condong menuju franc Swiss sebagai aset lindung nilai utama.

Exit mobile version