Kandang Ayam Tenilo Gorontalo: DPRD Tak Berdaya Hentikan Aktivitas

Polemik Kandang Ayam di Tenilo, Kota Gorontalo

Masalah kandang ayam petelur di Kelurahan Tenilo, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo kembali menjadi perhatian masyarakat. Meskipun telah diambil keputusan oleh DPRD Kota Gorontalo untuk menghentikan operasionalnya melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP), aktivitas di lokasi masih berjalan seperti biasa.

Pantauan menunjukkan bahwa kegiatan peternakan tetap berlangsung. Pekerja terlihat memberi makan ayam, menyortir telur, dan membersihkan kandang. Awalnya, akses ke area kandang tampak tertutup rapat dari luar. Namun setelah beberapa saat, tim diperkenankan masuk untuk melihat langsung kondisi di dalam.

Di dalam kandang, seorang pekerja bernama Antir Ali terlihat sibuk menjalankan tugas harian. Ia mengaku tidak mengetahui adanya rencana penutupan kandang tersebut. Menurut Antir, informasi tentang keputusan DPRD tidak disampaikan kepada para pekerja. Ia hanya mengetahui bahwa urusan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemilik usaha.

“Kurang tahu, Pak, cuma bos yang bicara,” ujarnya singkat. Antir juga menyebut bahwa ia tidak pernah mendengar adanya rencana penutupan kandang ayam tersebut. Menurutnya, aktivitas di lokasi tetap berjalan normal seperti biasa.

Selain itu, Antir bahkan tidak mengetahui adanya protes dari warga sekitar. “Kalau itu saya kurang tahu, Pak,” pungkasnya.

Dampak Lingkungan yang Mengganggu

Beberapa warga di sekitar lokasi masih merasakan dampak dari aktivitas peternakan. Jenab Mohamad, salah satu warga setempat, mengaku bau dari kandang ayam sesekali tercium hingga ke lingkungan rumahnya. “Ada bau, baru-baru di sini banyak lalat, kalau hujan di bau taH i,” katanya.

Meski demikian, ia menyebut bahwa saat berada di lokasi, bau tersebut tidak terlalu terasa. Namun pada waktu-waktu tertentu aromanya bisa sangat menyengat.

Selain bau, Jenab juga mengeluhkan kebisingan dari suara ayam. Suara itu menurutnya terdengar jelas terutama pada malam hari. Rumahnya sendiri berada sangat dekat dengan area kandang. Hanya tembok pembatas yang memisahkan rumahnya dengan kandang ayam.

Menurut Jenab, setelah hasil RDP beberapa waktu lalu, pemilik kandang hanya diberikan waktu satu bulan untuk evaluasi. Namun hingga kini aktivitas peternakan masih terus berjalan.

Jenab juga mengungkapkan bahwa lahan tersebut sebelumnya disebut akan digunakan sebagai lokasi pemakaman. “Dorang punya tanah itu mau dibuat pekuburan, baru tidak tau sudah dibuatkan kandang,” ujarnya.

Pandangan Warga yang Tidak Terlalu Mempermasalahkan

Di tengah keluhan sebagian warga, ada pula yang tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan kandang ayam. Salah satunya adalah Apriyanto Abdul. Ia mengaku tidak pernah melayangkan protes terkait aktivitas peternakan.

Apriyanto mengakui bau dari kandang memang ada. Namun menurutnya tidak terlalu parah dan hanya muncul pada kondisi tertentu. “Ada bau, tapi hanya timbul-timbul, kalau angin bawah pasti ada,” ujarnya.

Ia juga mengatakan rumahnya berada sangat dekat dengan kandang ayam. Bahkan dapurnya berada tepat di sisi tembok pembatas. “Ini dapur, tempat masak,” katanya sambil menunjuk bagian rumah.

Di antara banyak warga yang menyampaikan keluhan, Apriyanto mengaku dirinya tidak merasa keberatan. Sebelumnya, keberadaan kandang ayam petelur di tengah permukiman padat penduduk Tenilo memang memicu polemik. Warga mengeluhkan bau menyengat yang dinilai mengganggu kesehatan dan kenyamanan. Persoalan tersebut kemudian dibahas dalam RDP.

RDP melibatkan DPRD Kota Gorontalo, pemerintah daerah, pemilik usaha, serta perwakilan warga. Dalam forum itu, DPRD memutuskan penghentian aktivitas peternakan ayam petelur. Keputusan diambil setelah menerima aduan masyarakat terkait dampak lingkungan.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan keputusan itu belum dijalankan. Aktivitas kandang ayam masih berlangsung normal. Hal ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai efektivitas keputusan DPRD.

Exit mobile version