Pembenahan Besar-Besaran di RSUD Nunukan
RSUD Nunukan, Kalimantan Utara, mulai melakukan pembenahan besar-besaran dalam sistem dan tata kelola rumah sakit. Langkah pertama yang dilakukan adalah memperkuat fungsi hubungan masyarakat (humas) agar seluruh informasi terkait rumah sakit dapat tersampaikan secara transparan melalui satu pintu.
Direktur RSUD Nunukan, dr Andi Bau Tune Mangkau, menegaskan bahwa transparansi menjadi fondasi utama dalam memperbaiki manajemen rumah sakit. “Hal pertama yang kami dobrak adalah humas. Informasi rumah sakit harus satu pintu. Dari situ kita ingin membangun transparansi agar pengelolaan rumah sakit bisa lebih akuntabel,” ujarnya dalam Press Conference terkait Progress RSUD Nunukan.
Menurutnya, transparansi bukan sekadar keterbukaan informasi publik, tetapi juga bagian penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan rumah sakit. “Kita ingin pelayanan efektif dan efisien. Bukan hanya pelayanan kepada pasien, tetapi juga bagaimana penganggaran biaya di rumah sakit bisa dikelola dengan baik,” katanya.
Fokus pada Layanan Kuratif dan Rehabilitatif
Sebagai Rumah Sakit rujukan, RSUD Nunukan memiliki fokus utama pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif, tanpa meninggalkan peran promotif dan preventif. Sekitar 80 persen pelayanan rumah sakit berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan pasien, sementara 20 persen lainnya berkaitan dengan upaya promotif dan preventif.
“Di puskesmas itu kebalikannya. Mereka fokus pada promotif dan preventif. Jadi sangat wajar jika pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut akan dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.
RSUD Nunukan menyediakan layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) selama 24 jam dengan berbagai fasilitas seperti triase, resusitasi, tindakan pelayanan medik hingga ruang observasi intensif. Selain itu, RSUD Nunukan juga memiliki layanan rawat jalan dengan total 20 poliklinik spesialis.
“Alhamdulillah rumah sakit kita yang tidak terlalu besar ini sudah memiliki 20 poliklinik. Ke depan akan bertambah lagi, salah satunya poli nyeri. Kami juga akan membuka poli khusus bagi pasien yang tidak menggunakan asuransi atau pasien umum yang membutuhkan pelayanan khusus,” ungkapnya.
Penggunaan Gedung Baru dan Pemisahan Ruang Khusus
Sejumlah poliklinik kini telah dipindahkan ke gedung baru yang mulai difungsikan tahun ini. Namun beberapa poli tetap berada di gedung lama karena memiliki kebutuhan khusus. “Seperti poli paru dan poli jiwa, itu tidak bisa bergabung di ruangan tertutup karena memiliki kekhususan tersendiri,” katanya.
Untuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan, RSUD menyediakan layanan rawat inap yang terdiri dari dua kategori. Rawat inap biasa meliputi ruang Anggrek, Bougenville, Cempaka, dan Mawar. Sedangkan rawat inap khusus mencakup layanan ICU, PICU, NICU, dan Pelayanan Infeksi New Emerging dan Re-Emerging (Pinere) yang memiliki pengawasan lebih ketat dibandingkan ruang rawat inap biasa.
Selain itu, layanan penunjang medis seperti radiologi, laboratorium, dan rehabilitasi medik juga tersedia untuk mendukung proses diagnosis hingga terapi pasien. Sementara layanan penunjang nonmedis seperti keamanan dan kebersihan juga menjadi faktor penting dalam menjaga kenyamanan dan mutu pelayanan rumah sakit.
Tantangan Kekurangan Tenaga Kesehatan
Meski pelayanan terus berkembang, RSUD masih menghadapi tantangan kekurangan tenaga kerja. Saat ini jumlah karyawan RSUD tercatat sebanyak 681 orang yang terdiri dari 196 ASN, 49 PPPK penuh waktu, 294 PPPK paruh waktu, dan 142 non-ASN. Padahal untuk memenuhi standar pelayanan rumah sakit dengan kapasitas 175 tempat tidur, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai sekitar 830 orang.
“Artinya kita masih kekurangan sekitar 150 tenaga. Ini menjadi tantangan bagaimana kita tetap bisa memberikan pelayanan optimal,” ujarnya.
Manajemen rumah sakit pun tengah mencari strategi agar layanan tetap berjalan maksimal meski dengan keterbatasan sumber daya manusia.
Peningkatan Kunjungan Pasien
Di tengah berbagai tantangan tersebut, kepercayaan masyarakat terhadap RSUD justru menunjukkan peningkatan. Data rumah sakit mencatat tren kunjungan pasien yang terus naik. Pasien rawat inap yang sebelumnya berkisar 600 hingga 700 pasien per bulan kini meningkat menjadi sekitar 900 pasien.
Sementara total kunjungan pasien, termasuk rawat jalan, kini mencapai sekitar 6.500 pasien setiap bulan. “Kunjungan ini menunjukkan masyarakat mulai percaya dengan pelayanan rumah sakit kita. Harapannya mereka datang bukan karena terpaksa, tetapi karena merasa pelayanan kita memang sudah baik,” katanya.
Lebih lanjut, Ia menjelaskan berdasarkan data grafik kunjungan pasien selama satu tahun, jumlah pasien rawat jalan selalu lebih tinggi dibandingkan rawat inap. Secara umum, jumlah pasien rawat jalan menunjukkan tren peningkatan dari awal hingga akhir tahun.
Peningkatan kunjungan juga terlihat dari wilayah perbatasan seperti Kecamatan Lumbis dan Pulau Sebatik. Jika sebelumnya banyak warga memilih berobat ke daerah lain bahkan ke luar negeri, kini tren tersebut mulai berubah. “Dari Lumbis kunjungannya sudah cukup tinggi, tidak lagi banyak yang pergi ke Kabupaten Malinau. Begitu juga pasien dari Sebatik yang sebelumnya banyak ke Tawau Malaysia, sekarang mulai meningkat datang ke RSUD Nunukan,” pungkasnya.
