Harapan Baru bagi Petani Jagung di Kabupaten Tanahlaut
Di tengah perubahan iklim dan dinamika pasar, para petani jagung di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel) kini menghadapi harapan baru. Sebagai salah satu daerah sentra jagung di Kalsel, Tala memiliki potensi besar untuk kembali menjadi penghasil jagung yang stabil dan berkelanjutan.
Sebagai informasi, jagung merupakan salah satu komoditas pertanian yang cukup diminati oleh petani di Tala. Namun, sejak sekitar tahun 2018 lalu, terjadi penyusutan luas tanam akibat harga jual yang cenderung melorot. Hal ini turut memengaruhi minat petani dalam menanam jagung. Meski begitu, kini muncul upaya bersama dari berbagai pihak untuk mengembalikan semangat para petani.
Polda Kalsel juga turut mencermati situasi ini. Dalam upaya membantu pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan menggencarkan penanaman jagung dan mencanangkan Tala sebagai sentra jagung. Pada Sabtu sore kemarin, Kapolda bersama jajaran, Gubernur Kalsel diwakili Sekdaprov M Syarifuddin, dan Bupati Tala H Rahmat Trianto melakukan penanaman jagung di Desa Banyuirang, Kecamatan Batibati. Ini merupakan bagian dari program penanaman serentak Kuartal I Tahun 2026.
Kegiatan tersebut disambut antusias oleh para petani di Tala. Mereka berharap komoditas ini dapat kembali memberi keuntungan yang menggiurkan seperti beberapa tahun silam. Salah seorang petani jagung, Maman, menyampaikan rasa senangnya atas dukungan pemerintah dan berbagai pihak yang mendorong peningkatan produksi jagung di daerah tersebut.
Menurut Maman, selama beberapa tahun terakhir sebagian petani sempat mengurangi bahkan berhenti menanam jagung karena harga jual yang tidak menentu. Ia berharap kebijakan penetapan harga beli yang lebih stabil dapat terus dijaga agar petani tidak lagi khawatir merugi saat panen.
Potensi Besar Tala sebagai Sentra Jagung
Bupati Tala H Rahmat Trianto menyampaikan optimisme bahwa daerahnya memiliki potensi besar menjadi sentra jagung di Kalimantan Selatan. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2020, luas tanam jagung di Tala pernah mencapai sekitar 27.590 hektare dengan produksi mencapai 123 ribu ton. Namun, pandemi Covid-19 serta ketidakstabilan harga membuat minat petani menurun dan luasan tanam menjadi hanya 16 ribu hektare.
“Sebagian petani memang sempat enggan menanam jagung karena harga jual yang tidak stabil,” kata Rahmat. Namun, kondisi itu mulai berubah setelah adanya dukungan berbagai pihak, termasuk upaya mendorong standar harga beli jagung sekitar Rp 4.000 per kilogram.
Menurut H Rahmat, jika potensi lahan yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal, produksi jagung di Tala bisa meningkat signifikan. “Kalau 10 ribu hektare saja bisa kita tanam setiap tahun, maka produksi bisa mencapai sekitar 200 ribu ton jagung,” ujarnya.
Upaya Polda Kalsel dalam Menanam Jagung
Sementara itu, Kapolda Irjen Rosyanto mengatakan pihaknya turut mendukung program swasembada jagung nasional dengan memanfaatkan lahan yang tersedia. Ia menyebutkan Polda Kalsel mendapat target dari Polri untuk menanam jagung seluas 1.431 hektare. Saat ini, pihaknya memiliki sekitar 2.052 hektare lahan, dan sekitar 900 hektare sudah ditanami jagung.
Menurutnya, dengan pengelolaan yang baik, produksi jagung di Kalimantan Selatan dapat mencapai 8 hingga 9 ton per hektare. Dengan adanya program penanaman serentak dan dukungan berbagai pihak, para petani berharap jagung kembali menjadi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan pendapatan mereka.
Riwayat Produksi Jagung di Tala
Dalam satu dekade terakhir, berdasarkan data terhimpun, produksi jagung di Tala menunjukkan tren yang fluktuatif. Faktor harga, cuaca, hingga kondisi ekonomi menjadi penentu minat petani untuk menanam. Beberapa catatan produksi jagung Tala antara lain:
- Tahun 2017: sekitar 80 ribu ton
- Tahun 2018: sekitar 95 ribu ton
- Tahun 2019: sekitar 110 ribu ton
- Tahun 2020: mencapai sekitar 123 ribu ton dengan luas tanam sekitar 27.590 hektare
Pada tahun 2021–2022, produksi menurun akibat pandemi dan berkurangnya minat tanam. Pada 2023–2025, mulai menunjukkan pemulihan. Dengan adanya program penanaman serentak dan dukungan berbagai pihak, para petani berharap jagung kembali menjadi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan pendapatan mereka.












