Kabar Duka: Murid Pesantren Labbaik Kubu Raya Meninggal Diduga Korban Kekerasan

Kasus Kekerasan di Pesantren Labbaik Indonesia: Seorang Santri Meninggal Dunia

Seorang santri bernama Irfan Zaki Azizi diperkirakan menjadi korban kekerasan di Pesantren Labbaik Indonesia, yang terletak di Kabupaten Kubu Raya. Korban mengalami luka lebam di wajah dan dugaan trauma di kepala, sehingga memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Sayangnya, nyawa korban tidak dapat diselamatkan setelah mendapatkan penanganan medis.

Keluarga korban awalnya diberi informasi bahwa kondisi Irfan disebabkan oleh alergi obat. Namun, saat mereka tiba di rumah sakit, kondisi anak mereka justru menunjukkan tanda-tanda yang tidak sesuai dengan penjelasan tersebut. Wajah Irfan terlihat lebam dan bengkak parah, dengan memar berwarna kehitaman di sekitar mata dan pipinya serta benjolan besar di kening. Hal ini membuat keluarga mulai mencurigai adanya kekerasan yang dialami putra mereka selama berada di lingkungan pesantren.

Penanganan Medis dan Proses Hukum

Pihak kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Irfan Zaki Azizi setelah dinyatakan meninggal dunia. Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Apitu Ade, menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah mendatangi rumah sakit untuk memastikan kondisi korban. Dari hasil pengecekan tersebut, diketahui bahwa Irfan dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis.

Setelah itu, pihak keluarga merencanakan untuk membawa jenazah Irfan kembali ke daerah asalnya di Kabupaten Kayong Utara untuk dimakamkan. Meskipun demikian, aparat kepolisian tetap menjalankan proses hukum terkait kasus ini. Pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan lebih lanjut guna mengungkap penyebab pasti kejadian yang menimpa korban.

Ade juga menegaskan bahwa kasus ini menjadi perhatian serius pimpinan kepolisian setempat. “Untuk proses hukum tetap berjalan dan ini tetap akan menjadi atensi Kapolres Kubu Raya,” ujarnya.

Peran Dokter dan Kepedulian Keluarga

Dokter jaga di RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Polda Kalbar menyebut adanya indikasi trauma di bagian kepala pada Irfan. Karena memerlukan penanganan spesialis, korban kemudian dirujuk ke RSU Santo Antonius Pontianak untuk menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis bedah saraf. Saat ini, kondisi Irfan masih belum stabil dan rencananya akan dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) guna pemantauan lebih intensif.

Orang tua Irfan, Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah, menyampaikan kekecewaan mereka atas penjelasan awal dari pihak pesantren. Mereka menilai bahwa kondisi anak mereka tidak sesuai dengan informasi yang diberikan. “Kami awalnya diberitahu anak kami alergi parasetamol. Tapi setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi,” ujar Ahmad.

Keluarga berharap pihak pesantren dapat memberikan penjelasan terbuka mengenai kejadian yang menimpa anak mereka, serta meminta agar kasus ini dapat ditelusuri secara menyeluruh.

Tanggapan dari Pihak Pesantren

Kepala Sekolah SMA Pesantren Labbaik Indonesia, Ustaz Aswandi Alfatih, menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memastikan penyebab kejadian yang dialami santri tersebut. “Kami belum bisa memberikan keterangan lebih jauh. Saat ini kami masih di rumah sakit untuk mencari penyebabnya. Jadi belum bisa disimpulkan apakah ada tindak kekerasan atau tidak,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Ia menambahkan bahwa pihak sekolah masih belum bisa memastikan kondisi kesadaran Irfan, karena masih menunggu hasil pemeriksaan dari tim medis terkait kondisinya. “Kami tidak bisa memastikan soal kesadarannya karena itu ranah medis. Namun yang kami ketahui, kondisinya belum kembali normal seperti biasa,” katanya.

Pihak pesantren juga meminta doa dari masyarakat agar Irfan segera pulih dan penyebab kejadian tersebut dapat segera terungkap.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *