Kondisi Mojtaba Khamenei dan Pernyataan Trump yang Mencengangkan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa Presiden Iran, Mojtaba Khamenei, mengalami cedera berat akibat serangan pasukannya. Menurutnya, Mojtaba Khamenei dalam kondisi lumpuh. Ia menyebut bahwa meskipun terluka atau cacat, kemungkinan besar masih hidup dalam bentuk tertentu.
Pernyataan ini muncul setelah Mojtaba Khamenei, yang menjadi pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu, tidak pernah muncul di depan publik sejak dipilih menjadi pemimpin pada Minggu (8/23/2026). Pesan resmi yang mengatasnamakan dirinya baru-baru ini hanya dibacakan oleh penyiar televisi pemerintah Iran, memicu spekulasi luas mengenai kemampuan fisiknya untuk memimpin di tengah situasi yang semakin memanas.
Di sisi lain, Trump melalui platform Truth Social kembali menunjukkan sikap keras terkait operasi militer yang disebutnya Operation Epic Fury. Ia mengklaim bahwa militer AS telah berhasil melumpuhkan kekuatan Iran secara total. Menurutnya, angkatan laut dan udara Iran hancur, rudal dan drone mereka dimusnahkan, serta para pemimpin Iran telah hilang dari muka bumi.
Trump juga menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan militer yang sangat besar. “Kami memiliki daya tembak yang tak tertandingi, amunisi tanpa batas, dan banyak waktu — lihat saja apa yang akan terjadi pada orang-orang gila ini hari ini,” tulisnya. Ia bahkan menyebut bahwa membasmi para pemimpin Iran merupakan sebuah kehormatan besar baginya selaku Presiden ke-47 Amerika Serikat, karena rezim Iran telah membunuh orang-orang tak bersalah di seluruh dunia selama puluhan tahun.
Meski ditekan oleh pernyataan Trump, rezim Iran tetap menunjukkan sikap menantang. Melalui pernyataan resmi, Mojtaba Khamenei (yang dibacakan oleh penyiar) bersumpah akan terus menggunakan tuas pemblokiran Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang menghancurkan infrastruktur Iran. Karenanya sejumlah kapal tanker minyak di sana dilaporkan diserang dan terjebak di jalur pelayaran penting tersebut, sementara harga minyak dunia bertahan di sekitar 100 dolar per barel.
Atas hal itu, Trump berjanji akan menghancurkannya. “Mereka banyak berbicara, jadi dia harus membuktikannya. Kita lihat saja nanti karena kami sedang menghancurkan mereka,” kata Trump. “Kami menghantam mereka lebih keras daripada siapa pun yang pernah dihantam sejak Perang Dunia II,” tambahnya.
Krisis di Selat Hormuz
Situasi di Selat Hormuz saat ini berada dalam kondisi kritis. Jalur logistik energi paling vital di dunia ini dilaporkan lumpuh total. Serangkaian serangan terhadap kapal tanker minyak dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan lebih dari 150 kapal terjebak dan tidak berani melintas. Hal itu mendorong harga minyak dunia tetap bertahan di kisaran 100 dolar per barel.
Pemerintah Iran sendiri melalui duta besarnya di Siprus dan penasihat kepresidenan sempat mengonfirmasi bahwa Mojtaba Khamenei memang terluka akibat pemboman yang menewaskan ayahnya. Namun menegaskan bahwa sang pemimpin tetap menjalankan tugas otoritasnya meskipun dalam kondisi pemulihan.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut. Para analis keamanan menilai potensi gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap pasar energi global dan stabilitas ekonomi dunia jika konflik terus meningkat.
Iran Umumkan Terus Gempur Instalasi Militer AS
Pasukan elite Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengumumkan peluncuran fase ke-44 operasi militer besar yang menargetkan instalasi militer Israel serta pangkalan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah, Jumat (13/3/2026). Operasi yang dinamai Operation True Promise 4 tersebut disebut sebagai bagian dari serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah eskalasi konflik regional.
Media pemerintah Iran melaporkan serangan diluncurkan pada malam ke-23 Ramadan dengan menyasar sejumlah wilayah di Israel utara, termasuk Kiryat Shmona, Haifa, dan Hadera, serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Dalam operasi tersebut, IRGC menyatakan menggunakan berbagai jenis rudal balistik canggih, termasuk Khorramshahr missile, Kheibar Shekan missile, Fattah hypersonic missile, Imad missile, dan Qadr missile. Selain rudal, Iran juga meluncurkan serangan drone presisi terhadap target yang disebut sebagai posisi militer musuh.
Operasi itu diberi sandi “Ya Sadiq al-Wa’ad” yang berarti “Wahai Penjaga Janji,” dan disebut sebagai simbol komitmen Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel. Serangan ini juga diklaim sebagai penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang disebut Iran sebagai figur perlawanan, termasuk Qasem Soleimani, Hassan Nasrallah, Ismail Haniyeh, dan Yahya Sinwar.
Klaim Jatuhkan Pesawat Tanker AS
Dalam pernyataan resminya, IRGC juga mengklaim berhasil menembak jatuh pesawat tanker militer Amerika Serikat jenis Boeing KC-130 Stratotanker yang disebut sedang mengisi bahan bakar jet tempur Israel di udara. Iran menyatakan seluruh enam awak pesawat tersebut tewas dalam insiden tersebut. Namun klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh sumber militer Barat.
Sebelumnya, laporan terpisah juga menyebut pesawat tanker milik US Air Force jatuh di wilayah Irak dalam insiden yang masih diselidiki.
Iran Keluarkan Ancaman Keras
Seorang pejabat senior IRGC, Ali Fadavi, mengatakan operasi tersebut menunjukkan perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan. Ia menyebut pasukan Amerika Serikat dan Israel mengalami tekanan besar sejak dimulainya Operation True Promise 4. Sementara itu, komandan markas pertahanan Iran Khatam al-Anbiya Headquarters, Ali Abdollahi, menegaskan bahwa musuh akan membayar harga atas kejahatan mereka.
IRGC juga mengeluarkan peringatan keras kepada pasukan Amerika di Timur Tengah agar segera meninggalkan kawasan tersebut. Iran menyatakan operasi ini merupakan respons terhadap serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu yang menurut Teheran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Teheran menegaskan bahwa serangan mereka hanya menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat dan Israel, serta tidak ditujukan kepada negara-negara Arab di kawasan.
Serangan terbaru juga berlangsung menjelang peringatan Quds Day, hari solidaritas global bagi rakyat Palestina yang setiap tahun diperingati di Iran dan sejumlah negara lainnya. Para analis menilai eskalasi konflik ini meningkatkan risiko perang regional yang lebih luas di Timur Tengah, terutama jika serangan balasan terus berlanjut antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
