Menteri Bahlil: Indonesia Berhasil Atasi Krisis BBM Nasional

Indonesia Mengklaim Sudah Melewati Krisis Pasokan BBM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim bahwa Indonesia telah berhasil melewati masa krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang disebabkan oleh perang di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini didasarkan pada kondisi pasokan BBM nasional yang tetap terjaga, meskipun ada gangguan distribusi dan kenaikan harga minyak global.

Bahlil menyatakan bahwa Indonesia tidak melakukan impor BBM jadi dari kawasan Timur Tengah. Impor hanya dilakukan untuk crude oil dengan porsi sekitar 20-25 persen. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga stabilitas pasokan BBM dalam negeri.

Kondisi Stok Energi Nasional

Menurut Bahlil, stok energi nasional saat ini berada dalam kondisi aman. Ia menyebutkan bahwa stok BBM masih berada di atas batas minimal, yaitu lebih dari 20 hari. Begitu pula dengan stok elpiji yang berada di atas 10 hari.

“Jadi sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa masa kritis kita terhadap dinamika global untuk BBM, alhamdulillah kita sudah lewati,” ujar Bahlil saat memberikan pernyataan di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Ia menegaskan bahwa stok nasional tetap berada pada batasan minimal yang aman. Dengan kondisi ini, Indonesia dianggap mampu menghadapi tantangan pasokan BBM akibat ketidakstabilan global.

Nasehat untuk Masyarakat

Meski demikian, Bahlil tetap meminta masyarakat untuk bijak dalam menggunakan BBM maupun elpiji. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan energi secara efisien, mengingat situasi geopolitik yang masih bergejolak.

Selain itu, Bahlil juga menyampaikan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi masih dalam proses perhitungan. Ia menjelaskan bahwa pemerintah bersama badan usaha sedang melakukan evaluasi terkait komponen-komponen yang memengaruhi harga, seperti rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).

“Mudah-mudahan, doakan agar betul-betul harga ICP bisa turun, itu akan jauh lebih baik lagi. Tapi sampai dengan sekarang kami masih melakukan perhitungan dengan badan usaha seperti Pertamina dan swasta,” tambahnya.

Langkah Mitigasi Pasokan Energi

Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Migas) Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, juga menyampaikan langkah-langkah mitigasi pasokan energi di tengah situasi gejolak di Timur Tengah. Ia menekankan pentingnya diversifikasi sumber impor BBM dan elpiji.

“Kami mengalihkan sumber impor yang tadinya berasal dari negara Timur Tengah yang terkendala dengan masalah di Selat Hormuz menjadi ke negara-negara lain seperti Amerika, Afrika, Asia dan negara-negara di ASEAN,” jelas Rizwi.

Selain itu, pemerintah juga mendorong optimalisasi kilang-kilang dalam negeri untuk produksi BBM dan elpiji. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah menginstruksikan kepada seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) agar mengutamakan pasokan ke dalam negeri daripada ekspor.

“Artinya, crude yang diproduksi di dalam negeri diupayakan untuk seluruhnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk kilang minyak di dalam negeri. Kami mengoptimalkan kilang-kilang dalam negeri,” tegas Rizwi.

Keamanan Pasokan Crude Oil

Bahlil juga memastikan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak mengganggu pasokan BBM secara umum. Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber impor crude oil, sehingga tidak mengalami ketergantungan dari pasokan Timur Tengah.

“Kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika, dan beberapa negara lain. Jadi InsyaAllah clear-lah, aman,” tegasnya.


Exit mobile version