Asing Larikan Dana dari Pasar Modal RI, Net Sell Capai Rp45 Triliun per Maret 2026



JAKARTA – Dana asing mengalir keluar dari pasar modal Indonesia dengan nilai mencapai Rp45 triliun sepanjang Maret 2026. Aksi jual tersebut terjadi di pasar saham dan surat berharga negara (SBN) akibat meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi menjelaskan bahwa di pasar saham terdapat net sell asing senilai Rp23,34 triliun secara month to month (MtM). Ia menambahkan bahwa lonjakan jual oleh investor asing disebabkan oleh transaksi di pasar negosiasi pada sejumlah saham di bursa efek.

Di pasar obligasi, investor non-residen tercatat membukukan net sell di pasar SBN sebesar Rp21,80 triliun secara MtM. Hengkangnya dana asing tersebut turut menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) bulan Maret 2026 yang terpangkas 14,42% MtM, sementara Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun 2,03% MtM.

Dalam pasar reksa dana, nilai aktiva bersih (NAB) di bulan Maret 2026 turun 2,51% MtM, namun menguat 3,02% secara year to date (YtD). Hasan menjelaskan bahwa terjaganya NAB reksa dana tersebut didorong oleh adanya net subscription sebesar Rp29,12 triliun secara YtD.

Hasan melanjutkan bahwa meski asing hengkang, investor domestik terpantau masih cukup solid. Jumlah investor pasar modal Tanah Air pada bulan Maret 2026 bertambah 1,78 juta investor baru, sehingga totalnya menjadi 24,74 juta, atau tumbuh 21,51% secara YtD.

“Pasar modal dalam negeri terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha. Hingga akhir Maret 2026 secara year to date nilai fundraising di korporasi di pasar modal telah mencapai angka Rp51,96 triliun,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan bahwa kondisi pasar modal domestik saat ini tak lepas dari dampak negatif perang Timur Tengah yang sedang bergejolak. Wanita yang akrab disapa Kiki tersebut menjelaskan bahwa dampak eskalasi Timur Tengah ke sektor keuangan Tanah Air dapat terjadi melalui tiga kanal utama, yaitu financial market channel, kenaikan harga energi dan direct channel di dalam perdagangan, serta kanal ketiga melalui eksposur investasi.

Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, OJK mendorong lembaga jasa keuangan untuk melakukan asesmen lanjutan secara forward looking dan memperkuat langkah antisipatif termasuk melalui penguatan manajemen risiko serta menjaga kecukupan likuiditas dan permodalan. Kiki mengatakan OJK juga berkoordinasi dengan BEI untuk terus memantau dinamika pasar modal dan mengambil langkah yang diperlukan.

“Kami menilai sejumlah kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar saham masih tetap relevan, yaitu buyback saham tanpa rapat umum pemegang saham, penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling, kebijakan trading halt, dan juga batasan auto rejection. Pada 13 Maret 2026, OJK dan BEI telah menetapkan pemberlakuan kembali kebijakan-kebijakan tersebut,” ujarnya.

Langkah-Langkah yang Diambil oleh OJK

  • OJK mendorong lembaga jasa keuangan untuk melakukan asesmen lanjutan secara forward looking.
  • Memperkuat langkah antisipatif, termasuk penguatan manajemen risiko.
  • Menjaga kecukupan likuiditas dan permodalan.
  • Berkoordinasi dengan BEI untuk memantau dinamika pasar modal dan mengambil langkah yang diperlukan.

Dampak Perang Timur Tengah terhadap Sektor Keuangan

  • Melalui financial market channel.
  • Kenaikan harga energi dan direct channel di dalam perdagangan.
  • Eksposur investasi.

Kebijakan yang Masih Relevan untuk Menjaga Stabilitas Pasar Saham

  • Buyback saham tanpa rapat umum pemegang saham.
  • Penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling.
  • Kebijakan trading halt.
  • Batasan auto rejection.

Pada 13 Maret 2026, OJK dan BEI telah menetapkan pemberlakuan kembali kebijakan-kebijakan tersebut.

Exit mobile version