Semangat Bandung Memudar di Usia 71 Tahun, Indonesia Dianggap Hilang Jiwa Bebas Aktif

Semangat Bandung di Tengah Dinamika Geopolitik Dunia

Di tengah berbagai konflik yang terjadi di dunia, seperti perang antara Amerika Serikat dan Iran, serta perselisihan antar negara lainnya, relevansi Semangat Bandung atau Konferensi Asia Afrika (KAA) kembali menjadi pertanyaan besar. Apakah semangat yang lahir dari KAA 1955 masih relevan dalam situasi geopolitik saat ini yang cenderung tanpa aturan? Apakah nilai-nilai tersebut tetap menjadi dasar kebijakan luar negeri suatu negara?

Wim Thoha Daniadji, dosen Hubungan Internasional di Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung, menjelaskan bahwa KAA 1955 bukan sekadar peristiwa diplomatik. Lebih dari itu, KAA merupakan pernyataan moral bahwa dunia tidak harus tunduk pada kehendak kekuatan besar.

“Bandung adalah simbol keberanian politik, sekaligus fondasi bagi lahirnya tatanan alternatif yang lebih setara,” ujarnya saat dihubungi.

Tujuh puluh satu tahun lalu, kata Aldi, dunia pernah menoleh ke Bandung. Di sinilah, negara-negara yang baru merdeka berkumpul, menyusun bahasa bersama untuk melawan ketidakadilan global. Nilai-nilai yang melahirkan solidaritas dan keadilan itu kini luntur. Peringatan 71 tahun Konferensi Asia-Afrika pada April 2026 kembali berlangsung tanpa resonansi global yang berarti. Tidak ada inisiatif besar, tidak ada konsolidasi negara-negara Asia-Afrika, tidak ada upaya serius untuk menghidupkan kembali semangat Bandung sebagai panggung diplomasi dunia.

Yang tersisa saat ini cuma seremoni lokal, kegiatan museum, dan retorika rutin. Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan sekadar kelalaian administratif melainkan kehilangan landasan arah.

Padahal, sejarah mencatat bahwa KAA 1955 melahirkan Dasasila Bandung, sepuluh prinsip yang menjadi fondasi hubungan internasional antarbangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, non-intervensi, penyelesaian damai, dan penolakan terhadap kolonialisme dalam segala bentuknya. Prinsip-prinsip itu bahkan menginspirasi lahirnya Gerakan Non-Blok serta menjadi acuan kerja sama Selatan-Selatan.

Menurut dia, warisan itu bukan sekadar kisah nostalgia. KAA adalah modal strategis yang sangat relevan dalam dunia yang kembali terfragmentasi. Dalam satu dekade terakhir, dunia mengalami kemunduran serius dalam multilateralisme. Konflik bersenjata juga meningkat, rivalitas kekuatan besar mengeras, dan proteksionisme ekonomi kembali mencuat. Dalam situasi demikian, dunia justru membutuhkan kembali suara moral kolektif, sesuatu yang dulu pernah lahir dari Bandung.

Ironi di Tengah Kebutuhan Global

Namun di tengah semakin relevannya Semangat Bandung saat ini, Indonesia malah absen. Aldi pun mempertanyakan apa kompas moral yang menavigasi arah politik luar negeri pemerintah Prabowo kini. “Bukan hanya panggung itu tidak dimanfaatkan, tetapi arah kebijakan luar negeri Indonesia tampak semakin menjauh dari semangat Bandung itu sendiri,” katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir misalnya, Aldi menyoroti sejumlah kebijakan luar negeri Indonesia yang menunjukkan pertanyaan serius tentang konsistensinya dengan prinsip bebas-aktif dan semangat Bandung. Ia mencontohkan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) bikinan Donald Trump. Tindakan itu memunculkan kesan Indonesia tidak lagi berada pada posisi independen. Di sektor ekonomi, perjanjian perdagangan timbal balik antara Indonesia-AS (ART) yang sangat asimetris juga memunculkan kekhawatiran.

Saat komitmen dalam perjanjian yang diberikan jauh lebih besar daripada yang diterima, kata dia, pertanyaan kemudian bukan hanya soal manfaat ekonomi jangka pendek, melainkan keadilan dan ekonomi jangka panjang.

“Apakah ini masih sejalan dengan semangat kemandirian yang dulu diperjuangkan di Bandung?” tanya Aldi.

