AS mengaktifkan pangkalan Perang Dunia II di tengah tekanan Cina

Pemulihan Landasan Udara Era Perang Dunia II di Pasifik

Amerika Serikat (AS) sedang memperbaiki kembali landasan udara yang dibangun pada masa Perang Dunia II di pulau-pulau terpencil Pasifik. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas militer Cina di kawasan. Dalam konteks ini, pemulihan infrastruktur lama ini dianggap sebagai bagian dari strategi untuk menghadapi potensi konflik di kawasan Indo-Pasifik.

Landasan udara yang awalnya dibangun untuk menyerang Jepang pada akhir Perang Dunia II kini mulai diperbaiki kembali. Proses ini dilakukan secara bertahap, seiring dengan upaya AS memperkuat posisi pertahanannya di tengah tekanan yang semakin besar dari Cina. Kapal-kapal Cina sering kali melakukan uji coba klaim maritim terhadap Korea Selatan dan Jepang di bagian utara Pasifik. Sementara itu, di bagian selatan, Beijing rutin menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan, wilayah yang selalu menjadi sengketa antara Cina dan pihak berwenang setempat.

Cina juga mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan sebagai wilayahnya. Meskipun klaim ini telah ditolak oleh tribunal internasional pada 2016, Beijing tetap mempertahankan klaimnya. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong AS untuk memperkuat kehadirannya di kawasan.

“Kekhawatiran utama di kawasan ini adalah Cina,” kata Dan Pinkston, profesor hubungan internasional di Seoul Troy University sekaligus mantan perwira Angkatan Udara AS, kepada DW. “Langkah ini tampaknya merupakan respons terhadap upaya Cina memperluas kapasitas militernya sendiri.”

Landasan Udara Bersejarah

Detail pekerjaan di pangkalan era perang di Tinian dan Peleliu masih minim dipublikasikan. Namun, analis menilai proyek ini bertujuan memberikan opsi tambahan bagi Angkatan Udara AS, sehingga tidak hanya bergantung pada pangkalan utama seperti Andersen di Guam atau Kadena di Okinawa, Jepang.

Sejak 2023, insinyur AS memperbarui empat landasan pacu sepanjang 2.400 meter di North Field, Pulau Tinian, yang pertama kali dibangun sekitar 80 tahun lalu. Dari lokasi inilah pesawat pembom B-29 Superfortress Enola Gay lepas landas untuk menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.

Tiga hari kemudian, pesawat B-29 lainnya juga lepas landas dari landasan yang kini masuk wilayah Kepulauan Mariana Utara untuk menjatuhkan bom kedua di Nagasaki, yang memaksa Jepang menyerah. Pangkalan ini dulu dikenal sebagai yang tersibuk di dunia, namun ditinggalkan pada 1947 dan sebagian besar kembali tertutup hutan hingga 2003, ketika satu landasan dibersihkan untuk latihan. Pembersihan dalam skala lebih besar baru dimulai lagi pada 2023.

Insinyur juga bekerja di Peleliu, salah satu pulau paling selatan di kepulauan Palau dan lokasi pertempuran sengit pada masa perang. Landasan sepanjang 1.800 meter selesai dibangun sebelum perebutan pulau dari Jepang berakhir, dan digunakan untuk mendukung operasi AS di kawasan Pasifik hingga perang usai. Landasan itu sempat berfungsi sebagai bandara lokal bagi warga, tetapi hanya bisa digunakan pesawat kecil hingga unit militer AS tiba pada 2024 untuk memperbaikinya. Pada Juni 2024, pesawat tanker KC-130 menjadi yang pertama mendarat di landasan yang telah diperbaiki.

Penataan Ulang Strategi Pangkalan

“Sepuluh tahun lalu, AS sangat fokus meninjau ulang pangkalan militernya di Timur Tengah,” kata Garren Mulloy, profesor hubungan internasional di Daito Bunka University sekaligus pakar militer, kepada DW. “Mereka kini menyadari betapa rentannya landasan udara dan infrastruktur terkait terhadap potensi serangan.”

Kita juga melihat Cina meningkatkan aktivitas militer di Indo-Pasifik dalam periode yang sama. Ini mengubah perhitungan strategis Washington, yang sebelumnya menganggap kawasan ini relatif aman dari tantangan langsung. Fasilitas dasar yang dibutuhkan untuk meningkatkan pangkalan ini meliputi permukaan landasan baru, area pergerakan pesawat, serta area parkir khusus agar pesawat tidak terperosok di tanah berlumpur di pulau-pulau yang lembap dan sering diterpa badai tropis.

Akses ke sumber listrik dan air juga menjadi kebutuhan utama, disertai tangki bahan bakar bawah tanah serta bunker yang diperkuat untuk pesawat, senjata, dan logistik lainnya. Di tahap berikutnya, pangkalan ini juga berpotensi dilengkapi radar dan sistem pertahanan. Militer AS sebelumnya menyebut kepada DW pada 2024 bahwa survei tengah dilakukan untuk penempatan dan operasional sistem antirudal Patriot.

Radar maupun sistem senjata kemungkinan belum ditempatkan saat ini, tetapi infrastruktur dasarnya sedang disiapkan, kata Mulloy. “Ancaman utama bagi AS di kawasan ini jelas Cina, meskipun kita juga tidak bisa memastikan langkah Korea Utara, sehingga masuk akal jika ada rencana cadangan.”

Exit mobile version