JAKARTA — Aktivitas manufaktur Tiongkok kembali mencatatkan ekspansi untuk pertama kalinya sepanjang tahun ini meskipun harga energi meningkat dan konflik di kawasan Timur Tengah mengganggu rantai pasok global. Data dari Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS) menunjukkan bahwa indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur naik menjadi 50,4 pada bulan Maret, dibandingkan dengan angka 49 pada bulan sebelumnya. Angka tersebut berada di atas ambang batas 50 yang memisahkan antara ekspansi dan kontraksi.
NBS menyatakan bahwa angka tersebut sedikit melampaui perkiraan median ekonom yang disurvei oleh Bloomberg sebesar 50,1. Selain sektor manufaktur, aktivitas nonmanufaktur yang mencakup sektor konstruksi dan jasa juga tumbuh tak terduga pada bulan ini. Indeks sektor tersebut naik menjadi 50,1 dari 49,5 pada Februari.
Data ini menjadi indikator resmi pertama yang mencerminkan dampak konflik Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Ahli statistik NBS, Huo Lihui, menyatakan bahwa konflik geopolitik di kawasan tersebut telah mendorong kenaikan tajam harga bahan baku seperti minyak dan produk kimia, serta meningkatkan biaya logistik.
“Pada bulan ini, proporsi perusahaan yang melaporkan tingginya biaya bahan baku dan biaya logistik meningkat dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Sektor manufaktur Tiongkok kini keluar dari fase kontraksi selama dua bulan terakhir, didorong oleh peningkatan belanja pemerintah sejak awal tahun serta ekspor yang tetap kuat berkat permintaan global terkait teknologi kecerdasan buatan. Namun, dampak konflik tersebut mulai menyebar ke perekonomian global. Beberapa indeks PMI global yang dihimpun oleh S&P Global pada Maret menunjukkan penurunan aktivitas di berbagai negara.
Tiongkok masih rentan terhadap guncangan eksternal jika pertumbuhan global melambat, terutama karena perang di Iran mendorong lonjakan harga energi dunia. Banyak pabrik di Tiongkok yang bergantung pada minyak mentah atau produk turunannya sebagai bahan baku kini menghadapi lonjakan biaya produksi.
Pada Maret, pabrik-pabrik Tiongkok mencatat kenaikan biaya bahan baku dan harga output tercepat dalam sekitar empat tahun terakhir, seiring lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan energi global. Selain minyak, kenaikan harga logam nonferrous seperti tembaga dan aluminium dalam beberapa bulan terakhir juga meningkatkan biaya produksi perusahaan. Namun, kenaikan harga produk dari pabrik masih lebih lambat dibandingkan lonjakan biaya, yang mengindikasikan sebagian produsen menanggung sendiri tekanan biaya tersebut.
Data PMI resmi Tiongkok ini dirilis sehari sebelum survei manufaktur swasta dipublikasikan. Survei tersebut biasanya lebih sensitif terhadap aktivitas perdagangan karena fokus pada perusahaan kecil dan berorientasi ekspor. Cadangan minyak strategis Tiongkok yang besar serta percepatan pengembangan energi terbarukan sejauh ini membantu meredam dampak konflik terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Namun, risiko lain juga muncul. Tiongkok dan Amerika Serikat mulai melakukan penyelidikan perdagangan satu sama lain menjelang rencana kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada pertengahan Mei. Hubungan dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut sempat stabil setelah saling memberlakukan kebijakan perdagangan tahun lalu. Meski demikian, Beijing menolak langkah baru Washington yang bertujuan menghidupkan kembali agenda tarif Trump setelah sebagian tarifnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Pemerintah Tiongkok juga menurunkan target pertumbuhan ekonomi tahunannya menjadi 4,5%–5%, target paling rendah sejak 1991. Walaupun ekspor pabrik Tiongkok melonjak pada dua bulan pertama 2026 setelah mencatat surplus perdagangan tertinggi tahun lalu, prospek ekonomi kini sebagian bergantung pada durasi dan intensitas perang Iran yang berpotensi menekan pertumbuhan global dan memicu inflasi.
Chief economist Greater China di Australia & New Zealand Banking Group, Raymond Yeung, menilai aktivitas manufaktur Tiongkok menunjukkan kinerja yang cukup baik. Menurutnya, subindeks output rebound cukup kuat pada Maret setelah libur Tahun Baru Imlek. Dia memperkirakan ekonomi Tiongkok kemungkinan tumbuh lebih cepat dari 4,5% pada kuartal ini.