Hal terbaru lain adalah isu kerja sama pertahanan yang baru-baru ini dibicarakan oleh Menteri Pertahanan Indonesia dengan Menteri Pertahanan AS yang menyentuh aspek kedaulatan wilayah, termasuk akses ruang udara. Padahal, prinsip non-intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan merupakan inti dari Dasasila Bandung.

Relevansi Dasasila Bandung dalam Era Global

Melenceng

Pengamat Hubungan Internasional sekaligus Dosen Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Dr Phil Akmal Luthfi Kurniawan, MA, mengungkapkan, peringatan 71 tahun KAA menjadi momentum untuk kembali merefleksikan relevansi Dasasila Bandung di kancah global. Di tengah situasi geopolitik dunia yang memanas akibat rivalitas negara-negara adikuasa, semangat dan nilai-nilai yang tertuang dalam Dasasila Bandung justru semakin kuat dan relevan untuk dijadikan pijakan diplomasi perdamaian.

Apalagi, situasi tata kelola global saat ini sedang dipenuhi oleh ketidakpastian. Akibat konflik berkepanjangan di berbagai belahan dunia, mulai dari perang di kawasan Timur Tengah hingga ketegangan di Eropa Timur. Melihat kondisi yang menjurus pada contested multipolarity, seperti ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Timur Tengah, Dasasila Bandung menawarkan kerangka kerja yang konstruktif. Prinsip-prinsip seperti menghormati hak asasi manusia, mengakui persamaan derajat, dan tidak melakukan intervensi urusan dalam negeri negara lain, menjadi fondasi kuat bagi konsep peace of coexistence atau hidup berdampingan secara damai.

“Dasasila Bandung menawarkan kerangka perdamaian yang selaras dengan prinsip Indonesia. Ini tercermin di dalam politik luar negeri Indonesia, yaitu prinsip bebas aktif. Indonesia tidak terjebak dalam blok-blok tertentu, tetapi tetap terlibat dalam upaya perdamaian dunia,” tutur Akmal.

Tak dapat dimungkiri negara-negara seperti KAA saat ini terkesan seperti kurang mengambil peran dalam percaturan global, karena global saat ini lebih dinamis dan kompleks.

Budaya sebagai Jembatan Perdamaian

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai, Dasasila Bandung yang lahir dari Konferensi Asia Afrika pada 1955 tetap relevan sebagai fondasi dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil, setara dan beradab. Dia juga menekankan pentingnya budaya sebagai jembatan perdamaian dunia.

Fadli menyampaikan hal itu dalam pidato kebudayaan di perayaan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Minggu 19 April 2026. Dalam pidatonya, Fadli menegaskan bahwa dunia saat ini telah berubah secara signifikan jika dibandingkan dengan tahun 1955.

“Sebagaimana bahwa kelahiran spirit Bandung itu masih terasa ada, terutama di negara-negara Global South. Akan tetapi, konteksnya sekarang sedikit berbeda ketika berbagai negara mendapat pendekatan atau tekanan dari Amerika Serikat (dan kekuatan besar lainnya). Hal ini membuat mereka mencoba netral, tapi tidak leluasa untuk menyuarakan Dasasila Bandung secara lantang,” ujarnya.

Jadi, kata Akmal, meskipun negara-negara Asia Afrika tersebut secara prinsip masih memegang teguh nilai-nilai perdamaian, namun bayang-bayang intervensi dan tekanan dari negara-negara besar kerap membatasi ruang gerak diplomasi mereka di panggung internasional.

Di tengah kondisi tersebut, lanjut dia, kita bukan hanya meyakinkan kenyataan yang memilukan, yakni genosida terhadap lebih dari 72.000 orang di Gaza, tetapi juga menyaksikan rusaknya tatanan global, hancurnya situs-situs bersejarah.

Termasuk juga hilangnya jejak peradaban manusia. Ini adalah satu cultural annihilation dan karena itu, prinsip-prinsip yang menjadi bagian integral dari upaya menjaga perdamaian dunia.

Di tengah kondisi tersebut, lanjut dia, kita bukan hanya menyaksikan kenyataan yang memilukan, yakni genosida terhadap lebih dari 72.000 orang di Gaza, tetapi juga menyaksikan rusaknya tatanan global, hancurnya situs-situs bersejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *