Perang Iran: Biaya Ekologis Kita

Dalam dua minggu pertama Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, lebih dari 5 juta ton emisi, baik secara langsung maupun tidak langsung, telah dilepaskan ke atmosfer bumi kita. Angka ini merupakan hasil estimasi dari Climate and Community Institute yang baru-baru ini dirilis. Dengan demikian, selain menjadi tragedi kemanusiaan dan masalah ekonomi yang kompleks, perang tersebut juga menyebabkan ongkos ekologis yang besar.

Aspek ini sering kali terabaikan dalam diskusi karena tertutup oleh kepanikan global akibat kenaikan harga bahan bakar energi. Padahal, dampak ongkos ekologis ini memiliki konsekuensi yang hampir permanen bagi bumi, termasuk dari respons dunia terhadap goncangan energi global. Angka-angka yang muncul dari berbagai lembaga peneliti menunjukkan betapa perang ini membawa dampak ekologis yang sangat besar.

Sumber Ongkos

Sebagian besar emisi berasal dari kerusakan rumah dan bangunan, diikuti oleh minyak yang hilang akibat pemboman fasilitas penyimpanannya. Emisi dari penggunaan bahan bakar untuk operasi militer hanya menempati urutan ketiga, yang sebelumnya diasumsikan sebagai sumber utama emisi. Sumber lainnya berasal dari alat perang yang rusak serta penggunaan rudal dan drone.

Kehancuran bangunan sipil menjadi penyumbang emisi terbesar karena jumlah kerusakan fisik yang begitu besar. Data Palang Merah Iran yang digunakan dalam estimasi menunjukkan sekitar 20 ribu unit bangunan terdampak perang. Ini mencakup lebih dari 16 ribu rumah, ribuan unit komersial, dan puluhan fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Estimasi ini menekankan bahwa emisi bukan hanya hasil dari kehancuran bangunan, tetapi juga akan terus bertambah saat ada proses rekonstruksi yang membutuhkan produksi semen hingga baja. Dengan demikian, perang meninggalkan utang karbon bagi masa depan.

Di luar itu, konsekuensi lebih luas muncul dari respons dunia terhadap kelangkaan energi. Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20-25 persen perdagangan minyak dan gas dunia—terutama Asia—serta lumpuhnya fasilitas kilang LNG Qatar, memaksa banyak negara mencari solusi jangka pendek.

Gangguan pasokan ini mendorong banyak negara Asia kembali mengandalkan batubara sebagai sumber energi alternatif untuk memproduksi listrik. Contohnya adalah India, Bangladesh, Filipina, dan Korea Selatan. Dengan sumber batubara yang tersedia, hal ini tampak rasional sebagai cadangan energi utama.

Indonesia tentu saja tidak luput dari dampak krisis energi global ini. Meskipun ada keuntungan jangka pendek, seperti peningkatan harga batubara hingga belasan persen, Indonesia juga menghadapi tantangan dalam mencapai sasaran transisi energi. Hal ini menjadi paradoks bagi produsen batubara yang terjebak dalam ketergantungan pada batubara.

Konsekuensi Ekonomi

Polusi udara akibat pembakaran batubara telah merugikan ekonomi Asia miliaran dolar per tahun, terutama dalam bentuk biaya kesehatan dan hari kerja yang hilang. Di Indonesia, kerugian ekonomi mencapai ratusan triliun rupiah per tahun, sebagian besar terjadi di Jabodetabek.

Mencari Jalan Keluar

Krisis yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menegaskan bahwa “ketahanan energi” berbasis bahan bakar fosil justru menciptakan kerentanan jangka panjang. Guncangan geopolitik mudah memperparah kerentanan ini.

Energi berbahan bakar fosil rentan terhadap konflik, bahkan yang jauh dari kita. Ketergantungan pada satu jalur pasokan, seperti Selat Hormuz, adalah kerentanan struktural yang tidak bisa diatasi hanya dengan menambah cadangan dan pasokan batubara.

Ironi ini kontras dengan hasil Konferensi Iklim PBB (COP30) di Brasil tahun lalu, yang menyerukan percepatan transisi energi bersih. Di satu sisi, dunia berkomitmen mengurangi emisi, tetapi konflik dan perang justru mendorong banyak negara kembali ke batubara. Alhasil, komitmen dan realitas semakin jauh.

Bagi Indonesia, usulan kebijakan windfall tax dari lonjakan harga komoditas, termasuk batubara, menjadi urgen untuk dipertimbangkan secara serius. Namun, ini bukan hanya demi penerimaan negara, melainkan juga untuk membangun fondasi ketahanan energi jangka panjang. Hal ini harus menjadi bagian dari jalan keluar dari paradoks yang terjadi.

Perang Iran bukan hanya krisis di Timur Tengah. Ini menjadi cermin betapa rentannya ketahanan energi dan ekonomi global, termasuk Indonesia. Selama masih tergantung pada energi fosil, setiap konflik di belahan bumi manapun akan selalu menyertakan kita untuk turut menanggung ongkos ekologisnya yang saat ini sudah di depan mata.

Exit mobile version