Masalah Ketersediaan Pengemudi Ojol di Jakarta
Banyak pengguna ojek online (ojol) mengeluhkan kesulitan mendapatkan pengemudi, terutama pada sore hingga menjelang malam hari. Fenomena ini semakin sering terdengar dan menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat.
Salah satu driver ojol bernama Fajar (28) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi situasi tersebut adalah adanya program diskon tarif yang membuat para pengemudi lebih selektif dalam menerima pesanan. Menurutnya, jarak penjemputan yang ideal bagi pengemudi maksimal 1 kilometer. Jika lebih jauh, tarif harus menyesuaikan, apalagi kondisi lalu lintas di Jakarta yang sering macet.
Fajar menyebut, saat ini banyak pengemudi benar-benar mempertimbangkan jarak penjemputan sebelum menerima order dari penumpang. “Program diskon tarif membuat para pengemudi saat ini benar-benar memperhitungkan jarak penjemputan,” ujarnya.
Kemacetan membuat waktu tempuh semakin lama, sehingga pengemudi harus lebih berhitung agar perjalanan tetap sebanding dengan tarif yang diterima. Contohnya, jika penumpang dijemput sejauh 3 km, namun jalanan macet dan ada lampu merah lama, total jarak tempuh bisa mencapai 4 km.
“Karena Rp 10.000 itu semestinya, menurut perhitungan kami itu hanya argo untuk jemput saja, 3 km,” ungkap Fajar. Dalam kondisi tersebut, menurut Fajar, mematikan aplikasi atau off bid merupakan pilihan yang masuk akal.
Jika penumpang mengeluhkan sulit mendapat driver ojol saat jam pulang kerja, menurutnya hal itu merupakan akumulasi dari banyaknya driver yang off bid atau menghindari macet. “Ya karena off bid, kalau banyak yang off bid kan driver yang tersedia hanya tinggal sedikit.”
Keluhan Driver Lain
Hal serupa disampaikan oleh Mulia (30), driver di kawasan Juanda, Jakarta Pusat. Mulia tak ragu membatalkan pesanan atau mematikan aplikasi saat sistem pemesanan penumpang dalam kondisi blasting atau menyebar secara acak, bukan jarak dekat.
Biasanya hal itu terjadi saat hujan deras, kondisi banjir, dan cuaca buruk. Ditambah lagi, pemesan menggunakan mode hemat. “Kalau sudah blasting, mendingan kita off bid, atau berani cancel. Saya begitu biasanya langsung off bid. Sudah hafal saya kalau blasting,” tutur Mulia.
Pengaruh Pulang Kampung
Sementara, sejumlah driver ojol di Stasiun Dukuh Atas Hub, Jakarta Pusat menduga bahwa “krisis ojol” juga dipengaruhi banyaknya pengemudi yang sudah pulang kampung. “Yang lain sudah pulang ke Cilacap, ada ke Karanganyar ya kalau rekan-rekan di sini. Ke Jawa lah pokoknya,” kata salah satu driver bernama Todi.
Menurut Todi, yang paling terdampak ketika banyak driver mudik adalah pemesanan ojol instan atau menjemput langsung di lokasi menggunakan aplikasi. Jika biasanya ada lima orang atau lebih driver di shelter Dukuh Atas, saat ini hanya ada dua atau tiga saja.
Respons Aplikator
Merespons keluhan soal “krisis ojol”, Director of Mobility, Food, & Logistics Grab Indonesia Tyas Widyastuti mengatakan, pihaknya memahami adanya keluhan dari sebagian pengguna terkait waktu tunggu layanan yang lebih lama. “Kami memahami adanya keluhan dari sebagian pengguna terkait waktu tunggu layanan yang lebih lama dalam beberapa hari terakhir, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya,” ujar Tyas Widyastuti.
Ia menjelaskan, secara umum layanan Grab tetap beroperasi seperti biasa. Namun pada waktu dan area tertentu, sebagian pengguna dapat mengalami waktu tunggu yang lebih lama dari biasanya.
Sementara itu, Head of Driver Operations Gojek, Bambang Adi Wirawan, mengatakan lonjakan permintaan terjadi lebih awal dibanding hari biasa, terutama di kawasan bisnis di pusat Jakarta. “Pada periode akhir Ramadhan dan menjelang libur Hari Raya Idul Fitri, kami melihat adanya perubahan pola pemesanan. Jam sibuk biasanya sudah dimulai sejak pukul 15.30 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, khususnya di area bisnis di pusat Jakarta,” ujar Bambang.
Di sisi lain, ketersediaan pengemudi juga berkurang karena sebagian mitra driver memilih pulang kampung lebih awal untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga. “Kami memahami bahwa pada periode akhir Ramadhan, sebagian mitra driver Gojek, terutama yang beroperasi di kota-kota besar ada yang sudah mudik dan memilih menghabiskan waktu bersama keluarganya,” jelas Bambang.
