Budaya  

Sejarah Petirtaan Watugede, Situs Pemandian Putri Singhasari di Malang

Sejarah dan Keunikan Petirtaan Watugede

Petirtaan Watugede merupakan situs pemandian kuno yang menjadi peninggalan dari Kerajaan Singhasari pada abad ke-13. Dulu, tempat ini digunakan oleh permaisuri dan putri-putri kerajaan sebagai lokasi untuk mandi dan penyucian diri. Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, petirtaan ini juga terkait dengan legenda penting dalam sejarah Jawa, yaitu pertemuan antara Ken Arok dan Ken Dedes yang dianggap sebagai awal mula berdirinya dinasti besar Singhasari di Jawa Timur.

Situs ini kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, yang menunjukkan pentingnya warisan sejarah ini bagi bangsa Indonesia. Lokasinya berada di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Petirtaan Watugede tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah tetapi juga spiritual, karena masih banyak masyarakat yang datang untuk melakukan ritual atau penyucian diri.

Legenda yang Mengisi Sejarah Petirtaan Watugede

Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, Petirtaan Watugede dipercaya sebagai tempat pemandian Ken Dedes ketika ia masih menjadi istri Tunggul Ametung, penguasa Tumapel. Dalam Kitab Negarakretagama, disebutkan bahwa Petirtaan Watugede dikenal sebagai Taman Boboji, yaitu taman pemandian yang digunakan oleh Ken Dedes untuk menyucikan diri. Konon, saat ia sedang mandi di sana, tubuhnya memancarkan cahaya berwarna biru. Peristiwa ini kemudian diketahui oleh Ken Arok, yang akhirnya membunuh Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes.

Peristiwa ini menjadi awal mula berdirinya Kerajaan Singhasari yang dipimpin oleh Ken Arok dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Oleh karena itu, Petirtaan Watugede sering dianggap sebagai saksi bisu lahirnya dinasti besar tersebut.

Fungsi dan Tradisi Budaya

Selain sebagai tempat pemandian kerajaan, Petirtaan Watugede juga memiliki peran dalam tradisi budaya Jawa. Dahulu, para putri yang menginjak usia sekitar tujuh tahun menjalani proses penyucian diri di tempat ini. Dalam tradisi tersebut, para putri diajarkan berbagai nilai kehidupan seperti tata krama, pengendalian diri, hingga pemahaman spiritual agar dapat menyatu dengan alam dan leluhur.

Keberadaan Petirtaan Watugede baru ditemukan kembali pada tahun 1925 oleh seorang arkeolog Belanda. Setelah ditemukan, situs ini kemudian dipugar oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda pada tahun 1931. Kini, Petirtaan Watugede telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Nomor PM.56.PW.007/MKP/2010.

Struktur Kolam dan Mata Air Alami

Petirtaan Watugede terdiri dari satu kolam utama yang berukuran sekitar 7 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Keunikan dari petirtaan ini adalah adanya mata air alami yang terus mengalir dari mulut arca menuju kolam pemandian. Air yang keluar dari sumber tersebut sangat jernih dan tidak pernah berhenti mengalir hingga saat ini. Air tersebut berasal dari mata air alami yang berada di sisi timur situs, tepatnya di bawah pohon lo atau pohon ara.

Situs ini juga memiliki dua struktur bangunan utama. Struktur pertama berada di sisi utara dengan bentuk persegi panjang berukuran sekitar 22,5 × 18 meter dan memiliki tangga di sisi barat. Sementara struktur kedua berada di bagian selatan dan dibangun menggunakan bata merah berukuran 35 × 24 × 7 sentimeter.

Nilai Spiritual dan Ritual Lokal

Selain memiliki nilai sejarah, Petirtaan Watugede juga dikenal sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual bagi masyarakat. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang datang ke lokasi ini untuk melakukan wisata spiritual atau ritual penyucian diri. Di area petirtaan juga terdapat sebuah sumur dan palinggih yang sering digunakan umat Hindu untuk meletakkan sesaji.

Tak jauh dari sumur tersebut, terdapat tiga batu yang konon dahulu digunakan sebagai batu pengasah pedang. Pedang tersebut dipercaya digunakan untuk menjalankan hukuman pancung bagi laki-laki yang berani memasuki area pemandian khusus bagi para putri kerajaan tersebut. Selain itu, di dekat sumur juga terdapat sebuah gua yang dahulu digunakan sebagai tempat perlindungan bagi para putri kerajaan ketika terjadi bahaya. Namun saat ini gua tersebut sudah dalam kondisi tertutup.

Lingkungan Alam yang Asri

Petirtaan Watugede berada di lereng pegunungan yang memiliki banyak sumber mata air alami. Lingkungan di sekitar situs ini masih dipenuhi pepohonan besar yang membuat suasananya terasa sejuk dan teduh. Kawasan ini dahulu merupakan bagian dari kompleks pemandian yang kemungkinan memiliki beberapa arca sebagai hiasan kolam. Namun sebagian arca tersebut telah hilang dan beberapa di antaranya dipindahkan ke Museum Trowulan pada sekitar tahun 1970-an untuk menjaga kelestariannya.

Destinasi Wisata Sejarah dan Spiritual

Hingga kini, Petirtaan Watugede tidak hanya menjadi objek penelitian sejarah dan arkeologi, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi di Kabupaten Malang. Lokasinya berada sekitar 200 meter di sebelah timur Stasiun Kereta Api Singosari dan dapat diakses dengan mudah oleh pengunjung. Menurut juru kunci setempat, pengunjung yang datang ke tempat ini tidak hanya berasal dari wilayah Jawa Timur, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Indonesia bahkan dari mancanegara.

Setiap bulannya, jumlah pengunjung dapat mencapai sekitar seribu orang. Pengunjung yang datang tidak dikenakan biaya masuk, cukup mengisi buku tamu sebagai catatan kunjungan. Meski sebagian arca yang dahulu menghiasi kolam telah dipindahkan dan diamankan di Museum Trowulan, sisa-sisa keindahan Petirtaan Watugede masih dapat dinikmati hingga kini.

Keberadaan situs ini menjadi salah satu bukti penting kejayaan Kerajaan Singhasari yang menyimpan nilai budaya, spiritual, serta legenda yang terus hidup dalam ingatan masyarakat hingga kini. Dengan begitu, warisan bersejarah tersebut juga menjadi bagian dari kekayaan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Exit mobile version